Cara Pandang Kita terhadap Bumi – Timor Express

Timor Express

OPINI

Cara Pandang Kita terhadap Bumi

Sebuah Refleksi untuk Hari Bumi

Oleh: Budiyanto Dwi Prasetyo
Peneliti Sosiologi Kehutanan
di Balai Litbang Lingkungan Hidup & Kehutanan Kupang

TANGGAL 22 April 1970, menjadi hari tak biasa di Kota New York, Amerika Serikat. Sebab, pada hari itu, jutaan orang tumpah ruah memadati jalan Fifth Avenue. Mereka berjalan kaki dan meneriakkan yel-yel mengutuk dan mengecam para perusak bumi. Mereka menyuarakan sebuah gerakan yang ditujukan pada semua orang untuk membangkitkan kesadaran dan mengalirkan energi yang dimiliki untukmengatasi isu-isu lingkungan.

Peristiwa itu kemudian selalu diperingati tiap tahun. Bersamaan dengan awal musim semi di Northern Hemisphere (belahan bumi utara) dan musim gugur di belahan bumi selatan. Kita mengenalnya dengan namaHari Bumi!

Adalah senator Amerika Serikat dari Wisconsin dan juga pengajar lingkungan hidup,Gaylord Nelson, yang menjadi otak di balik keriuhan tersebut. Sudah sejak 1969 dia ngotot untuk mewujudkan ide peringatan Hari Bumi. Perjuangannya itu dia rintis pula dengan menyodorkan isu-isu lingkungan hidup untuk diramu menjadi mata ajar-mata ajar ke dalam kurikulum di berbagai perguruan tinggi.

Gayung pun bersambut. Upayanya itu mendapat dukungan dari jutaan orang di Amerika Serikat dan kemudian meluas ke seantero dunia. Meski Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) memakai rujukan Jim McConnel dengan melihat fenomena matahari tepat berada di Kathulistiwa sebagai Hari Bumi Equinock, namun organisasi tersebut belakangan juga merayakan Hari Bumi besutan Nelson pada tiap 22 April dengan nama “International Mother Earth Day.”

Perayaan hari bumi tahun ini bertajuk Trees for the Earth. Melalui website www.earthday.org , gerakan ini mengajak semua orang untuk ikut ambil bagian untuk menanam 7.8 juta pohon, mengurangi penggunaan bahan bakar fosil, membangun kota yang terbarukan, dan menggunakan momentum pertemuan Paris tentang perubahan iklim sebagai titik awal untuk memulainya.

Kiranya, ajakan tersebut sangatlah ambisius dan bersemangat untuk menjadikan bumi tempat tinggal yang lebih nyaman, aman dan terpelihara secara berkelanjutan. Namun, apakah hal ini bisa terwujud? Akankan nasib semangat menggebu untuk memperbaiki bumi akan kandas seperti peringatan hari bumi-hari bumi sebelumnya? Seperti kata pengusaha, sebagai business as usual?

Cara pandang terhadap Bumi
Isu lingkungan memang menjadi hal seksi belakangan ini. orang-orang sepertinya kian menyadari bahwa mereka sedang berada di ambang kehancuran. Hancur, karena rumah yang mereka tinggali memang sudah reyot dan tinggal mengunggu roboh. Rumah itu adalah bumi. Rumah bagi lebih dari 7 milyar jiwa manusia.

Manusia memang dibekali akal dan pikiran untuk bisa bertahan hidup. Namun, manusia juga dibekali emosi dan hasrat untuk berkuasa. Filsuf nihilis Nietzsche menyebutnya sebagai der wille zur macht atau kehendak untuk berkuasa. Maka dari itu, manusia selalu hidup dalam kontradiksi di dalam dirinya sendiri tentang bagaimana dia memandang suatu realitas.

Kemanfaatan atau nilai dari suatu realitas itu akan dievaluasi berdasarkan kemampuan manusia untuk menguasai dirinya dalam memilih, mana yang baik dan mana yang buruk, buat dirinya sendiri atau buat orang lain. Maka dari itu, muncullah berbagai cara pandang yang bervariasi dalam melihat bumi sebagai sebuah entitas yang mendatangkan kemanfaatan tersebut.

Ekonomi Sentris
Pertama adalah cara pandang ekonomi. Bumi diartikan sebagai sebuah komoditi yang dapat dieksploitasi demi keuntungan ekonomi. Ekonom cum filsufAdam Smith adalah orang yang paling bertanggungjawab atas munculnya paham ini. Melalui logika pasar bebas, tanpa campur tangan pemerintah, pertumbuhan ekonomi akan merangkak naik dan menetes ke daerah-daerah disekitar tempat terjadinya perputaran kapital (trickle down effect).

Terkait hubungan pertumbuhan ekonomi dengan isu lingkungan, dalam Jurnal Scientific American, Bahgwati (1993) mengutip hasil studi Grossman & Krueger dari Princenton University yang menyebutkan bahwa di kota-kota di seluruh dunia ditemukan bahwa polusi yang disebabkan sulfurdioksida berkurang seiring dengan bertambahnya penghasilan perkapita penduduk kota-kota tersebut. Meski cukup meyakinkan, namun pada kenyataannya, tingkat pencemaran oleh polutan lainnya di kota-kota dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi terus meningkat. Kondisi Jakarta saja misalnya, sudah diambang pada taraf yang mempirhatinkan.

Kedua adalah neoliberalisme. Sejatinya paham ini setali tiga uang dengan paham ekonomi sebelumnya. Bedanya adalah dibutuhkannya peran negara untuk mendukung pelaksanaan pasar bebas. Paham ini muncul pertama kali saat Pertemuan Paris 1938 diperkenalkan oleh Ludwig von Mises & Friederich Hayek yang merupakan orang buangan dari Austria. Namun neoliberalism menjadi mainstream setelah paham ekonomi neo-klasik Keynesian runtuh pada 1970-an.

Di genggaman Perdana Menteri Inggris, Margaret Tatcher dan Presiden Amerika Serikat Ronald Reagan paham ini mulai berkibar. Kebijakannya adalah pemotongan pajak buat orang kaya, pembekuan serikat-serikat dagang, deregulasi, privatisasi, outsourcing dan kompetisi pelayanan publik, serta menjadikan IMF dan World Bank sebagai alat penekan untuk melaksanakan kebijakan neoliberal bagi negara berkembang (The Guardian, 15 April 2016)

Dampak neoliberalisme di Indonesia terhadap lingkungan sangatlah terang benderang. Yang paling hangat adalah isu reklamasi Teluk Jakarta, Teluk Benoa di Bali, dan Teluk Kupangdi Nusa Tenggara Timur (NTT) yang menguntungkan pengusaha asing maupun lokal. Ditambah lagi eksploitasi mineral tambang yang merusak ekosistem, terutama di dalam kawasan hutan. Lalu, alih fungsi hutan alam menjadi lahan monokultur kelapa sawit. Munculnya pabrik-pabrik milik asing dan segelintir orang kaya baru yang mengendarai mobil dan motor juga menambah kepekatan dan penyebaran polutan di langit nusantara. Belum lagi sampah plastik akibat maraknya pusat perbelanjaan dan gaya hidup konsumerisme turut menambah daftar dosa para neoliberalis.

Ideologi Alternatif
Di bawah dominasi cara pandang manusia terhadap bumi yang ekonomi sentris tersebut, muncul beberapa ideology alternative, yang pada dasarnya merupakan kritik atas hegemoni paham neoliberal. Sebut saja environmentalisme dan  ecofeminisme.

Kritik atas paham ekonomi sentris dalam melihat bumi datang dari kalangan environmentalis. Herman E Daly (1993) melakukan serangan balik atas ide-ide Bahgwati (1993) yang artikelnya juga terbit di dalam Jurnal Scientific American. Menurut Daly, pertumbuhan ekonomi harus dibayar mahal dengan rusaknya lingkungan dan hilangnya kedaulatan negara akibat pasar bebas. Steady-state economics (kestabilan ekonomi) menurutnya adalah solusi bagi kegoncangan ekosistem dan lingkungan yang rusak akibat paham ekonomi sentris itu.

Dalam paham ini, pertumbuhan ekonomi harus dikontrol agar tidak melebihi kemampuan alam untuk menyuplai bahan baku. Jadi, pembangunan yang dilakukan tidak berorientasi pada menanjaknya angka pertumbuhan ekonomi, melainkan pada peningkatan efisiensi penggunaan sumberdaya alam yang ada dalam memenuhi kebutuhan dasar manusia. Cara berpikir ini kemudian dikenal dengan nama “pembangunan berkelanjutan” (sustainable development).

Eksploitasi atas bumi yang membabi-buta telah memunculkan ideology alternative lainnya yakni ecofeminisme. Cara pandang ini menempatkan bumi sebagai “Ibu” atau “perempuan” yang dieksploitasi oleh laki-laki (Gaard, 1993). Hal tersebut dipercaya sebagai bentuk persilangan cara berpikir partiarkhi feudal dengan system ekonomi kapitalistik (neoliberal). Sehingga tindakan sewenang-wenang laki-laki atas perempuan terefleksi melalui eksploitasi “ibu” bumi dan kekayaannya oleh para pemilik modal. Gerakan perlawanan atas ketidak-adilan tersebut dikenal dengan ecofeminisme. Di Nusa Tenggara Timur, wujud ecofeminisme muncul dalam gerakan melawan tambang Marmer di Molo, Kabupaten Timor Tengah Selatan oleh Aleta Baun.

Kendati Indonesia dan juga negara-negara (berkembang) lainnya di dunia mengakui kedigdayaan neoliberalisme, namun tak ada salahnya kita kembali ke hati nurani untuk memilih paham mana yang dapat dipakai untuk menyelamatkan bumi. Hari bumi adalah momentum yang baik untuk menziarahi cara berpikir kita tentang bumi, rumah kita, yang kian reyot dan akan roboh ini. Tak ada salahnya jika kita mengambil cara berpikir alternatif yang dapat merestorasi bumi kita menjadi rumah yang layak huni, nyaman, aman, dan berkelanjutan. Selamat Hari Bumi!



Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!