Penipuan Tiket Promo, Dijerat Pasal Berlapis – Timor Express

Timor Express

KRIMINAL

Penipuan Tiket Promo, Dijerat Pasal Berlapis

RAMAI. Puluhan saksi korban kasus dugaan penipuan tiket promo ala Rosca tampak antre untuk diambil keterangan oleh penyelidik Dit Reskrimsus di Mapolda NTT, Rabu (4/5).

OBED GERIMU/TIMEX
  • Ditahan Polsek Oebobo

KUPANG, TIMEX–Kasus dugaan penipuan bermodus penjualan tiket promo yang diduga dilakukan Rosca Lionita Riwu Kaho, terus ditangani secara intensif oleh penyelidik Dit Reskrimsus Polda NTT. Proses hukum dilakukan setelah puluhan warga Kota Kupang yang mengaku sebagai korban, membuat laporan polisi di SPKT Mapolda NTT pada Selasa (3/5) malam.

Pengambilan keterangan dari para saksi korban yang kebanyakan adalah agen tiket pesawat itu pun terus dilakukan penyelidik hingga Jumat (6/5) kemarin.

Siti Maimuna, salah satu korban yang diwawancarai di Mapolda NTT, mengaku tergiur dengan tiket promo yang ditawarkan Rosca karena lebih murah seratus persen dari harga reguler, untuk penerbangan pergi-pulang (PP).

Siti membeli 625 tiket untuk periode terbang hingga Desember 2016, dengan total harga Rp 800 juta.

“Tiket yang saya beli untuk penerbangan domestik dan manca negara. Dari 625 tiket, baru jalan 200 tiket, dan sisa 425 tiket yang belum jalan. Waktunya sampai Desember,” kata Siti di depan ruang pemeriksaan.

Walau jadwal penerbangan dari sisa tiket yang dibeli masih jauh, namun ia terpaksa melapor polisi karena dalam seminggu terakhir, Rosca terus menunda-nunda jadwal terbang dengan berbagai macam alasan.

“Komunikasi terakhir dengan Rosca pada Senin (2/5). Terus esoknya dia sudah ditangkap polisi, sehingga buat saya makin gelisah karena uang saya sudah keluar banyak,”sebut Siti menambahkan, sejak awal Februari, Rosca yang juga pemilik butik Red Corner, memang lancar mengeluarkan kode booking tiket promonya. Namun sejak Jumat (29/4), kode booking sudah tidak diberikan.

“Biasanya Rosca keluarkan 10 sampai 12 kode booking ke saya, tetapi mulai 29 April cuma tiga saja. Dia bilang gangguan sistem. Sejak Senin (2/5), dia sudah menghilang sampai kami tahu dia sudah ditangkap polisi,” jelas perempuan berhijab itu sambil menunjukkan sistem tiket promo online ala Rosca di ponsel androidnya.

Siti melanjutkan, pada Senin (2/5), sempat dilakukan pertemuan bersama dengan Rosca di Hotel Amaris, kemudian dilanjutkan di Toko Sudi Mampir, milik David Kenenbudi yang juga korban dalam kasus ini. Dan saat itu Rosca berjanji segera mencarikan jalan keluar.

“Saat kumpul, Rosca memang sudah menyerah. Walau dia janji mau kasi solusi tapi kami sudah tidak percaya. Kita marah juga dia diam-diam saja, sampai kita suruh panggil suaminya sehingga kalau mau buat pernyataan mengembalikan berarti suaminya jadi saksi dan turut bertanggung jawab. Waktu di Sudi Mampir kita paksa hadirkan suaminya. Suaminya, pak Uli Riwu Kaho juga datang. Waktu itu mau ditahan polisi tapi suaminya minta waktu untuk didiskusikan di rumah dulu, tapi esoknya kami dengar Rosca sudah ditangkap,” beber Siti.

Siti menambahkan, tiket promo yang dijual Rosca juga untuk penerbangan ke Hongkong, Sidney, Singapura, Kuala Lumpur, dan Brunei dengan harga per tiket berkisar Rp 3,5 juta – Rp 4 juta PP, plus penginapan dan makan.

“Saya beli 80 tiket tujuan Hongkong dengan harga per tiket Rp 3,5 juta. Seharusnya Kamis (5/5) berangkat, tapi sudah begini mau bagaimana lagi,” aku Siti yang juga PNS.

Rosca dalam menjalankan bisnis tiket promo, jelas Siti, pernah cerita kalau bersama salah satu saudaranya di Jakarta.

“Dia pernah tipu saya. Dia tipu mentah-mentah waktu saya tanya siapa yang buat sistem ini. Saya tanya jangan sampai dia yang cetak sendiri, dia bilang tidak. Katanya itu sudah ada memang dari perusahan. Siap apa ini, koq saya bisa kena tipu bodoh-bodoh dari Rosca,” kesal Siti.

Mengenai 80 tiket tujuan Hongkong yang sudah dibelinya, Siti mengaku pernah menghubungi Rosca untuk meminta kode booking, namun Rosca mengaku akan ada tim dari Jakarta ke Kupang yang membawa kode booking sekaligus melakukan briefing, walau ternyata tim itu hanya akal-akalan Rosca.

“Padahal saya mau jemput jam 11 malam, tapi tim itu tidak datang. Gara-gara Rosca, saya juga sudah tidak dipercaya teman-teman yang biasa beli tiket. Mulai sekarang lebih baik beli reguler saya. Mahal tapi pasti,” bilang Siti.

Masih menurut Siti, penjualan tiket promo ala Rosca ini awalnya berjalan lancar, namun baru bermasalah sekira akhir April 2016.

Siti berharap dalam mediasi nanti di polisi, Rosca mau beritikad baik mengembalikan seluruh uang yang diterimanya dengan waktu yang akan disepakati bersama.

Korban lainnya adalah Deny Bangngu. Pria yang bekerja di diler mobil Suzuki Kupang ini mengaku membeli 132 tiket untuk tim pemuda Gereja Adven Kupang yang hendak melakukan perkemahan di Bandung.

“Total uang yang saya setor Rp 44.700.000. Awalnya diserahkan ke ibu Sindi kemudian disetor ke ibu Yuyun dan diterima ibu Rosca. Uang saya kasih sejak Selasa (4/4) hingga Senin (2/5). Karena kasus ini, saya terpaksa ganti uang orang dengan uang pribadi saya Rp 18 juta,” sebut Deny.

Selain Deny Bangngu, ada juga korban lainnnya yaitu Ansi Daud yang kehilangan uang Rp 200 juta karena membeli 100 lebih tiket promo dari Rosca.

Sementara David Kenenbudi, mengaku membeli ratusan tiket dengan total harga Rp 400 juta. David mengaku percaya saat ditawari tiket promo oleh Rosca, karena selama ini ia selalu memesan tiket reguler pada Rosca.

“Selama ini memang tidak pernah ada masalah, sehingga saat ditawari saya percaya saja. Penerbangan tiket promo ini untuk semua maskapai. Kita hanya tunggu kode booking yang dikirim untuk pesawat apa. Sejak awal tidak disampaikan pesawatnya apa,” jelas David yang juga Sekretaris PSMTI NTT itu.Kabid Humas Polda NTT, AKBP Jules Abast yang dikonfirmasi terpisah, membenarkan laporan kasus dugaan penipuan tiket promo sudah diterima dan sedang dalam penyelidikan oleh penyelidik Dit Reskrimsus.

“Kita sedang dalami alat bukti yang ada, karena dari beberapa keterangan saksi yang ada, penipuan ini dilakukan oleh terlapor R (Rosca). R sendiri awalnya dilaporkan di Polsek Oebobo dalam kasus dugaan penggelapan sepeda motor,” kata Jules.

Jules menjelaskan, kasus dugaan penipuan tiket promo yang dilakukan R, tidak dilaporkan di Polsek Oebobo tetapi di Polda NTT. Menurut Jules, terkait pelaporan kasus dugaan penipuan tiket promo, saat ini sedang dipelajari penyelidik, dengan merinci sejauh mana alat bukti yang ada, karena dari hasil sementara penyelidikan dan interogasi terhadap beberapa saksi, diduga R melakukan penjualan tiket murah sejak Februari 2016.

Namun sesuai informasi yang diterima, lanjut Jules, untuk tiket yang ditawarkan sejak Februari sampai awal April tidak bermasalah. Permasalahan baru muncul sejak Jumat (29/4) hingga saat ini.

“Kita duga bukan hanya kegagalan sistem, tapi memang ada unsur penipuan. Ini yang sedang coba kita pelajari terkait kasus penipuan penjualan tiket promo. Dalam kasus ini kita menerima dua laporan polisi dengan terlapor masing-masing R (Rosca) dan Y (Yuyun). Ini sistemnya kaki, semacam agen yang ada. Sedangkan saksi korban sudah 19 orang yang dimintai keterangan,” sebut mantan Kapolres Manggarai Barat itu.

Menyangkut pasal yang disangkakan kepada terlapor, Jules katakan, terlapor dijerat dengan Undang-undang (UU) ITE dan tindak pidana penipuan biasa yang diatur dalam KUHP.

“Kita sedang mempelajari keterkaitannya. Terkait dengan penggunaan media sosial, atau memang ini hanya penipuan biasa saja. Memang kita lagi menelusuri dan menginterogasi terkait penelusuran alat bukti, karena dari saksi-saksi yang ada baru sebatas pengakuan bahwa mereka mentransfer sejumlah uang. Untuk itu harus diklarifikasi kembali dengan alat bukti yang ada, apakah setoran ini hanya sebelum 29 April yang tidak bermasalah, atau keseluruhan yang bermasalah sampai saat ini,”kata mantan Kabid Propam Polda NTT itu.

Jules mengaku penyelidik belum bisa memastikan jumlah keseluruhan uang para saksi korban yang diterima pelapor, karena mengenai jumlah uang hingga saat ini baru sebatas pengakuan.

“Kita tidak mau mendahului yang belum terjadi. Karena untuk penjualan periode Februari-Maret tidak bermasalah. Selanjutnya, penyelidik akan meminjam terlapor R yang saat ini sebagai tahanan Polsek Oebobo, untuk pemeriksaan pelaporan kasus penjualan tiket promo ini,” pungkas Jules.

Informasi lain yang dihimpun Timor Express, jumlah korban kasus tiket promo mencapai seratus lebih orang, dengan jumlah uang yang berhasil diterima Rosca mencapai Rp 10 miliar lebih. Untuk sementara baru terdata 12 orang korban yang pembayarannya mulai Rp 100 juta–Rp 800 juta. Sementara ada 80an korban dengan pembayaran mulai dari Rp 2 juta – Rp 90 juta.

Ada beberapa korban yang sudah berangkat ke luar NTT dengan tiket promo ala Rosca, namun terpaksa pulang dengan membeli tiket reguler. Rosca rupanya hanya memberikan kode booking pergi, dan berjanji akan mengirimkan kode booking pulang, namun itu tidak dilakukan.

Penelusuran Koran ini, diduga untuk menghindari kejaran para korban, sebelum ditangkap, Rosca kerab berpindah-pindah tempat tinggal. Rosca juga disebutkan pernah menginap di Hotel Swiss Bellin dan Hotel Neo dalam waktu lama.

Hingga berita ini diturunkan, Rosca selaku terlapor dalam kasus ini belum berhasil dikonfirmasi karena sudah dalam penahanan penyidik Unit Reskrim Polsek Oebobo. Rosca dititipkan penahanannya di tahanan Mapolres Kupang Kota, karena Polsek Oebobo tak memiliki tahanan khusus perempuan. (joo/boy)



Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!