Jenazah Damaris Neonufa Disambut Isak Tangis – Timor Express

Timor Express

RAGAM

Jenazah Damaris Neonufa Disambut Isak Tangis

MIRIS. Jenazah Damaris Neonufa (24), tenaga kerja undocumented dari Desa Mio, Kecamatan Amanuban Selatan, Kabupaten TTS saat dimasukkan ke mobil jenazah di Bandara El Tari, Sabtu (8/10).

TOMMY AQUINODA/TIMEX

TKI Undocumented  yang Meninggal di Malaysia

KUPANG, TIMEX – Jenazah Damaris Neonufa (24), tenaga kerja undocumented dari Desa Mio, Kecamatan Amanuban Selatan, Kabupaten TTS yang meninggal di Malaysia, akhirnya dipulangkan.

Jenazah yang diterbangkan dari Negeri Jiran itu menggunakan penerbangan Garuda, tiba di Bandara El Tari Kupang, Sabtu (8/10) sekira pukul 15.30.

Saat peti jenazah diturunkan dari pesawat, orangtua korban, Marthen Neonufa dan Welmince Kehi serta keluarga besar yang sudah menunggu sejak pagi, tak dapat membendung air mata.

Isak tangis keluarga semakin terdengar saat peti jenazah tiba di terminal cargo. Terlebih ketika peti jenazah dibuka. Sepintas, wajah korban terlihat utuh.

Selain orang-orang terdekat korban, kedatangan jenazah korban juga disambut oleh anggota DPRD NTT, Jhony Army Konay. Kapolsek Amanuban Selatan, AKP Marthen Isu juga dan beberapa anggotanya juga hadir pada kesempatan itu.

Ayah korban, Marthen Neonufa enggan berkomentar kepada awak media. Dia beralasan masih dalam keadaan duka. Begitu juga dengan keluarga korban lainnnya. Semuanya pada mengelak saat diwawancara dengan alasan tidak tahu persis perihal keberangkatan korban ke Malaysia dan penyebab kematian korban.

Setelah urusan berkaitan dengan penerimaan jenazah selesai, jenazah korban akhirnya diberangkatkan ke kampung halamannya menggunakan mobil jenazah.

Untuk diketahui, Damaris meninggal di Malaysia, pada 14 September 2016 lalu. Namun baru dilaporkan ke KBRI pada 21 September 2016. Mirisnya, keluarga korban baru mengetahui informasi kematian korban pada 28 September 2016. Lambatnya informasi yang diterima keluarga, dikarenakan alamat korban yang tercantum dalam dokumen keberangkatannya, berbeda dengan alamat korban sebagaimana yang tertera dalam Kartu Keluarga (KK). Di dokumen tersebut, alamat korban bukan di Kabupaten TTS, melainkan tercatat nama salah satu kabupaten yang terletak di Pulau Flores. Perbedaan alamat tersebut menyulitkan petugas BNP3TKI untuk melacak keluarga korban.

Seturut pengakuan ayah korban, Marthen Neonufa yang diwawancarai di Sekretariat PIAR NTT, Kamis (6/10) malam, Damaris berangkat ke Malaysia pada September 2012 silam. Sebelum diberangkatkan, korban diimingi pekerjaan dengan gaji yang tinggi oleh perekrut lapangan bernama Abraham Beti. Abraham sendiri masih memiliki hubungan keluarga dengan iparnya Marthen.

Selain menawari pekerjaan dengan gaji yang tinggi, Marthen juga diberi uang sebesar Rp 2 juta oleh Abraham. Namun dia tidak tahu sama sekali, apakah sang anak diberangkatkan secara legal atau ilegal. Selama bekerja di Malaysia, terhitung lima kali korban mengirim uang untuk keluarganya. Sebelum mendapat berita duka, Marthen sempat berkomunikasi untuk terakhir kalinya dengan sang anak pada 9 September lalu. Kepada ayahnya, korban mengabari kalau dirinya sedang sakit.

Kasus ini sendiri telah dilaporkan ke Polda NTT dengan sangkaan pemalsuan dokumen yang dilakukan Abraham Beti. Saat membuat laporan, Marthen didampingi Koordinator PIAR NTT, Sarah Lery Mboeik dan staf PIAR yang bertugas di TTS, Eli Neonufa. Sesuai informasi yang diterimanya, Sarah menyebutkan, korban meninggal akibat meningitis. “Setelah diinvestigasi, PT yang merekrut korban adalah PT BKL (inisial). Direkturnya MOS. Perekrut lapangannya si Abraham Beti,” terang Sarah. (r2/sam)



Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!