Polisi Kejar 2 DPO, 2 Wajib Lapor – Timor Express

Timor Express

KRIMINAL

Polisi Kejar 2 DPO, 2 Wajib Lapor

AKP Lalu Ali Lee

Pengembangan Konflik Berdarah di Lasiana

KUPANG, TIMEX-Kerja keras aparat Polres Kupang Kota melalui Satreskrim untuk menGungkap kasus berdarah di RT 13/RW 03, Kelurahan Lasiana, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang, pada Jumat (7/10) dinihari, perlahan menunjukan titik terang. Sejak kasus ini terjadi akhir pekan lalu hingga kemarin (11/10), penyidik telah menetapkan lima orang sebagai tersangka. Sehari sebelumnya, yang berstatus tersangka adalah enam orang. Namun dalam proses pengembangan penyidikkan, salah satu tersangka yakni Fadli Abdulah alias Ekos hanya dikenai wajib lapor.

Selain itu, masih ada tiga orang lainnya yang diduga ikut terlibat dalam perkelahian antarpemuda ini. Dari tiga orang ini, dua orang masuk dalam daftar pencarian orang (DPO), dan satu orang lainnya dikenai wajib lapor, yakni Jhon Duka. Dengan demikian, dari proses pemeriksaan terhadap 25 saksi yang diamankan aparat sebelum, lima resmi berstatus tersangka, dua orang DPO, dan dua lainnya wajib lapor.

Kapolres Kupang Kota, AKBP Johannes Bangun yang dikonfirmasi koran ini melalui Kasat Reskrim, AKP Lalu Ali Lee, Selasa petang (11/10) menjelaskan, hingga kini pihaknya fokus melakukan pengejaran terhadap dua orang pelaku yang masih buron. “Ya, untuk kasus berdarah di Kos Putri Lasiana itu, kita sementara kejar dua pelaku. Keduanya berinisial G dan P. Sesuai keterangan para tersangka serta saksi yang sudah kita mintai keterangan, G adalah otak dari konflik tersebut sementara P adalah pelaku pembacokan,” beber Lalu.

Menurut Lalu, kelima tersangka yang sudah ditahan di Mapolres Kupang Kota saat ini terus diinterogasi penyidik untuk mencari tahu duduk persoalan sebenarnya hingga pecah perkelahian kelompok pemuda Jumat (7/10) dini hari itu. “Untuk saat ini, memang sudah ada lima orang yang kita tetapkan sebagai tersangka. Tapi, tidak menutup kemungkinan, masih ada penambahan tersangka lain, tergantung keterangan kelima tersangka juga dua DPO yang masih buron sampai saat ini,” kata Lalu.

Mengenai keberadaan dua orang yang masuk DPO (Berinisial G dan P), menurut Lalu, sudah berhasil diidentifikasi keberadannya. Hanya saja, untuk penangkapan masih susah karena kedua pelaku utama itu sesuai keterangan para saksi selalu berpindah-pindah tempat persembunyiannya. “Kita sementara berusaha untuk segera menangkap kedua pelaku utama yang masih DPO itu. Kalau keduanya sudah ditangkap, maka jelas akan ada keterangan baru lagi yang diberikan ketika diperiksa nanti,” pungkas Kasat Reskrim yang baru saja menjabat menggantikan AKP Didik Kurnianto ini.

Sebelumnya diberitakan, Kasat Reskrim AKP Didik Kurnianto, di Mapolres Kupang, Senin (10/10) mengatakan, dari hasil penyelidikan yang sudah dilakukan dengan memeriksa 25 orang saksi baik laki-laki maupun perempuan, pihaknya sudah berhasil mengamankan enam orang. Semuanya berstatus tersangka. “Keenam orang ini sudah berstatus tersangka. mereka dijerat Pasal 170 ayat (1) tentang pengrusakan secara bersama-sama dengan acaman hukuman di atas lima tahun penjara,” kata Didik.

Pihaknya masih fokus melakukan pendalaman dengan memeriksa para tersangka itu. Sejauh mana peranan mereka dalam kasus tersebut.

“Keenam tersangka yang sudah kita amankan ini statusnya sebagai tersangka untuk kasus pengrusakan. Sementara tersangka untuk kasus pembacokan dan penganiayaan, masih dilakukan pendalaman. Kita sudah katongi nama tersangka bacok yang berinisial P,” jelasnya.

Mengenai peran para tersangka, Didik katakan Jhon Dalton Alung dan Gomes Senlau melakukan penganiaya terhadap saksi korban Andianus Yulianus Danisia Panca Putra Boleng. Lalu peran tersangka Grey Lakmau yakni melempari kos Putri milik Demos Rame Hau serta merusak sepeda motor. Tersangka Oseroni Penmabi melempar kos Putri milik Demos Rame Hau dan merusak motor termasuk membawa parang dan mengejar para korban. Selanjutnya, parang yang dibawa Oseroni Penmabi diserahkan ke tersangka berinisial P, lalu pelaku P membacok Xeverianus Lawan Grofa alias Heri Wuran, selanjutnya parang diambil lagi oleh Oseroni Penmabi dan dibuang ke lahan kosong di sekitar TKP. Sementara tersangka Salmoneser Retre Bana, Fadli Abdulah dan Cornelis Lewi Amung berperan melempar kos Putri milik Demos Rame Hau. (gat/aln)

BERSTATUS TERSANGKA:

1. Jhon Dalton Alung, 19, mahasiswa Fakultas Perikanan-UKAW
2. Grey Lakmau, 20, swasta,
3. Oseroni Penmabi, 23, mahasiswa Fakultas Hukum-UKAW
4. Salmoneser Retre Bana alias Bonjos, 22, mahasiswa Fakultas Pertanian-UKAW
5. Cornelis Lewi Amung alias Cor mahasiswa Undana.

Wajib Lapor:

1. Fadli Abdulah alias Ekos, mahasiswa UKAW
2. Jhon Duka.

DPO:

1. G (Inisial)
2. P (Inisial)

Perlu Perketat Pengawasan Kos-kosan
* Permintaan DPRD ke Pemkot

KUPANG, TIMEX-Bentrok antarpemuda di Kelurahan Lasiana menjadi pelajaran penting bagi Pemerintah Kota (Pemkot) Kupang. Aksi kriminal seperti ini juga bukan yang pertama. Aksi barbar ini sudah berulang kali terjadi hingga menyebabkan korban nyawa dan harta benda.

Terkait ini DPRD Kota Kupang angkat bicara.
“Kasus seperti ini sudah berulang kali terjadi sehingga perlu ada keseriusan dalam pengawasan,” ungkap Anggota Komisi I DPRD Kota Kupang, Padron Paulus, di Kupang, Selasa (11/10).

Ia meminta perhatian penuh Pemkot Kupang memanfaatkan peran lurah, RT/RW dan lembaga kemasyarakatan lainnya. Peran RT sangat vital dalam hubungannya dengan ketertiban masyarakat. “RT harus tahu warganya termasuk kos-kosan. Siapa-siapa yang menghuni kos-kosan harus didata,” kata Don -sapaan karib Padron Paulus.
Lebih lanjut, menurutnya, kos-kosan juga harus didata dan pemilik kos-kosan harus tinggal berdekatan dengan kos-kosannya. Atau paling tidak ada penjaganya, sehingga ada tanggung jawab.

Don juga meminta agar jika melakukan kegiatan di kos-kosan harus meminta izin kepada pemilik kos-kosan dan atas izin dari RT setempat. Jika menggelar pesta harus ada izin keramaian. “Kalau begini maka akan terkontrol dengan baik. Tidak semua adakan pesta dengan seenaknya,” katanya.

Apalagi, lanjut politikus Partai Nasdem ini, biasanya saat pesta pasti ada minuman keras. Pasalnya, minuman keras di Kota Kupang dijual bebas dan tak terkontrol dengan baik. Minuman keras juga sering sekali menjadi pemicu terjadinya konflik.

Soal pengamanan di wilayah yang mempunyai banyak kos-kosan atau padat penduduknya, Don mengusulkan perlu ditambah pengamanan. Bahkan pos polisi harus ditambah. Dengan demikian, lurah, RT dan RW serta masyarakat di masing-masing lingkungan selalu berkoordinasi dengan aparat keamanan.

Sebelumnya, anggota DPRD Kota Kupan, Epy Seran mengusulkan agar dibentuk paguyuban kos-kosan. Hal ini dimaksudkan agar pemilik kos-kosan punya pemahaman yang sama dalam pengawasan terhadap kos-kosan. Dengan demikian, ketika ada persoalan, pemerintah tinggal berkoordinasi dengan paguyuban kos-kosan. Dengan demikian, semua kos-kosan juga akan terdaftar dan memudahkan pengawasan. (sam/aln)



Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!