Jonas: Mahasiswa Bikin Onar, Usir – Timor Express

Timor Express

KRIMINAL

Jonas: Mahasiswa Bikin Onar, Usir

Yohanes Keban

Yohanes Keban

Tegaskan Larangan Buat Pesta Wisuda di Oesapa-Lasiana

KUPANG, TIMEX-Pesta syukuran wisuda yang berujung jatuhnya korban jiwa di Kelurahan Lasiana, Jumat dinihari (7/10), disesalkan banyak pihak. Untuk itu, Pemerintah Kota (Pemkot) Kupang mengambil langkah tegas dengan melarang diadakan pesta syukuran wisuda, khusus di wilayah Keluarahan Oesapa dan Lasiana yang menjadi basis pemondokan/kos-kosan mahasiswa.

Larangan ini diuangkapkan Wali Kota Kupang ketika hadir dalam penyerahan bantuan sarana perikanan kepada nelayan, di Oesapa, Rabu (12/10).

Dalam kesempatan itu Jonas mengatakan, semua persoalan berkaitan dengan infrastruktur dan kesejahteraan masyarakat di Kelurahan Oesapa sudah bisa diatasi. Satu-satunya persoalan yang belum teratasi, yakni berkaitan dengan keamanan dan ketertiban masyarakat.

Mengingat konflik berdarah terus berulang di Oesapa, Jonas dengan tegas mengatakan, pemerintah terpaksa membuat kebijakan baru berkaitan dengan penyelenggaraan pesta. Pemerintah, demikian Jonas, melarang mahasiswa yang tinggal di pemondokan/kos-kosan untuk membuat pesta apa saja, termasuk pesta wisuda. “Saya sudah ambil kebijakan untuk melarang pembuatan pesta wisuda. Ini berlaku bagi mahasiswa yang tinggal di kos, yang pemilik kosnya tidak berada di situ. Kecuali anak Oesapa yang tinggal dengan orangtua,” ujarnya.

Jonas menyarankan, asrama mahasiswa milik pemerintah daerah, tidak lagi hanya mengakomodir mahasiswa yang berasal dari daerah-daerah tertentu. Sebaliknya, mahasiswa yang tinggal di asrama pemda harus ada pembauran. Misalnya, Asrama Pemda Alor harus juga menerima mahasiswa dari luar Kabupaten Alor untuk tinggal di asrama tersebut. “Kalau satu asrama dihuni mahasiswa yang berasal dari daerah yang sama, maka akan muncul ego kedaerahan yang selanjutnya memicu konflik,” katanya.

Jonas juga meminta peran serta para Ketua RT/RW untuk mengawasi kegiatan mahasiswa yang tinggal di kos-kosan. Ketua RT/RW, kata dia, tidak boleh takut dengan mahasiswa. Bila tidak mengindahkan aturan, Ketua RT/RW berhak mengusir mahasiswa yang bersangkutan. “Masa Ketua RT takut sama mahasiswa. Kalau dia buat onar, usir dia. Dan saya minta, ini konflik berdarah ini yang terakhir terjadi di Oesapa,” tegas Jonas.

Sementara itu, Lurah Oesapa, Yohanes Keban mengatakan, pihaknya sebenarnya sudah membuat satu terobosan dari jauh-jauh hari untuk menciptakan keamanan dan ketertiban di beberapa RT yang padat permukiman pemondokan. Yang mana, dia pernah mengeluarkan SK Pembentukan Satuan Kemanan Ketentraman dan Ketertiban (Satkamtrantrib) untuk mem-back up Peraturan Walikota Nomor 16 Tahun 2016 tentang Kamtibmas. “Untuk mem-back up Perwali, kita bentuk satuan keamanan (Satkamtrantib) di tingkat RT. Jadi mereka dibiayai secara swadaya oleh masyarakat. Terkait pembentukan Satkamtrantib, kita sudah sosialisasikan dan rapat dengan tokoh-tokoh masyarakat,” kata John, sapaan karib Yohanes Keban.

John menambahkan, di tahun 2011, saat dirinya menjabat sebagai Sekretaris Kelurahan Oesapa, pihak kelurahan sudah membuat pertemuan di Kantor Lurah dan di Gereja Diaspora. Dalam pertemuan tersebut, pemerintah kelurahan mengarahkan agar asrama pemda tidak boleh menerima mahasiswa dari satu etnis saja. “Kita sudah arahkan semuanya itu. Tetapi belum diindahkan. Oleh karena itu, kuncinya sekarang adalah bagaimana kita terapkan sanksi. Percuma kalau kita hanya buat aturan, tanpa diikuti sanksi yang tegas,” katanya sembari menegaskan akan menindaklanjuti arahan wali kota. (r2/aln)



Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!