Bebaskan NTT dari Kemiskinan – Timor Express

Timor Express

RAGAM

Bebaskan NTT dari Kemiskinan

Konferensi Perempuan Digelar di NTT

KUPANG, TIMEX-Dalam rangka memperingati Hari Penghapusan Kemiskinan Internasional (HPKI) yang jatuh pada 17 Oktober 2016, Komnas Perempuan menggandeng sejumlah lembaga seperti BAKTI dan Forum Pengadaan Layanan, menggelar Konferensi Perempuan Timor. Konferensi ini digelar selama dua hari, mulai Senin hari ini (17/10) dan berakhir Selasa (18/10).

Demi suksesnya konferensi ini, Komnas Perempuan juga bekerjasama dengan pemerintah daerah dan didukung LSM Mampu.

“Konferensi ini akan dipetakan jalan keluar bagi masalah-masalah kemsikinan, khususnya kemiskinan pada kalangan perempuan di NTT,” ungkap Ketua Panitia Konferensi Perempuan Timor, Lusia Palulungan kepada wartawan di kantor Lembaga Rumah Perempuan Kupang (RPK), Jumat (14/10).

Lusia mengatakan, kegiatan ini akan tampil menghadirkan sejumlah narasumber yang memaparkan tentang penanggulangan kemiskinan bagi perempuan. Para narasumber datang dari berbagai latarbelakang seperti DPRD, pemerintah baik tingkat nasional, provinsi maupun kabupaten/kota, dan juga dari masyarakat sipil atau organisasi perempuan.
Memasuki hari kedua, kata Lusia, para aktivis perempuan dari berbagai LSm akan berbicara tentang pengalaman mereka dalam hal penanggulangan kemiskinan yang berbasis perempuan. Selanjutnya, hasil diskusi ini akan dirumuskan dan akan menjadi rekomendasi.

Dari rekomendasi tersebut akan muncul berbagai langkah solusi yang akan ditindaklanjuti oleh pemerintah daerah maupun pemerintah pusat termasuk lembaga-lembaga masyarakat sipil. “Kami berharap melalui rekomendasi yang dilahirkan dari konferensi tersebut bisa menambah perspektif aparat negara maupun wakil rakyat untuk mereview kebijakan untuk penanggulangan kemiskinan,” kata Lusia.

Sementara itu, Indriyati Suparno dari Komnas Perempuan mengatakan, kegiatan konferensi ini diselenggarakan di Belu-NTT karena ada alasan yang mendasar. Pasalnya, berdasarkan data BPS, kemiskianan di NTT cukup tinggi. NTT masuk urutan ketiga kemiskinanan dari 10 provinsi termiskian di Indonesia tahun 2015. “Ini artinya sangat relevan kalau berbicara kemiskinan di NTT,” kata Indriyati.

Ia menyebutkan, sesuai data BPS Kabupaten Belu, pada tahun 2014 jumlah penduduk miskinnya mencapai 54 ribu jiwa dari total penduduk 201.734 jiwa atau sekitar 25 persen. Oleh karena itu, topik kemiskinan ini diangkat sebab kemiskinan berkaitan erat dengan persoalan kekerasan terhadap perempuan.

Selain itu, sebut Indriyati, Belu juga dipilih karena merupakan daerah perbatasan antarnegara. Belu menjadi wilayah terluar dan berdekatan dengan negara lain sehingga diyakini memiliki problem dan karakteristik tersendiri. Apalagi Belu berbatasan langsung dengan Timor Leste yang diketahui masih menyisakan berbagai persoalan kerentanan perempuan yang menjadi korban, dan juga masih banyak kelompok masyarakat khususnya perempuan yang belum mendapat hak pemulihan paska konflik yang terjadi. “Persoalan seperti ini yang menjadi perhatian kami untuk diketahui dan kemudian dianalisis guna strategi apa yang akan dibuat,” katanya.

Sedangkan Direktris RPK, Libby Sinlaeloe mengatakan, melalui konferensi lembaga-lembaga ini saling berkoordinasi untuk membangun strategis bersama menanggulangi kemiskinan di NTT. “Sesuai data penanganan kekerasan terhadap perempuan yang ditangani oleh Lembaga Rumah Perempuan selama enam bulan di 2016 sudah sebanyak 134 kasus, sehingga ini juga menjadi perhatian pemerintah nantinya,” kata Libby. (sam/aln)



Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!