KPK Usut 20 Anggota Komisi V Yang Terima Suap – Timor Express

Timor Express

NASIONAL

KPK Usut 20 Anggota Komisi V Yang Terima Suap

KORUPSI. Mantan anggota Komisi V DPR, Damayanti Wisnu Putranti saat berada di mobil tahanan KPK belum lama ini. Dia terlibat kasus suap proyek Komisi V.

JPNN.COM

Terkait Proyek PUPR di Maluku dan Maluku Utara

JAKARTA, TIMEX – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terus mendalami 20 anggota Komisi V DPR RI yang diduga menerima suap dalam proyek pembangunan jalan yang ditangani Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR). Saat ini, baru tiga legislator yang dijerat komisi antirasuah.

Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan menyatakan komisinya akan mendalami keterlibatan para anggota Komisi V dalam perkara suap itu. Penyidik masih terus mengumpulkan bukti untuk membongkar kejahatan yang dilakukan berjamaah itu. “Masih proses, belum ada tersangka baru,” terang dia kemarin (29/10).

Mereka yang diduga terlibat akan dipanggil untuk dimintai keterangan. Selama ini, KPK sudah sering memanggil anggota Komisi V untuk diperiksa. Jika memang ada alat bukti yang kuat, nama-nama yang terlibat akan dijadikan tersangka. Basaria menyatakan, penyidik masih bekerja keras untuk menuntaskan kasus yang melibatkan banyak pihak itu.

Sebelumnya, setelah dilakukan pemeriksaan pada Jumat (28/10), melalui kuasa hukumnya, mantan Kepala Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) IX Amran H. I. Mustary menyebutkan ada 20 anggota Komisi V yang menerima suap. Uang panas itu diberikan ketika mereka melakukan kunjungan kerja ke Maluku.

Hendra Karianga, kuasa hukum Amran menyatakan, ada 20 anggota Komisi V yang pernah melakukan kunjungan kerja ke Maluku. Selain kunker, mereka juga menerima suap. “Mereka semua menerima uang dari Pak Amran dan Abdul Khoir (Direktur PT Windhu Tunggal Utama),” ucapnya.

Dia pun menyebutkan beberapa nama. Diantaranya, Michael Wattimena (Wakil ketua Komisi V), Elion Numberi, dan Damayanti Wisnu Putranti. “Ada nama lagi, tapi Pak Amran nggak tahu namanya,” papar dia. Ia menegaskan 20 anggota Komisi V yang melakukan kunker semuanya menerima uang. Saat itu, hanya dua orang yang tidak ikut kunker.

Hendra menyatakan, kliennya membagi uang Rp 445 juta kepada para legislator itu. Ketua menerima Rp 50 juta, dan yang lainnya menerima Rp 35 juta. Selain menerima melalui Amran, ada pula anggota dewan yang menerima uang panas itu lewat Abdul Khoir. Ia tidak bisa menyebutkan siapa saja yang menerima dari Abdul Khoir.

Menurut dia, seharusnya tidak hanya Damayanti, Budi Supriyanto dan Andi Taufan Tiro saja yang dijerat KPK, semua anggota yang ikut kunker harus diproses. “Mereka ikut menerima. Semuanya harus diproses,” ungkanya. 20 orang itu tidak hanya anggota, tapi juga pimpinan komisi.

Dalam penganggaran proyek itu, komisi V ikut cawe-cawe dalam penentuan anggaran. Hendra mengatakan, seharusnya usulan proyek itu tidak masuk dalam anggaran pendapatan belanja negara (APBN), rencana pembangunan jangka menengah (RPJM), dan tidak masuk dalam musyawarah rencana pembangunan (musrenbang). “Mereka potong kompas,” terang dia.

Menurutnya, proyek itu merupakan program pemerintah pusat. Jadi, siapa saja kepala Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) IX pasti akan tersangkut. Dari sisi struktural, pejabat yang menduduki posisi seperti kliennya pasti akan takut jika tidak mengikuti perintah dari atas. Pejabat yang di level bawah pasti akan mengikuti.

Terkait dengan ancaman yang ditujukan kepada Amran, Hendra menyatakan, sebelumnya kliennya sering dihubungi pihak-pihak yang berkepentingan. Mereka meminta agar tidak membuka semua perkara itu. “Mereka mengatur begini- begitu. Tapi saya bilang buka semua saja,” ucapnya.

Kasus itu harus dibongkar, sehingga semua pihak yang terlibat harus dijerat KPK. Jangan sampai hanya segelintir orang saja yang dikorbankan. Mereka yang menerima harus mempertangungjawabkannya. Walaupun diintimidasi, kliennya akan tetap membuka semuanya kepada penyidik.

Dalam perkara tersebut, KPK telah menetapkan beberapa orang sebagai tersangka. Yaitu, Amran, Damayanti (anggota komisi V) serta dua stafnya, Dessy A Edwin dan Julia Prasetyarini. Ada juga Budi Supriyanto (anggota komisi V), dan Andi Taufan Tiro (anggota komisi V), serta Abdul Khoir. (lum/jpg/sam)



Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!