9 Jam Diperiksa, Ahok Bungkam – Timor Express

Timor Express

HUKUM

9 Jam Diperiksa, Ahok Bungkam

AHOK DIPERIKSA. Gubernur DKI Jakarta nonaktif Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) usai diperiksa Bareskrim di Mabes Polri, Jakarta, Senin (7/11).

MIFTAHULHAYAT/JAWA POS

JAKARTA, TIMEX-Pemeriksaan Gubernur DKI Jakarta non aktif Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok berjalan sembilan jam. Sayangnya, pasca pemeriksaan Ahok berprilaku tidak seperti biasanya. Dia hanya mengucapkan empat kalimat yang sama sekali tidak menyentuh esensi pemeriksaan kasus dugaan penistaan agama. Sedangkan, Bareskrim Polri mendalami kemungkinan perubahan makna ketika video Ahok dipangkas.

Ahok yang mengenakan batik warna coklat tiba di Gedung Utama Mabes Polri pukul 08.15. Dia hanya melempar senyum pada semua awak media yang menunggunya. Lantas, dia masuk ke Gedung Utama. Berulang kali, saat tengah hari sejumlah ajudan Ahok menunjukkan gerak-gerik seakan-akan mantan Bupati Belitung itu akan keluar.

Namun, ternyata pemeriksaan berlanjut hingga sore hari. Sekitar pukul 16.30, barulah dipastikan Ahok selesai diperiksa sebagai terlapor. Dia didampingi sejumlah orang, diantaranya Juru Bicara Ahok Ruhut Sitompul dan Kuasa Hukumnya Sirra Prayuna.

Sirra menuturkan, kali ini merupakan pemeriksaan kedua. Untuk pemeriksaan kedua ini ada 22 pertanyaan yang diajukan. Ditambah dengan 18 pertanyaan pada pemeriksaan pertama, maka total pertanyaan yang diajukan ke Ahok menjadi 40. ”Semua berjalan lancar, Ahok menjawab semua pertanyaan dengan baik,”ujarnya singkat.

Sementara, Ahok yang kemudian mengambil arah pembicaraan justru sikapnya berubah, tidak seperti biasanya yang terbuka dalam berkomentar. ”Saya kira semua sudah jelas, kalau mau tanya yang lain ke penyidik. Saya mau pulang, lapar,”ujarnya. Tidak ada satu pun pertanyaan awal media yang dijawab.

Sementara Juru Bicara Divhumas Mabes Polri Kombespol Rikwanto mengatakan, awalnya penyidik memeriksa soal tujuan dan maksud kedatangan Ahok ke Kepulauan Seribu. ”Ternyata, maksudnya ke Kepulauan Seribu itu menyampaikan perkembangan program perikanan,”jelasnya.

Namun, dalam penyampaian di pulau tersebut, ternyata dalam prosesnya Ahok mengucapkan beberapa hal. Ucapan itu kemudian disunting dan ternyata menjadi viral. ”Jadi, ada kesan seolah-olah penistaan agama,”ungkapnya.

Bukankah hanya pemotongan durasi video, bukan editing yang dilakukan Buni Yani? Rikwanto menjawab bahwa editing video berupa pemotongan durasi dari yang satu jam menjadi beberapa menit. ”Diambil penggalan saja,”ujarnya.

Namun, kalau ditanya, apakah pemotongan durasi itu kemudian mengubah makna atau tidak, Dia mengaku tidak bisa menjawabnya. ”Yang jelas berbeda, kalau di video itu ada kata ‘pakai’. Tapi, dalam transkip tidak ada kata ‘pakai’. Nanti yang akan mengulas adalah saksi ahli,”terangnya.

Rencananya, gelar perkara ini akan dijadwalkan pekan depan. Soal mekanismenya, saat ini semua sedang digodok. ”Inikan baru pertama kali, maka perlu diatur dulu. Lalu, soal landasan hukumnya sudah ada. Tidak ada larangan gelar perkara terbuka,”ujarnya. (idr/dod/byu/jpnn/boy)

Buni Yani: Saya Bersumpah

BUNI Yani memastikan bahwa dirinya bukan pengupload pertama video dialog Gubernur DKI (nonaktif) Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok di Pulau Seribu. Buni Yani mengaku tidak memiliki kemampuan, alat, waktu dan kepentingan khusus untu mengedit sebuah video. Ia pun mengaku hanya me-reupload video tersebut dari media NKRI.

“Saya bukan orang pertama yang upload. Saya dapat dari NKRI,”ujar Buni Yani saat konferensi pers bertajuk ‘Save Buni Yani’ di Wisma Kodel, Jalan Rasuna Said, Kuningan, Jakarta, Senin (7/11). Buni Yani juga membantah bahwa dirinya dengan sengaja telah menghilangkan sebagian dari isi video tersebut. Ia bahkan bersumpah dengan menyebut nama Tuhan untuk membuktikan perkataannya itu benar. “Saya bersumpah demi Allah, saya tidak mengubah apa-apa dalam video tersebut. Karena saya tahu itu (akan jadi) fitnah,”pungkasnya.

Sementara kuasa Hukum Buni Yani, Aldwin Rahadian, menegaskan kliennya tidak pernah mengedit video pernyataan Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) di Kepulauan Seribu tentang Surat Al Maidah 51 beberapa waktu lalu.

Aldwin menyatakan bahwa postingan yang diunggah di akun facebook Buni murni seperti video yang beredar di berbagai media. “Saya ingin sampaikan bahwa Pak Buni Yani ini tidak pernah mengedit video apalagi mengutak-atiknya. Video yang selama ini viral adalah video yang banyak beredar pula di berbagai media. Pak Buni hanya membuka opini kepada masyarakat apakah yang dilakukan Ahok itu merupakan penistaan agama,”ujar Aldwin dalam konferensi pers di Wisma Kodel, Kuningan, Jakarta Selatan, Senin (7/11).
Aldwin mengatakan, kliennya saat ini kian terpojok dengan upaya penggiringan opini publik soal editan video tersebut. Ia menegaskan kembali bahwa Buni hanya mengupload ulang video yang didapat dari media yang bernama NKRI.

“Pak Buni hanya mengupload video yang berdurasi 31 detik tentang dugaan penistaan agama yang dilakukan Ahok di Pulau Seribu. Jadi video 31 detik sudah ada duluan, dan akun yang mengupload pertama kali NKRI.”

“Kan sudah jelas di bawahnya, dia tulis bukan transkrip. Kalau transkrip itu dari awal sampai akhir harus utuh atau dia tulis ini transkrip Ahok. Yang dia hanya tulis pendapat pribadinya. Ini penistaan agama, tanda tanya (?),” tutup Aldwin. (wid/rmo/mg5/JPNN/boy)

Jokowi: Gelar Perkara Dibuka Saja

SEMENTARA itu, Presiden Joko Widodo menyatakan bahwa dia memang menyuruh Kapolri membuka gelar perkara dalam kasus Ahok. ’’Tetapi kita juga harus lihat apakah ada aturan hukum undang-undang yang memperbolehkan atau tidak,’’ujarnya usai meninjau progres pembangunan jalan tol di Jakarta Timur kemarin (7/11). Sebelumnya, tidak pernah ada gelar perkara sebuah kasus yang dilakukan secara terbuka. ’’Kalau boleh saya minta dibuka biar tidak ada syak wasangka,’’lanjutnya. Masyarakat bisa mengetahui bagaimana perkembangan proses hukum terhadap Ahok.

Kemarin Jokowi juga mengunjungi sejumlah pihak yang berkaitan dengan aksi demonstrasi 4 November lalu. Dimulai dari Mabes TNI AD. Di lokasi tersbeut, Presiden mengapelkan 2.185 pasukan yang terlibat dalam pengamanan aksi demonstrasi. Dia mengapresiasi kerja keras para prajurit dalam mengamankan jalannya aksi sehingga berlangsung damai sampai selesai.

’’Saya yakin bukan hanya saya, namun seluruh rakyat Indonesia memberikan apresiasi atas soliditas, kekompakan, dan penggunaan caracara persuasif,’’tuturnya. Dia ingin TNI dan Polri menjadi agen utama dalam mempersatuakan bangsa Indonesia yang terdiri dari 17 ribu pulau, beragam suku, ras, dan agama.

TNI dan Polri diminta untuk tidak ragu-ragu bertindak untuk menjaga keutuhan bangsa. ’’Sebagai panglima tertinggi TNI, saya telah memerintahkan agar tidak mentolerir gerakan yang ingin memecah belah bangsa, mengadu domba bangsa dengan provokasi dan politisasi,’’tegasnya.

Disinggung mengenai aktor politik yang dituding melakukan provokasi, Jokowi menjawab diplomatis. ’’Nanti kita lihat, nanti kita lihat,’’ucap Kader PDIP itu. Begitu pula saat sorenya Jokowi mengunjungi kantor PBNU. Dia diterima oleh Rais Aam PBNU KH MA’ruf Amin dan Ketua Umum Tanfidziyah NU KH Said Aqil Siroj. Dia mengapresiasi NU yang menjadi penyangga utama NKRI dan Pancasila. Khususnya, yang berkaitan dengan toleransi dan persatuan bangsa.

Selain itu, dia mengapresiasi jajaran PBNU atas pernyataan-pernyataan yang mampu mendinginkan suasana. ’’Sehingga demo 4 Nvember kemarin sampai sore berjalan dengan baik dan damai,’’terang mantan Gubernur DKI Jakarta itu.

Sementara itu, Said Aqil secara terbuka melontarkan kritik atas pernyataan Jokowi yang menyebut kerusuhan usai aksi demo ditunggangi aktor politik. ’’Tidak tepat untuk menstigma bahwa aksi damai 4/11 ditunggangi oleh kelompok-kelompok tertentu,’’ujarnya. Menurut dia, lebih baik aksi demonstrasi tersebut menjadi pelajaran bagi semua pihak. (idr/dod/byu/jpnn/boy)



Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!