Presiden Tidak Akan Lindungi Ahok – Timor Express

Timor Express

NASIONAL

Presiden Tidak Akan Lindungi Ahok

KE MUHAMMADIYAH. Presiden Joko Widodo saat melakukan pertemuan dengan Pimpinan Muhammadiyah di Jakarta, Selasa (8/11/16).

FEDRIK TARIGAN/JAWA POS

Roadshow Presiden Dinginkan Suasana

JAKARTA, TIMEX-Aksi demonsrasi akbar 4 November secara umum berlangsung damai hingga waktu unjuk rasa selesai pukul 18.00. Hal itu sempat dinilai berasal dari dua faktor. Pertama, faktor kedewasaan demonstran dan kedua, konsolidasi yang dilakukan Presiden Joko Widodo dengan sejumlah pihak. Roadshow Jokowi dimulai saat mengunjungi kediaman Ketum Partai Gerindra Prabowo Subianto 31 Oktober lalu. Meskipun awalnya disangkal Jokowi, namun Prabowo mengakui ada sedikit pembahasan mengenai aksi tersebut. Keduanya sepakat menginginkan aksi berjalan damai. Sehari kemudian, Jokowi bertemu dengan para pimpinan MUI, Muhammadiyah, dan NU di Istana Merdeka. Salah satu isi pembicaraannya adalah bagaimana menjadikan suasana demonstrasi tetap sejuk dan massa tidak mudah terprovokasi.

Sehari menjelang aksi demonstrasi, Jokowi berbincang dengan Wapres Jusuf Kalla di beranda belakang Istana Merdeka. Keduanya sepakat tetap bekerja seperti biasa di hari demonstrasi. ’’Pak Jokowi di sini, saya di sebelah (kantor wapres),’’ujar JK.

Namun, ternyata pada hari H, siangnya Jokowi malah meninggalkan Istana menuju kawasan bandara Soekarno-Hatta dengan alasan meninjau proyek. Malamnya, barulah Jokowi menggelar rapat terbatas dan membuat pernyataan publik tepat tengah malam.

Roadshow berlanjut, Senin (7/11), Jokowi mengapelkan para prajurit TNI yang terlibat dalam pengamanan demonstrasi. Disusul kemudian kunjungan balasan ke kantor PBNU. Kemarin pagi (8/11) Jokowi kembali mengadakan roadshow konsolidasi. Kali ini, dia hadir di auditorium Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) di Jakarta Selatan. Jokowi mengapresiasi kinerja aparat kepolisian selama mengamankan aksi.

Mengenai aktor politik, dia menuturkan bahwa siapa aktor politik yang menunggangi aksi 4 November tentu akan diungkapkan ke publik. Namun, dengan catatan kalau Polri sudah mendapatkan buktinya. ”Proses hukum juga akan dilakukan,”ujarnya.

Namun begitu, untuk demonstrasi seperti 4 November tentu perlu pendekatan persuasif. Dia mengatakan, perlu berbagai penjelasan terkait demonstrasi 4 November. ”Kedepan soal demo itu juga perlu untuk memperkirakan jumlah pesertanya,”ungkapnya. Secara umum, Jokowi memberikan apresiasi terhadap kinerja TNI dan Polri. Usai dari sana, Jokowi bergeser ke gedung Pusat Dakwah Muhammadiyah di kawasan Menteg, Jakarta Pusat. Dia diterima oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir dan Sekretaris Umum Abdul Mu’ti. Seperti sebelumnya, Jokowi juga membicarakan persoalan aksi demonstrasi 4 November lalu.

Usai pertemuan tertutup sekitar satu jam, Jokowi mengungkapkan apresiasinya atas peran Muhammadiyah dalam menyejukkan suasana jelang demo akbar 4 November lalu. Saat itu Jokowi kembali memastikan bahwa proses hukum terhadap Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) akan dilakukan dengan tegas dan transparan. ’’Saya tekankan bahwa saya, sekali lagi ini juga rakyat perlu tahu, tidak akan melindungi… saudara Basuki Tjahaja Purnama karena sudah masuk proses hukum,’’ucapnya. Jokowi mengambil jeda cukup lama, sekitar tujuh detik sebelum akhirnya menyebut nama Ahok.

Di luar itu, Jokowi mengatkan bahwa dia juga membicarakan soal ekonomi kerakyatan dan politik Islam. Rencananya, pemerintah akan bekerja sama dengan Muhammadiyah dalam hal membangun politik Islam di Indonesia.

Disinggung mengenai kritikan PBNU soal lambannya menjalin komunikasi, Presiden tidak menampiknya. Menurut dia, itu merupakan masukan yang baik. ’’Saya kira saya manusia biasa, yang penuh dengan kesalahan, yang penuh dengan kekurangan,’’tambahnya.

Sementara itu, Wakil Presiden Jusuf Kalla menuturkan bahwa pemerintah memang terus menjalin komunikasi dengan para ulama. Bahkan, sebelum aksi masa pada Jumat (4/11) itu juga sudah mengundang para ulama dari MUI, NU, dan Muhammadiyah. Dia pun menepis anggapan kalau pemerintah terlambat menggandeng ulama sehinga aksi tersebut tetap berjalan. Di sisi lain, Wakil Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa Majelis Ulama Indonesia (GNPF MUI) Muhammad Zaitun Rasmin menuturkan mereka masih menunggu terus kelanjutan penyelidikan kasus Ahok. Hasil dari penyelidikan itu akan menentukan sikap GNPF MUI selanjutnya. Tapi, kini mulai muncul lagi suara untuk menggelar aksi kembali bila tuntutan untuk menyeret Ahok ke meja pengadilan tidak terwujud.

Terpisah, Ketua Umum Muslimat NU Khofifah Indar Parawansa menuturkan mereka akan terus menyuarakan toleransi yang juga disebutkan dalam kitab suci Al Quran. Dia menyebutkan perbedaan di kalangan umat itu bukan untuk dibesar-besarkan yang akhirnya memicu konflik. Tapi, berbedaan itu justru harus dijadikan dasar untuk saling berlomba dalam melakukan kebajikan. Di sisi lain, Polri memastikan sudah mengetahui rencana aksi demonstrasi berikutnya pada 25 November mendatang. Hingga saat ini pun, belum ada satu pun surat pemberitahuan yang masuk ke Polri mengenai rencana aksi tersebut. Terpisah, Menkopolhukam Wiranto menolak menjabarkan lebih jauh siapa yang dimaksud Presiden sebagai aktor politik dalam aksi demonstrasi tersebut. Saat hari H demonstrasi, ada sosok Fadli Zon dan Fahri Hamzah yang terlibat dalam aksi. Keduanya bahkan berada di atas mobil komando bersama Imam Besar FPI Rizieq Shihab. Selain keduanya, tampak sosok Amien Rais. (byu/idr/jun/jpnn/boy)



Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!