Urusan Pariwisata Jangan Terbelit Birokrasi – Timor Express

Timor Express

EKONOMI BISNIS

Urusan Pariwisata Jangan Terbelit Birokrasi

SEMINAR.Ketua Fraksi Nasdem DPR RI Viktor Bungtilu Laiskodat (berdiri) saat berbicara pada seminar bertajuk Mewujudkan NTT sebagai New Tourism Territori yang berlangsung di Swiss Belinn Kristal Hotel Kupang, Rabu (9/11).

CARLENS BISING/TIMEX

Bungtilu: Gubernur NTT Perlu Belajar dari Bupati SBD

KUPANG, TIMEX-Urus pariwisata ibarat mengurus orang-orang untuk bersenang-senang. Harus yang indah-indah dan tidak terbelit kerumitan birokrasi.

Demikian kata Asisten Deputi Pengembangan Infrastruktur dan Ekosistem Pariwisata Kemnpar RI, Frans Teguh dalam seminar Nasional Pembangunan Pariwisata NTT, di Ballroom Swiss-Belinn Kristal Hotel Kupang, Rabu (9/11).

“Yang paling penting bagi kita adalah mengkreate experience (pengalaman). Dari dia tiba di bandara sampai di pulang. Jadi indikatornya, berapa yang datang dan berapa yang datang kembali,” kata Frans dalam seminar bertajuk Mewujudkan NTT sebagai New Tourism Territori yang digelar Harian Umum Victory News Kupang itu.

Menurut putra NTT asal Kabupaten Ende itu, untuk mencapai harapan di atas, pemerintah harus berkomitmen untuk menjadikan pariwisata sebagai pusat pertumbuhan ekonomi, dengan berbagai konsekwensinya.

Setelah komitmen itu dibangun, perhatian pemerintah akan fokus pada pembangunan berbagai sektor yang mendukung kepariwisataan. Salah satunya adalah dengan memperbanyak sarana pendidikan kepariwisataan di daerah-daerah yang memiliki keunggulan di bidang pariwisata.

“Dan, kita harus siap menyambut mereka, tidak boleh terbelit dengan birokrasi kita. Harus birokrasi pariwisata, kita harus respek dengan birokrasi wisatawan,” kata Frans dalam seminar menghadirkan Ketua Fraksi Nasdem DPR RI Victor Bungtilu Laiskodat, Akademisi Prof.Daniel Kameo, Direktur Komersial PT.Angkasa Pura I Moch Asrori, Bupati Alor Amon Djobo dan Eden Klakik dari Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif NTT.

Frans kembali tegaskan, mengurus pariwisata tidak sekadar konsep atau perencanaan, namun harus diimplementasikan. Dan, para kepala daerah harus menjadi Chief Executive Officer (CEO) di daerah masing-masing dalam mengelola destinasi-destinasi wisatanya.

Sementara Viktor Laiskodat dalam paparannya mengatakan, kemiskinan di NTT yang sudah bertahun-tahun belum teratasi oleh para kepala daerah sudah saatnya diputus. Dan, alat untuk memotong kemiskinan adalah pariwisata.

Menurut politikus asal NTT itu, kemiskinan di NTT yang dibelit oleh mata rantai itu sangat tepat dientaskan dengan menjadikan pariwisata sebagai lokomotif pembangunan ekonomi di daerah ini. Karena dengan membangun pariwisata, semua sektor akan dengan sendirinya terbangun.

Sayang, Bungtilu mengaku belum melihat adanya keseriusan pemerintah daerah NTT dalam mengembangkan kepariwisataan. Salah satu contohnya adalah ketersediaan transportasi untuk merangkai dan menyambung daratan yang terpisah oleh laut yang dikenal dengan Flobamorata itu. Bungtilu kembali mengungkit “cincin emas” NTT, yakni transportasi laut dan udara yang menghubungkan pulau-pulau besar dan kecil di NTT dari Tikor, Rote, Sabu, Sumbat, Flores, Lembata, Alor hingga kembali ke Timor.

“Kemarin saya tanya, Kepala Dinas Pariwisata (NTT) punya kapal atau tidak? Katanya tidak ada. Nah lho, ini provinsi kepulauan. Harusnya kepala dinas punya kapal sendiri supaya bisa kunjungi dari pulau ke pulau,” kritik Bungtilu.

Dia pun mengritik pemerintah daerah NTT dan DPRD NTT yang menurutnya tidak pro terhadap pembangunan pariwisata di NTT. Pasalnya, meski mengumandangkan tagline NTT sebagai New Tourism Territori, namun anggaran pembangunan pariwisata sangat minim. ”

Moderator Virgie Baker yang sebelumnya memberi kesempatan pertama kepada Amon Djobo sempat membuat suasana seminar heboh. Amon dengan gaya ceplas ceplosnya mengurai satu per satu keunggulan dan keunikan Kabupaten Alor yang menurut dia tidak ada di belahan dunia lain.

Beberapa keunikan tersebut, kata Amon adalah taman laut terindah di Indonesia, bahkan dunia, keunikan bahasa, yakni satu kabupaten dengan 14 bahasa daerah dan 116 motif kain tenun. Keindahan alam berupa gunung dan perbukitan Pulau Alor disebutnya laksana pasukan militer Inggris yang sedang berbaris untuk pergi berperang.

“Dari 56 titik diving di Alor, limanya seperti surga. Bahkan pernah ada satu penyelam mati di dasar laut karena terlalu menikmati keindahan panorama dasar laut,” kisah Amon yang mengundang riuh ratusan peserta seminar.

Amon mengakui, saat ini masyarakat Alor sudah sangat siap untuk menjadi tuan rumah yang baik, bahkan sangat baik bagi setiap tamu yang datang ke Alor. Dengan keindahan alam, keunikan yang menjadi keunggulan itu, Amon menyebut semuanya adalah karunia Tuhan yang harus dimanfaatkan demi kesejahteraan masyarakat Alor. Sehingga, Alor terus tumbuh dan berkembang menjadi daerah yang dicintai banyak orang. “Jadi, sampai kiamat pun Alor tetap selamanya,” tutup dia.

Seminar tersebut juga dihadiri Ketua DPRD NTT Anwar Pua Geno dan wakilnya Nelson Matara serta Alex Ofong. Hadir pula Anggota Komisi IV DPRD NTT Jefry Unbanunaek, Ketua Komisi II DPRD NTT Anton Bele, mantan Wakil Gubernur NTT Esthon Foenay, Komisaris Utama BPR Crista Jaya dan Direktur Utama BPR TLM Kupang Robert Fanggidae.

Ada pula General Manager PT.PLN Wilayah NTT Richard Safkaur, GM Angkasa Pura II Bandara El Tari Kupang, GM PT.Pelindo NTT Tenau Kupang Denny Wuwungan, GM PT.ASDP Cabang Kupang Arnoldus Yansen, Kepala BPJS Ketenagakerjaan Cabang Kupang Ishak, Ketua HPI Mesakh Toi, Ketua APINDO NTT Fredy Ongko Saputra, pengurus dan anggota ASITA NTT serta undangan lainnya.(cel)



Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!