Gereja Dibom, Empat Korban – Timor Express

Timor Express

KRIMINAL

Gereja Dibom, Empat Korban

TRAGEDI MINGGU PAGI. Tim Gegana Menyisir lokasi kejadian sesaat setelah ledakan di Gereja Oikumene, kelurahan Sengkotek, Kecamatan Loa Janan Ilir, Smarinda, Pada Ahad (13/11) INZERT. DITANGKAP. Polisi menangkap tiga orang, tepatnya di sebuah masjid tak bernama (dahulu bernama Masjid Al Mujahiddin) di Kelurahan Sengkotek,Kecamatan Loa Janan Ilir, Samarinda. Pelaku pengeboman adalah marbot di masjid tersebut.

FATZERIN/KALTIMPOST

Presiden Kecam, MUI Kutuk Aksi Terorisme
Tindak Tegas Pelaku dan Jaringan Pengebom

JAKARTA, TIMEX-Teror bom gereja dalam situasi yang kurang stabil karena kasus penistaan agama bisa jadi merupakan aksi provokasi. Karena itu, Presiden Jokowi, Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) satu suara mengecam aksi pengeboman di Gereja Oikumene, Samarinda. Pelaku pengeboman dan jaringannya harus ditindak tegas. Pengeboman terjadi sekitar pukul 10.15. Saat kejadian itu tepat dengan bubaran gereja. Seseorang lelaki asing masuk ke gereja dan melemparkan bom. Diduga yang dilempar itu merupakan bom molotov dengan jenis ledakan low explosive.

Ada empat korban luka-luka dalam kejadian itu, yakni Alvaro Aurelius, 4, Triniti Hutahuya,3, Anita Kristobel, 3, dan wanita dewasa bernama Intan Olivia. Semua mengalami luka bakar pada sekujur tubuhnya. ”Semua korban telah ditangani dan dibawa ke rumah sakit Abdul Muis,”ujar Karopenmas Divhumas Mabes Polri Brigjen Agus Rianto.

Sementara Presiden Joko Widodo angkat bicara mengenai kejadian bom di Gereja Oikumene. Dia menyatakan sudah menerima laporan mengenai kejadian tersebut dari Kapolri. “Saya sudah perintahkan Kapolri untuk segera (kasus bom) ditangani dan dilakukan penindakan hukum yang tegas,’’ujar Jokowi usai menghadiri Rapimnas PAN di Jakarta Selatan kemarin (13/11).

Hal senada disampaikan Mendagri Tjahjo Kumolo. Kemarin, Tjahjo terbang ke Samarinda untuk membuka gelaran Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ). Dia mengingatkan, kekerasan dalam bentuk apapun tidak bisa dibenarkan. Indonesia punya aturan hukum yang melarang segala bentuk kekerasan. ’’Kalau sampai hari ini masih ada bom, berarti ini adalah bagian dari teror kepada masyarakat. Saya kira semua akan mengutuk,’’lanjut mantan Sekjen PDIP itu.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) ikut mengutuk pelaku peledakan bom molotov di Gereja Oikumene, Kelurahan Sengkotek, Samarinda, Kalimantan Timur. Wakil Ketua Umum MUI Zainut Tauhid Saadi mengatakan tindakan ini bertentangan dengan nilai ajaran agama dan Pancasila. ’’Tindakan teror seperti itu bisa mengusik kerukunan umat beragama dan kebhinekaan,’’katanya kemarin.

Zainut menjelaskan, selayaknya aksi teror lainnya, bom di gereja kemarin dibuat untuk menebar rasa ketakutan kepada masyarakat. Kemudian juga ingin menciptakan kekacauan sampai disintegrasi bangsa. Ujungnya pelaku teror ingin menebarkan pesan bahwa Indonesia tidak aman, mencekam, dan menakutkan.
Dia menjelaskan MUI meminta polisi bertindak cepat mengusut kasus itu sampai ke akar-akarnya. Jaringan pelaku teror bisa dibuka semuanya. Selain itu juga membongkar motif pelemparan bom di pelatarakan parkir gereja itu. ’’Dampak-dampak ikutannya harus bisa diantisipasi,’’jelasnya.

Zainut juga menjelaskan masyarakat Indonesia diharapkan tetap tenang dan tidak terpancing provokasi dan hasutan. Sebaiknya masyarakat menyerahkan kasus bom itu kepada pihak kepolisian. MUI menyampaikan rasa simpati kepada keluarga korban bom molotov. ’’Semoga diberi kesabaran. Kepada para korban, semoga segera pulih kondisinya,’’pungkas dia.

Sementara itu, Ketua Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Prof Din Syamsuddin mengecam ledakan bom di depan Gereja Oikumene Samarinda saat para jemaat sedang melakukan kebaktian. “Apalagi menimbulkan korban orang-orang tidak berdosa,”terang dia saat dikonfirmasi Jawa Pos, kemarin (13/11).

Menurut dia, pelaku pengeboman yang mengatasnamakan agama, justru telah menyalahgunakan agama. Ia menegaskan bahwa Islam adalah agama perdamaian yang melarang pemeluknya melakukan pengrusakan dan pembunuhan. “Apalagi terhadap rumah ibadah, kaum perempuan dan anak-anak. Jelas itu tidak dibenarkan,”ucap mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah itu.

Tokoh Islam kelahiran Sumbawa, NTB itu mendesak pihak kepolisian untuk mengusut tuntas pengeboman itu dan menangkap aktor intelektual di balik tindakan kriminal tersebut. Apakah murni bermotif kekerasan terhadap nama agama atau bermotif politik. Yaitu, untuk mengalihkan isu nasional terkait gerakan Umat Islam terhadap penistaan agama.

Dia pun menyerukan umat beragama, khususnya umat Islam dan Kristiani agar tetap tenang dan dapat menahan diri terhadap ulang provokator yang berusaha mengadudomba antar umat beragama. “Jangan mudah terpancing,”terang dia. Biarlah pihak kepolisian mengusut tuntas persoalan tersebut, sehingga diketahui motif sebenarnya di balik tindakan itu. (idr/byu/wan/lum/jpnn/boy)

Pelaku Residivis, Ditangkap Tukang Tambal Ban

Polisi tak perlu bersusah-susah memburu pelaku pelemparan bom molotov ke halaman Gereja Oikumene di Samarinda, Kalimantan Timur, Minggu (13/10) pagi. Sebab, pelaku pemboman bernama Juanda alias Johanda alias Jo bin Muhammad Aceng Kurnia (32) langsung dibekuk warga tak lama setelah beraksi.

Berdasarkan kartu tanda penduduk (KTP), Jo tercatat sebagai warga Perum Citra Kasih Blok E nomor 30 Neohon, Kelurahan Masjid Raya, Kabupaten Aceh Besar. Dia beraksi sekitar pukul 10.00 saat jemaat gereja yang beralamat di Jalan Ciptomangunkusumo, Sengkotek, Samarinda, Kalimantan Timur itu kelar beribadah.
Jo yang berambut gondrong mencoba melarikan diri usai melemparkan molotov. Warga yang melihatnya melempar molotov langsung memburunya.

Toto, warga Sengkotek mengatakan, pelaku ditangkap saat berenang di Sungai Mahakam. Dia nekat melompat ke Sungai Mahakam untuk mencoba ke sisi seberang. Untung ada warga yang cekatan. “Tukang tambal ban dan warga yang mengejarnya. Ditangkap saat berenang ke sungai,”kata Toto, warga Sengkotek sebagaimana dikutip laman Prokal (Jawa Pos Group)

Begitu berhasil menangkap Jo, warga langsung memermaknya. Wajah jo jadi sasaran amuk warga.
Setelah Jo tak berdaya, barulah warga menyerahkannya ke Mapolsek Samarinda Seberang. Aksinya telah membuat sejumlah orang terluka, termasuk empat balita.
Berdasar hasil pemeriksaan, pelaku bernama Jo ini ternyata merupakan residivis kasus terorisme. Karopenmas Divhumas Mabes Polri Brigjen Agus Rianto menuturkan, pelaku pernah menjalani pidana kasus bom Puspitek Serpong dengan putusan pengadilan negeri Jakarta Barat nomor 2195/pidsus/2012/PNJKT. ”Hukumannya saat itu 3,6 tahun,”paparnya. Namun, pelaku itu mendapatkan pembebasan bersyarat pada 28 Juli 2014. Dia menjelaskan bahwa pemeriksaan terhadap pelaku sedang dilakukan. Tentunya, untuk mengetahui jaringan dari pelaku. ”Kami kejar siapa saja yang terlibat,”terangnya. (ara/jpnn/boy)



Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!