Mapolsek Dibobol, Pelaku Tewas Dirajam – Timor Express

Timor Express

KRIMINAL

Mapolsek Dibobol, Pelaku Tewas Dirajam

Irwansyah, 32, pelaku kekerasan terhadap tujuh anak SD Negeri 1 Seba.

Tragedi Sabu Berdarah, 7 Anak SD Dilukai
7 Rekan Pelaku Diamankan, Kapolda dan Danrem ke Sabu

KUPANG, TIMEX–Situasi di Seba, ibukota Kabupaten Sabu Raijua (Sarai) benar-benar mencekam, Selasa (13/12) kemarin. Publik daerah itu dibuat murka oleh aksi nekat seorang pria bernama Irwansyah, 32, yang secara tiba-tiba menyerang para anak kelas V SDN 1 Sabu Barat yang sedang mengikuti kegiatan belajar mengajar di kelas.
Pelaku yang teridentifikasi merupakan warga baru di Sarai dan sehari-hari sebagai penjual kain, menyerang dengan menggunakan sebilah pisau dan melukai tujuh orang anak sekolah di bagian leher, dagu, bibir, dan tangan.

Kapolres Kupang, AKBP Ajie Indra Widiatma yang dikonfirmasi Timor Express, membenarkan peristiwa tersebut. Ia mengaku para korban langsung dilarikan ke Puskesmas Menia dan telah mendapatkan pertolongan medis, sedangkan pelaku langsung diamankan di Mapolsek Sabu Barat.

Belum diketahui pasti motif dari kasus tersebut, namun pelaku diduga mengalami gangguan jiwa. Saat pelaku sedang diinterogasi di Mapolsek Sabu Barat, tiba-tiba datang massa dalam jumlah banyak.

Polisi pun langsung mengamankan pelaku ke dalam sel tahanan Mapolsek, namun massa semakin beringas dan membobol tembok sel tempat pelaku diamankan, dan merajam pelaku dengan batu berukuran besar hingga tewas.

Mayat pelaku pun hingga saat ini masih disemayamkan di Mapolsek Sabu Barat. Sementara itu, Kapolda NTT, Brigjen Pol Widyo Sunaryo dan Danrem 161/Wira Saksi Kupang, Brigjen TNI, Heri Wiranto dan Kabinda NTT, Daeng Rosada langsung berangkat ke Sarai dengan menggunakan helikopter milik Korem guna memantau langsung kondisi di daerah tersebut.

Di Sarai, Kapolda, Danrem dan Kabinda langsung melakukan pertemuan dengan para tokoh agama dan tokoh masyarakat daerah tersebut. Dan untuk memperkuat pengamanan di daerah tersebut, pihak Polda NTT dan Korem 161/WS telah memberangkatkan 1 kompi pasukan, Brimobda NTT, Polres Kupang, Polda NTT, dan Yonif 743 menggunakan kapal cepat Express Chantika 77 melalui pelabuhan Tanjung Lontar Tenau sekira pukul 16.00 dan tiba di Sarai sekira pukul 22.00.

Wakapolres Kupang, Kompol Sriyati yang dikonfirmasi menguraikan kronologi kasus dimaksud. Ia katakan, peristiwa berdarah itu terjadi sekira pukul 08.47, dimana pada saat jam pelajaran berlangsung datang pelaku yang merupakan orang tidak dikenal (OTD) memasuki ruangan kelas V SDN 1 Sabu Barat dengan memegang pisau di tangan dan langsung menuju ke bangku belakang mendekati anak SD yang bernama Naomi Oktoviani Pawali, 11, dan langsung memutar wajah anak tersebut serta melukai leher korban.
Setelah pelaku berhasil melukai dan menggorok anak SD tersebut, pelaku mencari korban lainnya sehingga total korban sebanyak 7 orang.

“Korban membabi buta saat menyerang para siswa SDN 1 Sabu Barat. Para korban sudah mendapatkan pertolongan medis dan ketujuh korban saat ini dalam kondisi stabil dan masih menjalani perawatan,”kata Sriyati.

Mantan Kapolsek Maulafa itu melanjutkan, para siswa SDN 1 Sabu Barat langsung berhamburan keluar lingkungan sekolah dan lari menuju Koramil 1627/04-Sabu Raijua yang berdekatan dengan SD tersebut yang beralamat di Jl. Tenihawu, Kelurahan Mebba.

Mengetahui anak-anak sekolah tersebut lari berhamburan keluar, Danramil Sabu Raijua, Mayor (Inf) I Ketut Nesa langsung memerintahkan anggotanya TNI untuk mengecek ke lokasi SDN 1 Sabu Barat dan mengamankan pelaku.

“Sekira pukul 09.10, anggota Polsek Sabu Barat dipimpin oleh Panit I Intel tiba di SDN 1 Sabu Barat dan langsung mengamankan serta mengevakuasi pelaku di Mapolsek Sabu Barat,”terang Sriyati.

Atas peristiwa tersebut Polsek Sabu Barat dibantu Koramil 1627/04-Sabu Raijua berkoordinasi dengan pihak sekolah mengumpulkan siswa sekolah pada kelas masing-masing untuk didata dan bagi siswa yang orang tuanya/wali belum datang, pihak Polsek Sabu Barat membantu mengantar para siswa tersebut ke rumahnya masing-masing.

“Polsek Sabu Barat langsung berkoordinasi dengan Polsek terdekat (Polsek Sabu Timur dan Polsek Hawu Mehara) untuk melakukan tindakan pengamanan terhadap pelaku yang sudah diamankan di Polsek Sabu Barat,”imbuhnya.

Ditambahkan, massa yang mengetahui dan mendengar kejadian tersebut langsung tersulut emosi dan berbondong-bondong mendatangi Mapolsek serta meminta agar pelaku dikeluarkan dari ruang tahanan.

Sekira pukul 10.00, Wakil Bupati Sabu Raijua, Nikodemus Rihi Heke tiba di Mapolsek Sabu Barat dan membantu kepolisian untuk menenangkan warga masyarakat yang sudah tersulut emosi.

Informasi lain yang dihimpun Timor Express, massa yang semakin beringas juga melakukan pengrusakan terhadap bangunan kios dan kendaraan bermotor milik sejumlah pedagang di pasar Nataga.

Polisi Amankan 7 Rekan Pelaku

Aparat kepolisian juga berhasil mengamankan 7 orang yang diduga kuat adalah rekan pelaku. Ketujuh orang ini diamankan petugas kapal cepat Express Chantika 77 saat dalam pelayaran dari Seba ke Kupang, selanjutnya diserahkan ke polisi. Awalnya kapal cepat yang mengangkut 156 orang penumpang itu sudah berangkat dari pelabuhan Seba menuju Kupang, namun kembali sandar di pelabuhan Seba karena terdapat 7 orang yang diduga rekan pelaku. Tujuh orang tidak dikenal itu kemudian diturunkan di dermaga Seba dan diserahkan ke polisi.

Massa juga sempat memenuhi area dermaga Seba setelah tahu ketujuh rekan pelaku hendak dievakuasi ke Seba dengan kapal cepat Express Chantika 77.
Kapolda NTT Brigjen Pol Widyo Sunaryo yang dikonfirmasi Koran ini mengatakan pihaknya akan mencoba menggali motif dari ketujuh rekan pelaku yang saat ini sudah diamankan. “Jenazah pelaku segera kita evakuasi ke Kupang,”kata Kapolda. Informasi lain menyebutkan jenazah pelaku bakal dievakuasi menggunakan kapal cepat Express Chantika 77 yang mengantarkan pasukan bantuan ke Sarai. (joo/boy)

Polri dan TNI Minta Semua Tenang
Wabup Sabu Raijua: Semua Anak SD Selamat

MABES Polri ikut bersuara. Karopenmas Divhumas Mabes Polri Kombespol Rikwanto menuturkan bahwa penyebab dari pelaku melakukan aksi sadisnya sedang ditelusuri. Namun, yang pasti saat ini kepolisian berupaya mencegah adanya aksi kekerasan lanjutan. Menurutnya kejadian sadis ini tentunya jangan sampai merembet ke isu yang lainnya. Dia mengatakan, pengamanan terhadap sekolah-sekolah tentu akan diperketat. Kepolisian tidak ingin kejadian yang sama terulang kembali.

Gelar Ratas

Wakil Bupati Sabu Raijua Nikodimus Rihi Heke berusaha menenangkan masa dengan menggelar rapat terbatas bersama para pimpinan umat beragama di daerah tersebut. “Kami sepakat untuk sama-sama menjaga supaya kasus ini tidak melebar ke isu SARA,”jelas Niko yang dikonfirmasi Timor Express.

“Korbannya tujuh anak SD, semua sudah mendapat pertolongan medis secara baik. Tidak ada yang dirujuk ke luar dari Sabu, tidak ada yang meninggal,”tambah Niko. Ditanya terkait tewasnya pelaku dalam rahanan polisi, Niko mengaku tidak bisa berbuat banyak. Pasalnya, massa tersulut emosi karena tidak berhasil menemui tujuh orang yang diduga teman pelaku di pelabuhan.

“Kami tidak bisa buat apa-apa karena aparat terbatas. Jadi mereka menyerang pelaku sampai mati dan mereka keluarkan dari tahanan, mereka letakkan di luar ruang tahanan dan mereka jaga,”terang Niko lagi. Terkait pengrusakan sejumlah toko dan kios di Pasar Nataga dan sekitarnya, Niko mengakuinya. Namun lagi-lagi pihaknya bersama aparat tidak mampu meredam massa yang terus beraksi brutal.

Sementara itu, Anggota DPRD NTT asal Sabu Raijua Wellem Kale meminta aparat, baik polisi dan TNI untuk menuntaskan kasus tersebut secara terbuka agar tidak menimbulkan keresahan di masyarakat NTT. “Harus cepat klir supaya jangan melebar ke isu lain,”tandasnya lagi.

Danrem 161/WS Kupang, Brigjen TNI Heri Wiranto yang dikonfirmasi mengatakan, setelah kejadian warga di Sarai masih terkonsentrasi di beberapa titik dan terus menunjukkan rasa tidak puas.

Namun pihak Koramil dan Polsek di Sarai sudah mengambil langkah-langkah untuk meredam.
Danrem juga mengimbau masyarakat Sarai untuk tidak terprovokasi dengan informasi yang simpang siur dan memercayai informasi yang pasti dari aparat Polsek dan Koramil di daerah tersebut.

“Informasi dari kepolisian, pelaku diduga ada gangguan kejiwaan. Kita dan Polda telah mendorong personel bantuan untuk menciptakan situasi kondusif. Kita tetap membackup kepolisian agar situasi wilayah tetap kondusif,”terang Danrem. (mia/idr/dod/jpnn/cel/joo/boy)

GMIT, MUI dan PHDI: Jangan Terprovokasi
Kepsek Liburkan Sekolah, DPRD NTT Bersikap

KASUS kekerasan fisik yang melukai tujuh orang anak SD Negeri 1 Sabu Barat di Kabupaten Sabu Raijua, NTT yang berbuntut pada penganiayaan terhadap Irwansyah, 32, hingga tewas, membuat GMIT, MUI dan PHDI bersikap. Ketua Sinode Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT), Pdt DR Merry Kolimon, dalam seruannya yang diterima koran ini, mengecam tindakan itu. “Kekerasan terhadap anak adalah kekerasan terhadap kemanusiaan. Kami minta pemerintah dan pihak keamanan bekerja dengan sungguh-sungguh mengungkap pelaku, tindakan penyerangan, dan motivasinya.” GMIT memohon jemaat/masyarakat tidak terprovokasi serta umat lintas beragama di Sabu saling menjaga untuk memelihara kerukunan dan bersama-sama bersuara menuntut keadilan bagi anak-anak kita. GMIT menghimbau tokoh-tokoh agama saling berkoordinasi untuk memastikan kita merawat toleransi dan kerukunan. Para korban diharapkan segera pulih, pihak keamanan dimohon mengambil langkah cepat.

Sementara, Majelis Ulama (MUI) Provinsi NTT tak ketinggalan. Dalam seruannya yang diterima koran ini, tertanda H. Abdul Kadir Makarim (Ketua) dan H. Mandarlangi Pua Upa (Sekretaris), MUI NTT menyayangkan kasus itu. MUI bersikap, mengecam keras tindakan kekerasan tersebut dan menilai sebagai tragedi kemanusiaan, mendesak pemerintah dan pihak keamanan untuk segera mengusut tuntas kasus ini, menguak motivasi tindakan tersebut dan segera diumumkan ke publik sehingga mengurangi keresahan masyarakat. Menghimbau kepada masyarakat Sabu Raijua dan NTT secara umum untuk tetap tenang dan mempercayakan kepada pemerintah dan pihak kepolisian mengungkap kasus ini.
Seluruh umat di NTT agar tetap menjaga kerukunan antar umat beragama dengan tidak mudah terprovokasi oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

Ketua Parisada Hindu Darma Indonesia (PHDI) NTT, I.G M. Putra Kusuma menyerukan warga di Sabu Raijua dan NTT umumnya agar tidak terprovokasi dengan peristiwa pernikaman terhadap siswa yang dilakukan oknum tak dikenal tersebut. “Saya kira sangat memprihatinkan bagaimana anak-anak diperlakukan seperti itu. Ini merupakan tindakan yang sangat keji,”kata Kusuma. Dirinya meminta semua harus bisa menahan diri. “Biarkan polisi yang menanganinya. Jangan terprovokasi. Jaga Sabu agar tetap damai dan begitu juga NTT,”ajak Kusuma.

Kepala SD Negeri 1 Seba, Arthur Radja Pono kepada Timor Express malam tadi via telepon selularnya mengaku sangat prihatin atas tragedi yang menimpa anak-anak muridnya itu. Diakui, saat kejadian dia tak berada di sekolah.

Saat itu anak-anak sementara mengikuti ujian perbaikan sekolah. “Teman guru yang pertama kali melihat pelaku masuk ke halaman sekolah lalu menuju ke ruang kelas 5A adalah Margaritha Lawa Djo. Ketika melihat pelaku masuk ke halaman sekolah, Margaritha sama sekali tak curiga akan terjadi sesuatu. Margaritha justeru mengira pelaku adalah orang tua murid yang akan datang ke sekolah,”ujar Arthur.

Pelaku menuju ke ruang kelas 5A. Meski saat itu, ada guru kelas yang sementara mengawasi proses ujian perbaikan sekolah bagi para murid kelas 5A. “Guru yang sementara mengawas yakni Debrina Rihi. Saat pelaku sudah mendekap Alberto Manue Tamelan yang kebetulan duduk paling depan bersama salah seorang temannya, Aldi Miha Djami sambil mengeluarkan pisau dapur, barulah seisi ruang kelas panik dan langsung berhamburan keluar dari ruang kelas. Usai melukai Alberto Manue Tamelan dan Aldi Miha Djami pelaku lalu mengejar murid lainnya yakni Maria Katrina Yeni. Selanjutnya, pelaku mengejar lagi beberapa murid SD lainnya yang ada di luar kelas yakni Gladis Riwu Rohi, Dian Suryati Kore BUnga, JUniarto Ananda Apri Bunga dan Naomi Oktaviani Pawali.

“Kami sebagai guru kelas sangat sedih atas kejadian yang menimpa anak-anak ini. Apalagi para orang tua yang anaknya diperlakukan sangat tidak baik itu. Atas kejadian ini, saya liburkan anak-anak selama tiga hari,”beber Arthur Raja Pono sembari meminta aparat kepolisian supaya tetap siaga melakukan pengawasan hingga suasana di TKP benar-benar aman. Terkait kasus ini, DPRD Provinsi NTT pun menggelar rapat lintas fraksi di ruang rapat pimpinan dewan. Rapat dipimpin Wakil Ketua DPRD NTT, Nelson O. Matara dihasilkan beberapa rekomendasi. Salah satunya adalah meminta Polda NTT dan Polres Kupang secepatnya mengungkap identitas pelaku serta motif di balik peristiwa naas tersebut. Dengan demikian, peristiwa ini tidak menimbulkan gejolak yang lebih luas.

Terpisah, Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia (GMKI) Cabang Kupang mengutuk keras aksi penikaman di Sabu Raijua. Ketua GMKI Cabang Kupang Demisioner, Amos Lafu dan seluruh anggota GMKI menyampaikan rasa simpati dan turut prihatin atas insiden tersebut. Sementara itu, Koordinator Wilayah VII GMKI, Yan Piter Lilo juga senada. Ia meminta aparat keamanan agar secepatnya menyelesaikan kasus yang terjadi agar masyarakat tidak terprovokasi dengan isu SARA. GMKI juga mengimbau agar masyarakat tidak terprovokasi dan melakukan tindakan yang sewenang-wenang terhadap masyarakat yang lain. (ito/gat/mg25/sam/boy)

 



Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!