6 Pria asal Sulsel Bukan Rekan Irwansyah – TIMOREXPRESS.COM

TIMOREXPRESS.COM

KRIMINAL

6 Pria asal Sulsel Bukan Rekan Irwansyah

Gubernur Kumpulkan Tokoh Agama, Rapat Tertutup

KUPANG, TIMEX–Kapolda NTT, Brigjen Pol E. Widyo Sunaryo menyatakan enam pria asal Takalar, Sulawesi Selatan (Sulsel) yang sudah diperiksa tim Ditreskrum dan Densus 88 di Mapolda NTT tidak memiliki keterkaitan dengan pelaku Irwansyah, 32.

Kapolda sampaikan hal ini dalam jumpa pers di ruang rapat lantai 2 Mapolda NTT, Kamis (15/12). Didampingi Direktur Reskrimum, Kombes Pol Yudi Sinlaeloe dan Kabid Humas, AKBP Jules Abast, Kapolda katakan tim Polda NTT dan Densus 88 tidak menemukan adanya keterkaitan dari enam orang tersebut dengan pelaku yang sudah tewas.

“Enam orang tersebut juga tidak ada kaitannya dengan jaringan teroris sebagaimana banyak disebutkan di medsos,”kata dia.
Polda NTT juga telah berencana mengembalikan enam orang tersebut, namun mereka masih meminta perlindungan pada Polda Sulsel. “Jadi untuk sementara mereka tinggal di sini (Mapolda), karena mereka sudah membuat pernyataan minta perlindungan pada Polda NTT, sambil menunggu saat yang tepat untuk pulang ke kampung halamannya di Makassar,”sebut Kapolda.

Namun demikian Kapolda katakan pemeriksaan terhadap barang-barang milik tersangka yang tewas masih dalam pendalaman oleh tim Densus 88. “Kita masih menunggu hasilnya, termasuk dengan hasil otopsi jenazah korban dari tim dokter,”kata Kapolda sembari mengurai hasil interogasi terhadap enam orang tersebut. Awalnya Kadir, Rusli, Basri, Bustam dan dan Udin Daeng Siriwa datang dari Makassar sekitar bulan Agustus tahun 2016 menuju Kupang dengan tujuan untuk berjualan barang pecah belah berupa mangkok.
Dan di Kota Kupang, mereka lalu dijemput oleh seseorang bernama Puan yang selanjutnya menuju rumah kontrakan milik Muchsin di Desa Oesao, Kecamatan Kupang Timur, Kabupaten Kupang.

Di rumah tersebut sudah tinggal terlebih dahulu dua orang temannya, Irvan dan Muhammad Hatta. Dan selama berada di Oesao, mereka melakukan aktivitas dagang dengan berjualan mangkok keliling.

Setelah selama seminggu di rumah kontrak milik Muchsin, selanjutnya Irvan, Muhammad Hatta, Kadir, Rusli dan Basri dan Udin Daeng Siriwa pindah di kontrakan milik Farida di wilayah Osmok, Kota Kupang. Dan tiga hari kemudian, mereka berangkat ke Rote Ndao dan berjualan mangkok di sana selama dua minggu, lalu kembali ke Kupang untuk mengambil barang jualan di salah satu toko di Samping Hotel Aston Kupang.

Kemudian pada Senin (5/12), mereka berangkat ke Sabu Raijua (Sarai) untuk berjualan mangkok dan mengontrak di rumah milik Roby.
Selanjutnya, mereka berjualan berkeliling selama seminggu dengan menyewah mobil pikap yang dikemudikan oleh Kris sampai Senin (12/12). Pada Selasa (13/12), pukul 08.00, mereka berpamitan dengan pemilik kontrakan bahwa mereka akan pulang ke Kupang karena barang dagangan sudah habis. Dan pada pukul 09.00 mereka berangkat ke Kupang dengan menggunakan kapal cepat Chantika Express 77.

Dan sekira satu jam perjalanan, kapal lalu berhenti dan mereka diminta untuk kumpul di ruangan nakhoda, selanjutnya berkumpul di haluan kapal cepat dimana pada saat itu banyak orang yang mengambil foto mereka.

Lalu mereka dijemput oleh kapal milik Pemda untuk selanjutnya menuju ke pelabuhan Seba. Namun karena di pelabuhan Seba banyak kerumunan massa, maka petugas tidak jadi merapat ke dermaga, dan tetap berada di tengah laut.

“Petugas kuatir tujuh orang tersebut dijadikan sasaran amarah massa yang cukup banyak,”kata Kapolda. Namun massa justru mengejar kapal tersebut, sehingga kapal yang mereka tumpangi meninggalkan massa yang mengejar dengan menggunakan kapal, menuju perairan Sabu Timur sehingga sampailah mereka di dermaga Raijua sekira pukul 14.00.
Di pelabuhan Raijua, rupanya ada lagi 8 orang masing-masing tujuh laki-laki dan seorang perempuan yang berasal dari Sulsel yang ketakutan dan naik ke atas kapal. Namun 8 orang itu langsung dicegah oleh massa. Mereka dilarang untuk naik kapal. Petugas yang ada berusaha mengamankan situasi dan menenangkan massa namun salah seorang dari ketujuh orang yang dicari oleh massa, yakni Muhammad Hatta ketakutan dan melompat ke laut. “Sampai sekarang masih dalam pencarian dan belum ditemukan,”ujar Kapolda.
Setelah massa tenang, dilakukan lagi pencarian terhadap Muhammad Hatta namun tidak ditemukan, sehingga kapal Pemda tersebut akhirnya menuju pelabuhan Seba. Sekira pukul 15.00 kapal tiba di pelabuhan Seba, dan 14 orang tersebut diamankan di ruang tunggu pelabuhan Seba dengan penjagaan ketat petugas. Dan pada pukul 15.00, keenam orang diberangkatkan ke Kupang dan saat ini berada di Mapolda NTT.

Gubernur Kumpulkan Toga

Kamis (15/12) petang, Gubernur NTT, Frans Lebu Raya melakukan rapat tertutup dengan forum koordinasi pimpinan daerah (Forkopimda) di ruang kerjanya. Rapat tersebut membahas berbagai isu, baik isu nasional, persiapan Natal dan tahun baru maupun tentang kasus kekerasan di Kabupaten Sabu Raijua. Sayangnya rapat tersebut tidak bisa diakses media. Kepala Kesbangpol Provinsi NTT, Sisilia Sona kepada Timor Express mengatakan rapat Forkopimda tersebut dihadiri semua tokoh agama, tokoh masyarakat dan Forkopimda. “Semua hadir lengkap, dari tokoh agama, tokoh masyarakat dan Forkopimda semuanya satu suara menjaga perdamaian di NTT,”kata Sisilia.

Khusus soal kasus kekerasan di Sabu Raijua, menurutnya, Gubernur meminta semua pihak menjalankan perannya, terutama tokoh-tokoh agama juga harus ikut memberikan pencerahan kepada umat agar tidak terprovokasi dengan peristiwa di Sabu Raijua. Menyambut perayaan Natal, Sisilia mengatakan dalam forum rapat tersebut disepakati agar pemuda lintas agama juga harus terlibat aktif menjaga perdamaian. “Pemuda bisa ikut menjaga saat kegiatan Natal dan sebagainya sehingga mempererat persaudaraan. Ini harapan dari forum rapat,”kata mantan Sekretaris DPRD NTT ini. (joo/sam/boy)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top