Jangan Pakai Dana Desa untuk Bangun Jalan – timorexpress.fajar.co.id

timorexpress.fajar.co.id

RAKYAT TIMOR

Jangan Pakai Dana Desa untuk Bangun Jalan

POSE BERSAMA. Bupati Belu, Wakil Bupati, Sekda dan forkopimda pose bersama sejumlah kepala desa usai pelantikan, Selasa (10/1)

FRANS BORGIAS KOLO/TIMEX

Pesan Bupati Belu saat Lantik 31 Kades

ATAMBUA, TIMEX – Bupati Belu, Willybrodus Lay meminta kepada para kepala desa agar menggunakan dana desa untuk membiayai kegiatan yang bersifat pemberdayaan ekonomi masyarakat desa. Hal ini penting untuk mendukung peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat Belu ke depan.

“Jangan pakai dana desa untuk bangun jalan lagi. Lebih baik manfaatkan dana desa yang nilainya satu desa Rp 1 miliar lebih untuk kegiatan pemberdayaan masyarakat. Bangun embung untuk tampung air di musim hujan, sehingga musim panas masyarakat ambil airnya untuk tanam sayur, kasih minum ternak dan kegiatan holtikultura lain lebih bagus daripada bangun jalan. Apa yang mau angkut masyarakat untuk jual di kota,” kata Willybrodus saat melantikan 31 kepala desa (kades) di gedung Betelalenok Atambua, Selasa (10/1).

Ia menilai, pemanfaatan dana desa oleh 69 desa di Kabupaten Belu dari tahun ke tahun belum menunjukkan keberhasilan yang signifikan. Karena itu, ia meminta para camat agar ikut mengontrol sekaligus mengawasi pemanfaatan dana desa dan bantuan dana lainnya di wilayah kecamatan masing-masing demi kemajuan pembangunan masyarakat Belu ke depan.

“Para camat jangan tinggal diam di kantor. Keluar ke masyarakat, cari tahu apa masalahnya sehingga pembangunan tidak jalan. Apakah lahan kebun yang dikerjakan masyarakat terlalu sedikit sehingga hasil pertaniannya sedikit atau apa masalahnya. Setelah itu diskusikan bersama untuk pecahkan persoalannya,” tegas Willybrodus.

Menurutnya, kunci keberhasilan pembangunan di desa adalah kerja sama yang harmonis antara kepala desa dan aparatnya dengan seluruh elemen masyarakat desa. Jika harmonisasi sudah tercipta, maka program kerja yang perlu dilakukan untuk menggenjot pembangunan di desa yaitu perlu adanya pemetaan lahan usaha warga yang jelas.

“Perlu sediakan lahan pertanian yang jelas, lahan penggembalaan ternak dan lahan untuk budi daya kawasan hutan rakyat. Kalau tiga hal ini bisa dilakukan saya yakin pembangunan di desa akan cepat maju. Sebab, dengan demikian pasti provinsi jagung, provinsi cendana, provinsi ternak dan provinsi koperasi yang dicanangkan bapak gubernur dengan sendirinya jalan,” tegasnya.

Ia meminta para kepala desa agar bersama masyarakat menyediakan lahan untuk budidaya cendana di wilayah desa masing-masing. Hal ini penting untuk mengembalikan keharuman cendana yang pernah mengharumkan nama NTT dimata nasiomal.

“Tanam cendana biar orang datang ke Belu lihat bahwa Belu punya kawasan cendana. Jangan biarkan lahan yang begini luas tidur dan tidak memberi manfaat apa-apa untuk orang Belu,” tandasnya.

Mengenai pilkades serentak yang berlangsung, 13 Oktober 2016, Willybrodus menilai, sudah selesai dengan pelantikan 31 kepala desa.
Hal penting yang perlu dilakukan ke depan kata Willybrodus adalah menghilangkan perbedaan politik saat pilkades dan membangun kerja sama yang harmonis untuk memajukan pembangunan di desa masing-masing.

“Mulai hari ini tidak ada lagi kelompok-kelompok. Yang ada hanya kebersamaan untuk memajukan pembangunan di desa. Saya minta kepala desa yang dilantik hari ini tampil sebagai figur pemersatu masyarakat,” tegasnya.

Para kepala desa terlantik juga diminta untuk menghindari praktik pungutan liar kepada masyarakat yang akan meminta mengurus administrasi desa. Pungutan biaya administrasi diluar aturan menurut Willybrodus adalah kejahatan pidana yang perlu diadili secara hukum.

“Jangan sampai masyarakat yang butuh surat-surat dari desa dipungut biaya. Itu pungli dan masyarakat lapor polisi biar kepala desanya ditangkap,” jelas Willybrodus Lay. (ogi/ays)

Click to comment

Most Popular

To Top