Raymundus-Aloysius Perlu Rendah Hati untuk Rakyat – TIMOREXPRESS.COM

RAKYAT TIMOR

Raymundus-Aloysius Perlu Rendah Hati untuk Rakyat

Ilustrasi Marten Lado/Timex

Tokoh Agama Saran Hentikan Konflik

KEFAMENANU, TIMEX – Perseteruan antara Bupati TTU, Raymundus Sau Fernandes dan Wakil Bupati TTU, Aloysius Kobes belakangan ini hangat diperbincangkan masyarakat. Paket PDI Perjuangan ini tiba-tiba saling menyerang, bahkan membuka rahasia rumah tangga selama memimpin TTU dua periode.

Sejumlah tokoh agama akhirnya ikut bersuara. Sebab, dikhawatirkan bila konflik terus berlanjut tentunya akan merugikan kepentingan masyarakat karena pelayanan pemerintah akan terganggu.

Pimpinan Dekenat Kefamenanu, Romo Gerardus Salu, Pr saat ditemui Timor Express, Rabu (11/1) mengaku baru mendengar kabar keretakan dua tokoh itu setelah membaca di media masa. Padahal, selama ini kedua tokoh dikenal sangat harmonis dan tidak ada perpecahan sejak dua periode memimpin wilayah TTU.

Menurutnya, tidak salah untuk saling mengoreksi asalkan di ruang tertutup. Sebab, keuntungan saling mengoreksi bisa untuk saling mengingatkan dari pada dendam. Tapi memilih diam dan tidak ada keterbukaan.

Dia menilai, muncul masalah akibat tidak adanya kerja sama dan koordinasi yang baik, sehingga menimbulkan rasa dendam. Padahal, sebabagai pemimpin tentunya menunjukan yang terbaik untuk masyarakat.

Menurutnya, dalam kebersamaan tentu ada perbedaan pendapat atau pandangan, tetapi perlu dimaknai sebagai potensi untuk kemajuan bersama dan bukan memilih diam atau saling menyimpan dendam.

Sehingga, dia berharap perseteruan kedua tokoh itu secepatnya diakhiri, sehingga tidak merusak keharmonisan yang sudah terjalin karena bila tidak berdamai tentu akan menghambat pelayanan masyarakat.

Sebagai tokoh umat, Romo Gerardus menyarankan keduanya rendah hati dan saling memaafkan karena tidak ada masalah yang tidak bisa diselesaikan dalam hidup bersama.
“Siapa bilang hidup bersama itu hanya mau setuju-setuju saja? Tentu ada perbedaan asalkan harus dilihat sebagai potensi untuk melahirkan tujuan bersama,” tandasnya.
Menurut Romo Gerardus, sejak dahulu mulai periode pertama hingga sekarang keduanya dikenal sebagai sosok yang akrab dan familiar. Sehingga, dipercaya masyarakat. Nilai kebersamaan itu yang mestinya dipertahankan, sehingga bisa melaksanakan tugas pelayanan yang efektif kepada masyarakat.

Kedua tokoh TTU tidak salah bila saling mengoreksi asalkan di ruang tertutup, sehingga tidak diketahui masyarakat luas.
Dia berharap, kedua tokoh saling menghargai dan mendengar satu sama lain. Sebab, koreksi yang sudah telanjur diutarakan bisa untuk memperbaiki perasaan dendam yang terjadi belakangan ini.

“Saya yakin kalau tidak ada kerja sama tentunya pelayanan masyarakat akan terganggu, sehingga kita harap keduanya harus rendah hati dan saling memaafkan. Selama ini dua orang itu akrab dan keharmonisan yang dulu itu harus dijaga. Kalau ada perbedaan pendapat secepatnya diperbaiki,” tandasnya.

Sementara, Ketua Majelis Jemaat GMIT Imanuel Kefamenanu, Pdt Yorhans Boru, STh menilai, konflik antara kedua pemimpin mestinya tidak perlu terjadi apalagi harus diketahui masyarakat. Bila ada perbedaan sebaiknya duduk bersama untuk diselesaikan bukan untuk saling menghujat. Sebab, jabatan itu sebagai pemberian Sang Pencipta. Jabatan apapun sebagai panggilan tugas pelayanan kepada masyarakat yang harus dijaga.

Menurut Pdt Yorhans, keduanya harus saling membuka diri dan saling memaafkan karena hidup berdamai untuk kepentingan masyarakat. Dalam kehidupan bersama tentunya ada perbedaan pendapat dan perbedaan pandangan tetapi semua itu dilihat sebagai kekuatan untuk memperkaya tujuan bersama. Jika semua memahami tujuan kebersamaan untuk kepentingan masyarakat kecil, tentunya tidak menjadi kendala karena perbedaan bisa diselesaikan dengan mudah.

“Hidup berdamai itu indah dan tidak susah untuk kita berdamai. Kuncinya harus rendah hati dan saling memaafkan, kedua pemimpin harus saling pengertian didalam tugas pelayanan,” tandasnya. (mg24/ays)

Click to comment

Most Popular

To Top