Memetik Hikmah dari Kisah Ibrahim bin Adham – Hacked by TryDee

Hacked by TryDee

RELIGI

Memetik Hikmah dari Kisah Ibrahim bin Adham

Oleh: Drs. KH. Fahmi Amrullah Hadzik

Marilah kita senantiasa meningkatkan kualitas keimanan kita kepada Allah Swt.,haqqo tuqotihi, sebenar-benarnya taqwa dengan cara berusaha menjalankan segala perintahNya serta menjauhi segala laranganNya. Dan janganlah kalian meninggalkan bumi ini kecuali dalam keadaan Islam dan khusnul khotimah.

Ibrahim bin Adham, seorang sufi besar mempunyai kebiasaan meluangkan waktu untuk beribadah di Masjidil Aqsa Palestina. Dikisahkan suatu ketika setelah menunaikan badah haji, Ibrahim bin Adham ingin mampir ke Masjidil Aqsa. Ma ia membeli kurma kepada lelaki tua untuk bekal dalam perjalanan, setelah membeli ia melihat sebiji. Maka ia ambil sebiji tersebut dan memakannya.

Setelah itu iapun berangkat ke Masjidil Aqsa yang ditempuh dalam waktu 4 bulan, setelah 4 bulan sampailah di Maqsidil Aqsa ia memiliki tempat favorit di tempat tersebut, kubah sohro’. Maka ia sholat dan berdoa dengan khusuk, tiba-tiba terdengar suara malaikat yang berbincang-bincang tentang Ibrahim bin Adham. Malaikat A berkata, “itu Ibrahim bin Adham, ia adalah hamba Allah yang zuhud dan wara’ yang doanya selalu dikabulkan”. Malaikat B menimpali,” tetapi sekarang tidak lagi, semenjak 4 bulan lalu doanya tak lagi dikabulkan oleh Allah dikarenakan memakan buah kurma yang bukan haknya.”

Mendengar percakapan kedua malaikat tersebut, bangunlah kesadaran Ibrahim Bin Adham, tubuhnya gemetar dikarenakan ketakutan yang luar biasa, ia ber-istighfar berkali-kali memohon ampun. “Jadi selama 4 bulan doaku tidak diterima oleh Allah bahkan munkin sholat dan ibadahku tidak diterimaNnya, dikarenakan sebiji kurma, astaqfirullah hal adhim.”

Maka Keesokan harinya ia berkemas kembali ke Makkah, untuk meminta kehalalan kurma yang telah dimakan kepada yang berhak. Ditempuhlah jalan dari Masdidil Aqsa ke Makkah selama 4 bulan. Ketika tiba di sekitar Masjidil Haram, ia segera menuju ke tempat ia membeli kurma beberapa waktu yang lalu. Tetapi, yang didapati bukan lelaki tua yang melayaninya, yang ia dapati hanyalah seorang pemuda. Ibrahim Bin Adham bertanya pada lelaki tersebut, “Wahai pemuda, 4 bulan lalu aku membeli kurma pada seorang lelaki tua, tetapi kali ini aku tidak menemukan, dimana dia sekarang?”. Pemuda tersebut menjawab, “Ia sudah meninggal dunia beberapa waktu yang lalu.” Innallllahi wainna ilaihi rojiun.

“Lalu kepada siapa harus meminta penghalalan sebiji kurma yang aku makan? ”. Kemudian Ibrahim Bin Adham menceritakan kronologinya, bagaimana ia bisa memakan kurma tanpa izin.

Setelah selesai bercerita pemuda tersebut menjawab, “Wahai bapak, aku adalah pewaris lelaki tua yang dulu bapak membeli kurma kepadanya, Insaallah aku menghalalkannya. Tetapi aku tidak tahu atas 11 saudaraku yang lain, apakah mereka juga menghalalkan?, aku tidak berani mengatasnamakan mereka karena mereka memiliki hak sebagai ahli waris. Kemudian Ibrahim meminta kepada lelaki tersebut. “Tolong berikan alamat mereka, aku akan mendatangi satu persatu dari mereka untuk memintakan kehalalannya”. Kemudian lelaki tersebut memberikan alamat saudaranya- saudaranya.

Dan setelah mendapat alamat saudara-saudara lelaki tersebut. Ibrahim bin Adham mendatangi satu persatu alamat saudara lelaki tersebut untuk meminta kehalalan.
Alhamdulillah semua ahli warisnya memberikan kehalalan tersebut. Setelah mendapatkan kehalalan Ibrahim bin Adham kembali ke Masjidil Aqsa untuk beribadah kembali. Malaikat yang 4 bulan lalu kembali bercakap-cakap, pada malam harinya Kembali memperbincangkan.

Malaikat A mengatakan,” Itu Ibrahim Bin Adham yang sekarang doanya tidak diterima karena sebji kurma.” Malaikat B menganulir pernyataan malaikat A, “Sekarang Ibrahim bin Adham telah diterima kembali oleh Allah, karena ia telah mendapatkan penghalalan sebiji kurma yang bukan haknya dari ahli waris pemilik kurma tersebut, jiwa dan raganya telah bersih seperti sediakala.”

Hanya untuk mendapat kehalalan sebiji kurma Ibrahim bin Adham rela menempuh perjalanan ratusan kilo meter, meluangkan waktu berbulan-bulan demi mendapatkan kehalalan sebiji kurma. Salah satu syarat diterimanya doa, amal ibadah kita adalah makanan, rezeki yang masuk ke dalam kita hendaknya merupakan makanan-makanan yang halal.

Allah berfirman:
“Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Qs. Al-Mu’minun: 51)
Allah berfirman :
“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah.” (QS Al Baqarah: 172).

jika hanya sebiji kurma, doa kita tidak diterima bagaimana dengan kita yang hartanya bercampur dengan barang ghasab, hasil pungli, suap, hasil korupsi, barang Subhat (tidak jelas). ? tentunya kita bisa membayangkan bagaimana dengan ibadah kita dan doa kita, jika hanya dengan sebiji kurma saja tertahan doanya.

“Dialah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak (menciptakan) langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Qs.Al-Baqarah: 29)

Allah menciptakan semua yang ada di dunia ini untuk kita, tetapi apa yang ada di bumi ini ada yang halal dan yang haram. Yang halal pun bisa jadi halal zatnya dan halal cara memperolehnya, oleh karenanya hendaknya rezeki kita memenuhi 2 unsur itu. Ibrahim bin Adham memakan kurma yang halal dzatnya namun tidak halal cara mendapatkan akhirnya ia meminta kehalalan agar halal dzatnya dan halal cara mendapatkannya. Semoga rezeki kita mengandung kedua unsur tersebut, diberi kemudahan mendapatkan rezeki yang halal serta terhindar dari barang yang subhat dan haram, amin ya robbal a’lamin. Semoga bermanfaat.

Click to comment

Most Popular

To Top