Berani Mengikuti Maksud dan Rencana Allah – Timor Express

Timor Express

RELIGI

Berani Mengikuti Maksud dan Rencana Allah

(Yoh. 1:29-34)
RD. Yakobus Longga
(Pengajar dan Pembina di Seminari Menengah St. Rafael Oepoi Kupang)

Kotoran dan noda sering menjadi penghalang untuk berlangkah. Pola pikir manusia pun seakan mengikuti kemauan zaman, meskipun nurani terkadang menolak secara halus. Keserakahan dan kerakusan semakin merajalela tatkalah kotoran dan noda masih ‘bermain’dalam takaran akhlak. Semua ingin menjadi special, walaupun harus meninggalkan banyak luka untuk sesama. Ada polesan-polesan ketakutan yang diikuti keinginan untuk terus menampilkan eksistensi dalam ruang lingkup kebersamaan, walaupun sentralisasi diri masih begitu kuat. Masih dengan rasa yang sama, kita terus berdiri untuk mengatakan dan menyatakan bahwa kita adalah pribadi unggul dan penting dalam sebuah gelombang kemajemukan dari barisan persaudaraan.
Hari ini perikop Injil menggambarkan pada kita akan sebuah penalaran batin yang mampu memahami keberadaan Tuhan secara nyata, sembari tak menyombongkan diri atas capaian-capaian yang telah terjadi. Yohanes Pembaptis tahu ada sosok penting yang sekarang hadir di hadapannya. Ada pribadi yang jauh lebih agung dan hebat. Ia tidak mengikuti maksud hatinya saja tetapi berani keluar dari ‘zona nyaman’ dirinya dan mengikuti maksud dan rencana Allah. “Lihat Anak Domba Allah, yang menghapus dosa dunia. Dialah yang kumaksud ketika kukatakan: kemudian dari padaku akan datang seorang,, yang telah mendahului aku, sebab Dia telah ada sebelum aku. Dan aku sendiri pun mula-mula tidak mengenal Dia, tetapi untuk itulah aku datang membaptis dengan air, supaya Ia dinyatakan kepada Israel”. Yohanes senantiasa menganggap dirinya lebih rendah di hadapan Yesus. Yohanes tahu kalau ia harus berada di belakang dan Kristus Yesus berada di depan. Inilah Kristus yang dimaksud Yohanes. Inilah Mesias yang telah dinantikan beribu-ribu tahun. Inilah Tuhan yang menjelma menjadi manusia dan tinggal bersama-sama dengan manusia. Allah sangat menyayangi manusia, karena itulah Ia mau hadir bersama dengan manusia.
Kebutuhan akan keselamatan membuat manusia harus mampu berintrospeksi dan berefleksi tentang tapak-tapak hidup yang telah dilaluinya. Yesus telah memberi sebuah ajaran tentang makna pembaptisan sebagai sebuah sakramen yang memasukan manusia dalam bilangan Gereja kudus. Sakramen ini pula memampukan manusia untuk terlepas dari dosa asal dan menjaga manusia untuk tak gampang terhempas oleh kotoran dan noda dosa yang tak pernah mau berpindah arah. Meskipun dosa asal terhapuskan, namun concupicensia atau kecenderungan berdosa tetap hadir dalam diri manusia. Karena itulah manusia membutuhkan penolong yakni Roh Kudus yang membantunya keluar dari duri dan beling dosa di sepanjang hidupnya.
Dari peristiwa pembaptisan, manusia semakin sadar akan cinta Yesus. Cinta yang tak terbalutkan oleh egoisme dan kesombongan. Cinta yang bernafaskan keselamatan dan bermandikan kepedulian pada manusia yang berdosa. Dari butir-butir pengorbanan dan ajaran Yesus ini, kita dapat belajar beberapa hal, yakni:
Pertama, Berani mengikuti maksud dan rencana Allah. Kerap kali kita merasa begitu hebat saat mampu berada pada titik tertinggi yang tak mungkin dicapai oleh orang lain. kita merasa kalau semua orang berada di bawah kita. Akibatnya hilang kepekaan dan kerendahan hati. Kita terlalu banyak berkutat dengan keangkuhan diri dan lupa kalau kita tetap manusia fana di hadapan Sang Pencipta. Apapun konsekuensinya, kita harus meninggalkan pola pikir manusiawi kita dan megikuti maksud dan rencana Allah. Allah tak pernah menginginkan perpecahan dan perselisihan yang dimulai oleh kesombongan pribadi kita. Jika kita mampu menanggalkan keangkuhan diri, maka kita telah berani melepaskan diri dari kekuatan duniawi dan mencoba mendekati Tuhan dengan cara dan maksud-Nya
Kedua, membuang ‘kenyamanan badani’ yang merusak relasi dengan Tuhan. Sakramen permandian yang kita terima turut memurnikan diri kita untuk selalu mengandalkan Tuhan dalam setiap usaha dan jerih payah kita. Sakramen ini juga membuat kita untuk berani membuang kenyamanan badani yang merusak hubungan kasih kita dengan Tuhan. Ketika hedonisme, konsumerisme dan apatisme begitu kental dalam hidup kita, maka hadir sebuah jurang yang sulit terseberangi. Jurang itu semakin menjauhkan kita dengan Pencipta kita. Penyembahan modern terhadap ‘kenyamanan badani’ sering membuat kita telat berintrospeksi dan terlambat berbalik arah. Akibatnya penyesalan pun menjadi ‘sahabat’ dan tak kunjung hilang dari pikiran kita. Relasi dengan Tuhan yang sempat rusak telah diperbaiki oleh Kristus Tuhan yang datang menyelamatkan kita. Untuk itu kita punya kewajiban untuk menjaga relasi ini dengan baik, lantas tak pernah takut membuang kenyamanan badani secara terus-menerus.
Ketiga, belajar dari Yohanes Pembaptis yang tetap merendah dalam segala situasi. Akan banyak orang yang membenci kita. Akan banyak orang pula yang menyukai kita. Mungkin karena capaian-capaian kita, atau keberhasilan serta kebaikan-kebaikan kita. Tapi ingatlah bahwa dalam segala sesuatu kita harus tetap merendah. Adalah pepatah tua yang selalu mengatakan : Di atas langit masih ada langit. Sehebat atau setangguh apapun kita, masih ada sosok lainnya yang akan mengungguli kita. Selalu ada orang yang lebih baik dan lebih hebat dari kita. Jika kebaikan, mimpi dan capaian kita itu dipersembahkan untuk Tuhan dan demi kebaikan sesama, maka di sanalah terletak keberhasilan dan sukacita yang sesungguhnya. Dengan menyadari keterbatasan kita dan memberi untuk Tuhan dan sesama, kita telah berani keluar dari diri kita dan berani mengikuti maksud dan rencana Allah.
Maksud dan rencana Allah itu dimulai dari hal-hal kecil yang kita temukan dalam keluarga, sekolah dan tempat kerja kita. Senyuman, tutur kata yang baik, dan persahabat tanpa tipu-tipu menjadi langkah awal yang baik untuk masuk dalam rencana dan maksud Allah. Percuma jika kita punya mimpi dan harapan yang besar bagi sesama, namun sulit sekali memberikan senyuman bagi mereka yang kita temui di rumah dan tempat kita berkarya. Ada orang yang senyumnya setahn sekali alias pas hari raya. Meskipun hatinya baik, tapi kalau wajahnya menakutkan, maka akan memberikan sebuah asumsi dan kesimpulan yang berbeda bagi orang lain. Di samping itu pula, relasi harus dibangun atas dasar sebuah kualitas Kristiani. Tidak perlu ramah di depan, tetapi siap ‘menikam’ dari belakang. Tak harus rangkul begitu mesra, namun bisa mengeluarkan ‘racun’ yang mampu membunuh.
Maksud dan rencana Tuhan harus benar-benar dihadirkan dengan sebuah kerendahan, kejujuran dan cara pandang yang benar. Tuhan memberkati setiap orang yang berkehendak baik. Amin. (*)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!