Pengaruh Seks Bebas Terhadap Kesehatan Reproduksi Remaja – Timor Express

Timor Express

KESEHATAN

Pengaruh Seks Bebas Terhadap Kesehatan Reproduksi Remaja

Oleh:
Maria G.*
Vinsen Making, S.KM. M.Kes**
drg. Jeffrey Jap, M.Kes***

MASA remaja merupakan masa perubahan atau peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa, yang disertai dengan berbagai perubahan baik secara fisik, psikis, maupun secara sosial. Remaja pada masa peralihan tersebut kemungkinan besar dapat mengalami masa krisis, yang ditandai dengan kecenderungan munculnya perilaku menyimpang. Kondisi tersebut apabila didukung oleh lingkungan yang kurang kondusif dan sifat kepribadian yang kurang baik akan menjadi pemicu timbulnya berbagai penyimpangan perilaku dan perbuatan-perbuatan negatif yang melanggar aturan dan norma yang ada di masyarakat.
Adanya kemudahan dalam menemukan berbagai macam informasi termasuk informasi yang berkaitan dengan masalah seks, merupakan salah satu faktor yang bisa menjadikan sebagian besar remaja terjebak dalam perilaku seks yang tidak sehat. Berbagai informasi bisa diakses oleh para remaja melalui internet atau majalah yang disajikan baik secara jelas dan secara mentah yaitu hanya mengajarkan cara-cara seks tanpa ada penjelasan mengenai perilaku seks yang sehat dan dampak seks yang berisiko, misalnya penyakit yang diakibatkan oleh perilaku seks yang tidak sehat.
Yang lebih memprihatinkan lagi, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mencatat hasil survei pada 2010 menunjukkan, 51% remaja di Jabodetabek telah melakukan seks pranikah. Hasil survei untuk beberapa wilayah lain di Indonesia, seks pranikah juga dilakukan beberapa remaja, misalnya saja di Surabaya tercatat 54%, di Bandung 47%, dan 52% di Medan. Hasil penelitian di Jogja dari 1.160 mahasiswa, sekitar 37% mengalami kehamilan sebelum menikah.
Dalam melakukan hubungan seksual, sebagian remaja banyak yang tidak memikirkan dampak dari dua kemungkinan yang dapat terjadi yaitu kehamilan yang tidak dikehendaki dan penyakit hubungan seksual. Kehamilan yang tidak dikehendaki dapat terjadi setiap saat sebab mereka biasanya hanya memikirkan kesenangan dan kenikmatan sesaat saja tanpa memikirkan akibatnya yang sangat merugikan remaja putri. Jika dibandingkan dengan remaja putra, remaja putri paling rentan dalam menghadapi masalah kesehatan sistem reproduksinya. Secara anatomis remaja putri lebih mudah terkena infeksi dari luar karena bentuk dan letak organ reproduksinya yang dekat dengan anus. Dari segi fisiologis, remaja putri akan mengalami menstruasi, kehamilan di luar nikah, aborsi, dan perilaku seks di luar nikah yang berisiko terhadap kesehatan reproduksinya. Selain itu dari segi sosial, remaja putri sering mendapatkan perlakuan kekerasan seksual dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.
Namun perilaku seks bebas remaja dan resiko kesehatan reproduksi remaja ini dapat diminimalisir dengan adanya pendidikan agama dan akhlak, bimbingan orang tua, dan pendidikan seks serta pengetahuan yang benar tentang kesehatan reproduksi remaja. Pengetahuan tentang kesehatan reproduksi remaja ini dapat ditingkatkan dengan pendidikan kesehatan reproduksi yang dimulai dari usia remaja. Pendidikan kesehatan reproduksi di usia remaja bukan hanya memberikan pengetahuan tentang organ reproduksi, tetapi juga bahaya akibat pergaulan bebas, seperti penyakit menular seksual dan kehamilan yang tidak diharapkan atau kehamilan beresiko tinggi.
Seks bebas adalah bebas adalah hubungan seksual yang dilakukan di luar ikatan pernikahan, baik suka sama suka atau dalam dunia prostitusi.Seks bebas bukan hanya dilakukan oleh kaum remaja bahkan yang telah berumah tangga pun sering melakukannya dengan orang yang bukan pasangannya. Biasanya dilakukan dengan alasan mencari variasi seks ataupun sensasi seks untuk mengatasi kejenuhan.

Istilah reproduksi berasal dari kata re yang artinya kembali dan kata produksi yang artinya membuat atau menghasilkan. Jadi istilah reproduksi mempunyai arti suatu proses kehidupan manusia dalam menghasilkan keturunan demi kelestarian hidupnya.Sedangkan yang disebut organ reproduksi adalah alat tubuh yang berfungsi untuk reproduksi manusia.
Remaja didefinisikan sebagai masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa. Batasan usia remaja berbeda-beda sesuai dengan sosial budaya setempat. Menurut WHO (badan PBB untuk kesehatan dunia) batasan usia remaja adalah 12 sampai 24 tahun. Sedangkan dari segi program pelayanan, definisi remaja yang digunakan oleh Departemen Kesehatan adalah mereka yang berusia 10 sampai 19 tahun dan belum kawin.Sementara itu, menurut BKKBN (Direktorat Remaja dan Perlindungan Hak Reproduksi) batasan usia remaja adalah 10 sampai 21 tahun.
Dari pengertian di atas kesehatan reproduksi remaja dapat diartikan sebagai suatu kondisi sehat yang menyangkut sistem, fungsi dan proses reproduksi yang dimiliki oleh remaja.Pengertian sehat disini tidak semata-mata berarti bebas penyakit atau bebas dari kecacatan namun juga sehat secara mental serta sosial kultural.
Masa remaja diawali dengan pertumbuhan yang sangat cepat, biasanya disebut dengan pubertas. Masa ini merupakan masa perubahan atau peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa yang meliputi perubahan fisik atau biologis, perubahan psikologis, dan perubahan sosial.
Perubahan fisik dapat diamati secara langsung, seperti pertambahan tinggi dan berat badan yang disebut pertumbuhan dan kematangan seksual sebagai hasil dari perubahan hormonal. Antara remaja putra dan remaja putri kematangan seksualnya terjadi dalam usia yang agak berbeda. Coleman and Hendry (1990) dan Walton (1994) mengatakan bahwa kematangan seksual pada remaja pria biasanya terjadi pada usia 10-13 tahun, sedangkan pada remaja putri terjadi pada usia 9-15 tahun.
Pada remaja putra perubahan itu ditandai oleh perkembangan pada organ seksual mulai dari tumbuhnya rambut kemaluan, perubahan suara, dan juga ejakulasi pertama melalui wet dream atau mimpi basah. Sedangkan pada remaja putrid pubertas ditandai dengan menarche atau menstruasi (haid pertama), perubahan pada dada (mammae), tumbuhnya rambut kemaluan, dan perbesaran panggul. Usia menarche rata-rata bervariasi dengan rentang umur 10 hingga 16 tahun. Semakin cepat seseorang mengalami menarce tentu semakin cepat pula ia memasuki masa reproduksi.
Masa remaja sering disebut juga dengan masa pancaroba, masa kritis, dan masa pencarian identitas. Pada masa remaja labilnya emosi erat kaitannya dengan perubahan hormon dalam tubuh. Sering terjadi letusan emosi dalam bentuk amarah, sensitif, bahkan perbuatan nekad. Ketidakstabilan emosi menyebabkan mereka mempunyai rasa ingin tahu dan dorongan untuk mencari tahu yang sifatnya eksperimen dan eksploratif. Pada masa ini banyak terjadi kenakalan remaja akibat tidak terpenuhinya kebutuhan-kebutuhan mereka seperti kebutuhan akan prestasi, komformitas, kebutuhan yang berhubungan dengan kehidupan keluarga, kebutuhan akan identitas diri, dan kebutuhan seksual.

PENGARUH INDUSTRI HIBURAN DI ERA GLOBALISASI

Ada berbagai macam hiburan yang tersedia yang mempengaruhi perilaku seks bebas di kalangan remaja, antara lain:
Diskotik, bar, dan pub merupakan tempat mangkalnya para pecandu minuman keras, tempat berkencannya kupu-kupu malam para lelaki hidung belang, tempat terjadinya peredaran segala macam narkoba seperti ganja, heroin, ekstasi, dan sebagainya. Di tempat inilah terjadi berbagai macam transaksi baik transaksi kencan maupun transaksi narkoba dan minuman keras. Banyak remaja yang mengalami krisis moral mengunjungi tempat-tempat semacam ini untuk mencari hiburan semu dan pelarian dari masalah yang dihadapinya.
Banyaknya sinetron baik impor maupun lokal yang ditayangkan di televisi sering menggambarkan tentang kebebasan bergaul antara pria dan wanita, keberanian istri pada suami, serta tidak adanya adab seorang anak terhadap orang tua. Adanya film-film impor yang bermotif kekerasan seperti sinema unggulan, sinema prima, layar unggulan yangmenitikberatkan pada tawuran antar geng, persaingan antar mafia, perampokan, pembunuhan sadis, sedikit banyak dapat mempengaruhi jalan pikiran remaja untuk melakukan tindak criminal.
Dewasa ini banyak sekali kaset-kaset video porno yang diproduksi pihak produser luar negeri dan local yang seringkali dikonsumsi oleh kawula muda, sehingga dapat merusak akhlak dan moral mereka.
Selain memiliki efek positif sebagi tempat rekreasi, taman hiburan bisa juga menimbulkan efek negatif yang membahayakan bila disalahgunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Sekarang banyak sekali seks bebas yang dilakukan di taman-taman hiburan, baik oleh pasangan remaja yang dimabuk cinta, WTS (Wanita Tuna Susila) dan para lelaki hidung belang, waria, maupun oknum-oknum lain yang menyalahgunakan taman-taman hiburan.

Akhir-akhir ini industri hiburan bioskop tidak seramai dahulu dikunjungi penonton. Hal ini merupakan akibat dari membanjirnya film-film impor di stasiun-stasiun televisi swasta, yang dahulu film-film tersebut hanya bisa dinikmati di layar bioskop saja. Pengelola media hiburan ini tidak segan-segan memutar film-film porno yang disediakan untuk segala umur, untuk menarik para pengunjung. Mereka hanya melihat segi keuntungannya saja tanpa menghiraukan pengaruh-pengaruh negatif dalam perkembangan jiwa remaja setelah menonton film tersebut.

Dampak Seks Bebas

Hamil yang tidak dikehendaki (unwanted pregnancy)
Penyakit Menular Seksual (PMS) – HIV/AIDS
Psikologis
Ada beberapa upaya prefentif yang bisa dilakukan untuk penanggulangan dampak seks bebas, antara lain:
Pendidikan agama dan akhlak.
Pendidikan seks dan reproduksi.
Bimbingan orang tua.
Meningkatkan aktivitas remaja ke dalam program yang produktif

*) Mahasiswi Stikes CHMK
**) Pengasuh Rubrik Timex CHMK Health Corner
***) Penggagas Rubrik Timex CHMK Health Corner

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!