Tanah Menjarite ‘Makan’ Korban – Timor Express

Timor Express

FLORES RAYA

Tanah Menjarite ‘Makan’ Korban

DIAMANKAN. Para pelaku yang diamankan polisi digiring masuk Mapolres Mabar.

PETRUS BATAONA/TIMEX

LABUAN BAJO, TIMEX – Dua warga, Donatus, 50 dan Aloysius, 45, warga Kampung Kusu Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai tewas di Menjarite Desa Tanjung Boleng Kecamatan Boleng, Kabupaten Manggarai Barat setelah menjadi korban yang diduga dibunuh warga Mbehal Desa Pota Wangka Kecamatan Boleng.

“Dari data diduga sementara kedua korban dibunuh warga yang mengaku dari Mbehal Desa Pota Wangka,” jelas Kapolres Manggarai Barat, AKBP Supiyanto kepada Timor Express, Senin (16/1).

Dijelaskan, semula lokasi tanah sengketa diklaim milik Fauziah dengan nomor sertifikat 00455 alamat Desa Tanjung Boleng yang dijualbelikan kepada Mrs Robert, warga asing berkebangsaan Australia. Tanah itu menjadi sengketa ketika masyarakat adat Mbehal ingin mencari tahu kejelasan asal usul perolehan sertifikat yang diterbitkan Badan Pertanahan Nasional (BPN) Kabupaten Manggarai Barat.

Dari mana diperoleh, siapa yang menjualnya hingga terbit sertifikat itu. Sebab menurut warga Mbehal, selama ini lokasi itu belum ada penataan atau pembagian dari tokoh adat Mbehal sebagai pemilik lingko, sehingga tidak ada siapapun yang menjual tanah itu.

Ketika sedang dalam sengketa, warga Mbehal melayangkan surat kepada Polres Mabar untuk mediasi penyelesaian masalah. Anggota Polres
pun turun ke lokasi untuk mediasi dan disepakati bahwa tanah sengketa masuk status quo. Karena itu, pihak manapun dilarang melakukan aktivitas
du atas lahan itu.

Warga Mbehal akhirnya mengamuk ketika melihat aktivitas alat berat berupa ekskavator yang didatangkan Mrs Robert dengan mempekerjakan tujuh orang tenaga harian termasuk kedua korban itu untuk melakukan perataan tanah dan pembuatan jalan masuk.
“Buntut keributan ini akhirnya dua orang menjadi korban,” katanya.

Supiyanto menjelaskan, pihaknya sudah mengamankan 31 warga Mbehal di Mapolres untuk selanjutnya dimintai keterangan dan digali informasi dari mereka. Sejumlah barang bukti berupa puluhan parang, tombak, tameng, panah dan senjata tajam lainnya sudah diamankan polisi.

Pihaknya menduga, aksi itu sudah direncanakan sebelumnya, melihat para pelaku membawa peralatan perang lengkap. Dia menegaskan, akan menelusuri adanya kemungkinan otak dan dalang dibalik aksi pembunuhan.

Selasa (17/1) kemarin, pihaknya melakukan otopsi di Puskesmas Labuan Bajo karena masih menunggu dokter dari Kupang.
Dia menambahkan, untuk meningkatkan keamanan dan mengantisipasi kemungkinan amukan pihak keluarga korban, Polres Mabar mendatangkan bantuan dari Polres Manggarai didukung Satbrimob Ruteng sebanyak satu peleton untuk berjaga-jaga. (krf5/ays)



Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!