Ngaku Dokter Saraf, Petrus Rubala Diciduk Polisi – Timor Express

Timor Express

KRIMINAL

Ngaku Dokter Saraf, Petrus Rubala Diciduk Polisi

DOKTER PALSU. Inilah Petrus Rulaba yang mengaku sebagai dokter spesialis saraf di RS Siloam. Dia kini diamankan di Mapolres Kupang Kota untuk untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

IST

Tangani Pasien Stroke, Minta Bayaran Rp 2,5 Juta

KUPANG, TIMEX – Pihak Polres Kupang Kota kembali membongkar praktik pengobatan illegal yang dilakukan oleh Petrus Rubala alias Ado, 35.

Kasus ini terungkap pada Sabtu (18/2), sekira pukul 11.00 di kediaman salah seorang pasien stroke, Hatsar Henukh, di wilayah RT 24/RW 09, Kelurahan Maulafa, Kecamatan Maulafa.

Petrus Rubala adalah warga RT 19/RW 06, Kelurahan Maulafa. Praktik pengobatan ala pria asal Kabupaten Flores Timur itu bagi penderita sakit stroke yakni memeriksa tensi darah mengunakan stetoskop, menusukan jarum ke badan korban dan memasukkan selang ke hidung korban.

Usai ditangani Petrus Rubala, Hatsar Henukh langsung tertidur. Hanya saja, untuk balas jasa medis, Petrus Rubala meminta bayaran sebesar Rp 2,5 juta.

Namun keluarga Hatsar Henukh tidak langsung memberikan uang yang diminta pelaku. Keluarga malah melaporkan praktik illegal tersebut ke Mapolres Kupang Kota. Pasca laporan itu, Petrus Rubala langsung diciduk polisi.

Kasat Reskrim Polres Kupang Kota, AKP Lalu Musti Ali Lee yang dikonfirmasi Timor Express, Minggu (19/2), mnegatakan praktik pengobatan ilegal tersebut diungkap setelah keluarga Hatsar Henukh melapor ke Mapolres Kupang Kota.

Lalu menguraikan, Petrus Rubala saat diperiksa mengaku dirinya adalah dokter spesialis saraf di Rumah Sakit (RS) Siloam.

“Awalnya, Agnes Rumince Ndaumanu (pelapor, Red) bertemu dengan Petrus Rubala di RSUD Prof.DR.W.Z.Johannes Kupang setelah diperkenalkan oleh Mia Henukh bahwa Petrus Rubala adalah dokter spesialis syaraf di RS Siloam,” ujar Kasat Reskrim.

Setelah berkenalan dengan Perus Rubala, Agnes Rumince Ndaumanu lalu menanyakan ke Petrus Rubala mengapa dirinya tidak menerima pasien di tempat praktik.

Oleh Petrus Rubala dijelaskan bahwa dirinya merasa prihatin dengan penderita sakit stroke, sehingga Agnes Rumince Ndaumanu pun percaya. Tak hanya itu, Agnes Rumince Ndaumanu dan Petrus Rubala pun saling bertukar nomor ponsel.
Merasa percaya setelah ngobrol dengan Petrus Rubala, Agnes Rumince Ndaumanu lalu menceritakan pertemuannya dengan Petrus Rulaba ke seorang saudaranya, Aplonia Ndaumanu.

Kebetulan, suami Aplonia Ndaumanu sedang sakit stroke. Oleh karena itu, pada Jumat (17/2), sekira pukul 18.30, Aplonia Ndaumanu menghubungi Petrus Rubala untuk datang berkunjung ke rumahnya karena suaminya menderita stroke.

Tak lama kemudian, Petrus Rubala pun datang dan bertemu dengan Hatsar Henuk yang sakit stoke.

Di rumah Aplonia Henukh, lanjut Kasat Reskrim, Petrus Rubala lalu melakukan pengobatan dengan cara memeriksa tekanan darah. Selanjutnya, dia menusukan jarum ke badan dan memasukan selang ke hidung Hatsar Henukh.

Atas tindakan medis itu, Petrus Rubala meminta uang sebesar Rp 2,5 juta ke Aplonia Henukh.

Pada Sabtu (18/2) Petrus Rubala datang lagi ke rumah Aplonia Henukh untuk melakukan pengobatan. Namun, kondisi sakit Hatsar Henukh justru tidak berubah.

“Keluarga curiga sehingga langsung lapor ke Polres Kupang Kota. Saat kita amankan, dia (Petrus Rubala, Red) mengaku kalau dirinya bukan seorang dokter saraf,” terang Kasat Reskrim.

Dua orang keluarga Hatsar Henukh, masing-masing Yansen Ufi dan Orimus mengaku kondisi sakit Hatsar Henukh bertambah parah.

“Kami curiga karena dia tidak punya tempat praktik. Dia juga minta bayaran sangat mahal padahal hanya suntik dan masukkan selang saja. Maka itu kami langsung lapor polisi,” ujar Yansen Ufi, diamini Orimus. (gat/joo)



Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!