46 Balita Positif Gizi Buruk – TIMOREXPRESS.COM

TIMOREXPRESS.COM

KESEHATAN

46 Balita Positif Gizi Buruk

Di Awal 2017

KUPANG, TIMEX – Hari Gizi Nasional (HGN) Indonesia jatuh setiap tanggal 28 Februari. Sehubungan dengan momentum HGN, Pemerintah Kota Kupang melalui Dinas Kesehatan sampai saat ini masih bergulat dengan upaya untuk menekan persoalan gizi buruk.

Kepada Koran ini, Kabid Kesehatan Keluarga Dinas Kesehatan Kota Kupang, I Gusti Agung Ngurah Suarnawam, mengatakan, setiap tahun, kasus gizi buruk tentu selalu ada. Baik itu gizi buruk pada balita, maupun gizi buruk pada ibu hamil. Dan pada tahun 2016 lalu, terdapat 128 anak yang menderita gizi buruk. “Kebanyakan kasusnya berulang. Ketika diberikan PMT, kondisi balita kembali sehat. Setelah itu, ada anak yang sama, kembali menderita gizi buruk,” ujarnya saat diwawancara, Senin (27/2).

Di tahun ini, urai Ngurah, sudah ada 46 kasus gizi buruk di Kota Kupang dan semua penderita adalah balita. Penentuan status gizi buruk pada 46 balita ini, diukur berdasarkan porporsi tubuh balita. Yaitu dengan melihat indikator berat badan terhadap tinggi badan (BB/TB).

Ngurah menambahkan, kasus gisi buruk di Kota Kupang terbilang spesifik. Pasalnya balita yang mengalami gizi buruk justru banyak dari keluarga-keluarga yang tidak tinggal meneta. Akibatnya, pemantauan status gizi dan pertumbuhan balita di posyandu-posyandu mengalami kendala. Selain itu, lanjut Ngurah, Kota Kupang juga ada banyak pendatang yang mencari keberuntungan. Ketika mereka belum menemukan pekerjaan, maka keluarga yang menampung mereka, mau tidak mau harus menanggung kebutuhan konsumsi.

Tak jarang ada keluarga yang sulit memenuhi kebutuhan pangan. Akibatnya asupan gizi bagi balita dalam rumah tidak lagi diperhatikan,” jelasnya.

Untuk menekan angka gizi buruk, Ngurah menyebutkan, pemerintah pada prinsipnya telah melakukan upaya jangka pendek dan upaya jangka panjang. Upaya jangka pendek yang dilakukan, misalnya dengan pemberian PMT penyuluhan di posyandu-posyandu. Selain itu ada pemberian PMT pemulihan selama 90 hari bagi balita penderita gizi buruk yang telah mendapatkan perawatan. Baik di puskesmas maupun di rumah sakit. “Sedangkan upaya jangka panjang, kami lebih banyak melakukan upaya promotif atau penyuluhan kesehatan. Selain itu juga ada banyak kegiatan pemberdayaan masyarakat yang telah diberikan oleh pemerintah,” ungkap Ngurah. (r2/sam)

Click to comment

Most Popular

To Top