Dua Tahun Tak Digaji, TKW Lapor Polisi – Timor Express

Timor Express

HUKUM

Dua Tahun Tak Digaji, TKW Lapor Polisi

LAPOR POLISI. Matilda Kollo didampingi Pdt. Emmy Sehertian dari Badan Advokasi Hukum dan Perdamaian Sinode GMIT saat membuat laporan di SPKT Mapolda NTT, Senin (27/2).

OBED GERIMU/TIMEX

 Matilda Kollo dari Kabupaten Belu

KUPANG, TIMEX–Matilda Kollo, tenaga kerja wanita (TKW) asal Kabupaten Belu memang bernasib sial karena dua tahun bekerja di Malaysia tanpa hasil.

Agensi yang mempekerjakannya di Negeri Jiran ternyata ingkar janji. Gajinya sebesar 700 ringgit per bulan selama dua tahun tak dibayar.

Matilda pun melaporkan kasus yang dialaminya ke Mapolda NTT. Dia didampingi Pdt. Emmy Sehertian dari Badan Advokasi Hukum dan Perdamaian Sinode GMIT dan beberapa relawan solidaritas kemanusiaan untuk korban perdagangan orang di Kupang.

Pantauan Timor Express, Matilda Kollo tiba di Mapolda NTT sekira pukul 15.00, Senin (27/2). Lalu membuat laporan polisi di Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT).

Usai membuat laporan polisi, korban kemudian diarahkan ke Ditreskrimum untuk diambil keterangan lebih lanjut. Pdt. Emmy Sehertian saat diwawancarai mengaku mengetahui kasus itu setelah menerima pengaduan korban. “Kebetulan kami membuka tempat aduan dan banyak yang sudah tahu, sehingga ada teman relawan yang antar korban ke kami,” kata Emmy.

Perempuan berkaca mata itu mengatakan, korban dalam keterangannya mengaku ke Malaysia dari tahun 2013 dan pulang kampung tahun 2016. “Korban hanya dibekali agensi uang 2.000 ringgit untuk biaya pulang. Agensi berjanji akan mentransfer gajinya setelah korban tiba di Kupang, tapi sampai hari ini janji itu tidak dipenuhi,” sebut Emmy.

Ia melanjutkan, korban juga mengaku selama bekerja di Malaysia telah mengalami pembatasan ruang gerak yang luar biasa. “Saat bekerja di majikan memang baik, tetapi ketika di agensi, dia adalah saksi hidup dari segala kekerasan yang dialami teman-temannya. Dia sendiri menjadi saksi ada TKW yang meninggal dunia,” ungkapnya.

Matilda pun berhasil pulang kampung setelah ngotot mengurus paspor di KBRI. “Korban berhasil dapat paspor ’tendang’ yang masa berlakunya hanya dua minggu untuk bisa pulang ke Indonesia,” sebut Emmy.

Badan Advokasi Hukum dan Perdamaian Sinode GMIT juga mendalami proses perekrutan, dimana korban direkrut di desanya oleh seorang perempuan dan seorang laki-laki, kemudian dibawa ke Kupang.

“Korban saat direkrut tinggal bersama ayahnya yang sudah sangat tua. Perekrut juga menyerahkan uang ‘siri pinang’ kepada ayah korban,” beber Emmy.

“Seluruh proses sampai ke Malaysia dilakukan oleh Adi Sinlaeloe. KTP korban diubah pakai alamat Kupang. Korban direkrut oleh PT. Santosa yang kantornya dekat Rumah Sakit Wira Sakti. Kami sudah coba cek kantor itu tapi sudah tidak ada. Proses rekrutmen sampai penempatan masuk dalam kualifikasi TPPO,” lanjut sosok murah senyum itu.

Terpisah, Kabid Humas Polda NTT, AKBP Jules Abast yang dikonfirmasi Koran ini membenarkan adanya laporan tersebut. Menurutnya, pihak Ditreskrimum segera menelaah kasus tersebut dan apabila memenuhi unsur pidana maka akan ditindaklajuti dengan proses penyelidikan. (joo/ito)



Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!