Pekerjaan Lapen di atas Jalan Lapen – timorexpress.fajar.co.id

timorexpress.fajar.co.id

RAKYAT TIMOR

Pekerjaan Lapen di atas Jalan Lapen

JALAN RUSAK. Kondisi jalan perbatasan tepatnya di Desa Napan menuju kantor Camat Bikomi Utara yang dikerjakan CV Kemilau Bahagia sudah rusak. Batu pecahan besar terlihat diatas jalan lapen. Foto diambil, Jumat (17/3)

YOHANES SIKI/TIMEX

Kondisi Jalan Perbatasan Saenam-Nunpo

KEFAMENANU, TIMEX – Pelaksanaan tujuh paket peningkatan ruas jalan perbatasan tahun 2013 pada Badan Pengelola Perbatasan Daerah (BPPD) Kabupaten TTU dengan anggaran sebesar Rp 10,5 miliar, kini menjadi sorotan penyidik Kejari TTU. Tiga paket diantaranya menjadi bidikan jaksa, lantaran dinilai kerugiannya paling besar sesuai hitungan Politeknik Negeri Kupang.

Hal ini berbeda dengan pantauan Timor Express, Jumat (17/3) di lokasi proyek. Kondisi fisik empat paket jalan yang tidak disentuh jaksa, justru kondisinya paling parah.
Seperti pekerjaan ruas jalan Saenam–Nunpo section II yang dikerjakan CV Viarie dengan nilai kontrak Rp 880.000.0000 dan peningkatan ruas jalan Saenam–Nunpo section III yang dikerjakan CV Tritunggal Abadi dengan nilai kontrak Rp 2.057.200.000.

Jalan lapen yang dikerjakan, dibangun diatas jalan aspal yang lama dan tidak selesai dikerjakan. Bahkan, tidak ada saluran disepanjang bahu jalan. Tapi, pekerjaan itu sudah dilakukan pencairan 30 persen, bahkan ada realisasi tambahan tahap II. Padahal, tidak ada perkembangan kemajuan fisik lapangan.

Kondisi bangunan jalan itu tidak tampak lagi jalan aspal, karena disepanjang jalan semuanya tertutup pasir dan lumpur. Titik lokasi pekerjaan jalan perbatasan itu tepatnya di Desa Tubu dan Desa Nilulat Kecamatan Bikomi Nilulat.
Kepala Desa Nilulat, Benediktus Lake mengaku sangat kesal karena pekerjaan jalan itu terkesan asal jadi. Hasilnya bukan untuk membantu masyarakat, tapi justru membahayakan warga pelintas.
Dia mengaku, ruas jalan yang dikerjakan di sejumlah titik kondisinya sudah rusak sebelum dimanfaatkan, bahkan kini sudah tertutup pasir dan lumpur.
Menurutnya, jalan yang dikerjakan kontraktor asal Kota Kupang itu, titik lokasinya tidak tersentral karena hanya memilih lokasi jalan yang rata. Bahkan, saat perkerasan jalan hanya menggunakan alat berat stom wals ukuran 3 ton, sehingga tidak bisa dilokasi tanjakan, bahkan hanya mengaspal ulang jalan lama yang sudah diaspal.

“Waktu kerja awal kita sudah protes karena mereka bangun di jalan aspal lama yang sudah ada. Belum lagi mereka hanya pakai alat berat yang kecil untuk pemadatan. Saya tahu jelas ini pekerjaan karena saat itu saya jabat ketua BPD,” ungkapnya.

Hal senada disampaikan Blasius Palbeno, warga Desa Tubu. Ia mengaku sangat kesal karena pekerjaan jalan lapen ditelantarkan begitu saja oleh kontraktor. Masyarakat tidak bisa menikmati jalan lapen, karena tidak selesai dikerjakan, bahkan sejumlah titik yang dikerjakan kondisinya sudah rusak parah sebelum dimanfaatkan warga.
“Lihat saja ini batu kerikil masih tertumpuk di pinggir. Saya kesal karena ini jalan buat sembarang saja,” katanya.

Bukan hanya itu, kondisi jalan perbatasan tepatnya di ruas jalan Faenake-Banain yang dikerjakan CV Pamitran dengan anggaran sebesar Rp 1.310.002.000 dan pekerjaan ruas jalan kantor Kecamatan Bikomi Utara yang dikerjakan CV Kemilau Bahagia dengan anggaran sebesar Rp 869.500.000, kondisi jalannya hanya tertinggal bongkahan batu ukuran 5×7. Kondisi ini membuat kendaraan yang melintas terasa bukannya berjalan diatas jalan lapen.

Kuat dugaan, bangunan jalan itu tidak menggunakan batu pecahan ukuran 5×3 dan batu split. Hasil pekerjaan jalan kantor Kecamatan Bikomi Utara yang dikerjakan CV Kemilau Bahagia, dikabarkan materialnya tidak lolos uji laboratorium Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kabupaten TTU, yang merupakan satu-satunya laboratorium di TTU.

Hal ini terbukti dalam laporan hasil pemeriksaan BPK RI Perwakilan Provinsi NTT tahun 2014 tidak mengakui hasil paket pekerjaan itu hingga kini. Kendati realisasi pembayarannya sudah 90 persen dari BPPD TTU, tetapi sejumlah item kegiatan tidak selesai dikerjakan seperti pasangan saluran penahan, setelah digali hanya dikerjakan sejumlah titik saja. Sehingga, membuat warga pemilik lahan kesal karena halaman rumahnya terancam longsor.

Helena Abi, warga Desa Napan mengaku, ruas jalan menuju kantor camat kondisinya sudah rusak sebelum dimanfaatkan. Apalagi dikerjakan saat musim hujan. Bahkan, saluran penahannya juga tidak selesai dikerjakan, sehingga membuat warga merasa kesal karena pekerjaan asal jadi.

“Ini jalan kerja asal jadi waktu kerja saja sudah rusak. Lihat saja saluran tidak selesai dikerjakan. Waktu itu ada orang dari kabupaten dan provinsi sempat datang dan lihat ini jalan,” katanya. (mg24/ays)

Click to comment

Most Popular

To Top