Penguatan Peran Keluarga dalam Pendidikan Anak – TIMOREXPRESS.COM

TIMOREXPRESS.COM

OPINI

Penguatan Peran Keluarga dalam Pendidikan Anak

Oleh: Rade A. Ludji
(Pengajar Muda pada Yayasan Tefila-Kupang)

Mengharapkan anak baik, pintar dan menghormati orang tua serta berguna bagi bangsa dan Negara menjadi impian semua orangtua. Impian itu menjadi masalah apabila pendidikan bagi anak tidak siapkan secara baik. Masalah pendidikan telah menjadi sorotan semua pihak, keluarga (orangtua), pemerintah (lembaga pendidikan formal, sekolah-sekolah) dan pihak terkait yang peduli pendidikan. Anak yang tidak dibina secara baik cenderung menjadi masalah tersendiri sebagai generasi penerus keluarga, bangsa dan negara. Sehingga perlu peran serta dari orangtua untuk mengenal masa yang tepat dalam mendidik dan membina anak-anak. Dengan harapan anak akan menjadi pribadi yang mandiri dan tangguh di masa hidupnya kelak.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), disebutkan, pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang dalam usaha mendewasakan manusia melalui pengajaran dan pelatihan. Keluarga adalah ibu dan bapak beserta anak-anak atau seisi rumah. Sedangkan, anak adalah yang baru berumur enam tahun. Secara harafiah, pendidikan dan peran orangtua, keluarga sangat strategis dalam pembentukan karakter dan skill anak.
Sebuah fakta yang telah banyak diteliti oleh peneliti dunia. Pada usia 0 – 6 tahun, otak anak berkembang dengan sangat cepat hingga 80 persen. Pada usia tersebut otak menerima dan menyerap berbagai macam informasi tanpa mampu menyaring dengan baik. Masa-masa tersebut dimana perkembangan fisik, mental maupun spiritual anak mulai terbentuk. Sehingga banyak yang menyebutnya sebagai masa emas (Golden Age). Pada tahap ini semua faktor penunjang karakter anak orangtua mesti tahu dan mendukung.
Penelitian lain yang pernah dilakukan oleh Brazelton menyebutkan, bahwa pengalaman anak pada masa Golden Age ini menentukan apakah anak itu mampu menghadapi tantangan atau tidak dan apakah ia menunjukkan semangat tinggi untuk belajar dan berhasil dalam hidupnya. Namun hal ini belum disadari oleh anak-anak. Mereka belum tahu bagaimana mengisinya sehingga orangtua memiliki tanggung jawab penuh memikirkan hal-hal apa saja yang perlu diisi pada Golden Age ini.
Kisah lain mengungkapkan bahwa anak dibesarkan dalam lingkungan yang sulit akan lebih mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan dia berada. Hal tersebutlah yang membuatnya bertumbuh menjadi pribadi yang tegar, tidak mudah menyerah pada keadaan dan dapat hidup mandiri. Berbeda dengan anak yang dibesarkan dalam keadaan nyaman. Semua hal sudah disediakan. Terkadang itu menjadi sebuah permasalahan bagi anak. Mereka akan bertumbuh menjadi pribadi yang gampangan dan tak memiliki daya juang dalam kehidupannya atau sangat tergantung pada orangtua dan keluarga.
Ketika anak-anak itu berusia 2 – 3 tahun, mereka ingin melakukan segala sesuatu. Namun terkadang orangtua terlalu over protective (Terlalu mencemaskan dan melindungi) terhadap anak. Anak memanjat kursi, jangan lakukan itu nanti jatuh. Ketika anak menyentuh barang-barang tertentu, tidak diperbolehkan. Barang tersebut takut pecah dan kotor. Anak menangis dimanjakan dengan sesuatu, seperti uang dan bermain game, menonton televisi dan lain-lain. Akhirnya rasa ingin tahu yang ada dalam diri anak tidak tercapai dan menjadi hilang. Padahal anak perlu menggali kreatifitas dan rasa keingintahuan. Memanjakan dan membatasi anak membuat mereka akhirnya hanya melakukan sesuatu ketika diminta untuk melakukannya. Apabila hal ini terjadi bertahun-tahun, maka akan terbentuk sebuah pola hidup atau sebuah karakter anak yang pasif dan kurang mandiri.
Apa yang terjadi jika anak dibiarkan bermain dengan pembantu atau diasuh baby sister? Mungkin saja, anak itu cenderung menjadi anak yang mewakili karakter dari didikan pembantu karena waktu bersama pembantu lebih banyak. Pada masa pembentukkan karakter itulah harusnya anak mendapatkan kasih sayang dari orang tua bukan pembantu. Karena apa yang dipikirkan pembantu belum tentu mewakili keinginan dan karakter dari orangtua. Tentunya orangtua menginginkan karakter anak yang baik, memiliki jiwa juang dan menghormati kedua orangtuanya. Namun pembantu hanya menjalankan kewajibannya dan mendapatkan upah, tidak lebih dari itu.
Hal tersebut memberi pengaruh terhadap pendidikan anak bahkan sampai pada dunia kerja. Mereka hanya akan belajar ketika diminta untuk belajar. Bahkan lebih mengerikan lagi ketika berada di sekolah, mereka hanya mempelajari sesuai bahan yang diberikan oleh guru, tidak memiliki inisiatif mencari tahu lebih. Jadi, mereka hanya akan menjadi pembelajar pada saat mereka berada pada usia sekolah atau ketika ada orang yang meminta mereka untuk belajar. Mereka juga akan cenderung menjadi pembelajar yang pasif.
Pada titik inilah kita bisa melihat penguatan peran keluarga dalam pendidikan anak. Keluarga memiliki peranan yang sangat vital dalam keseluruhan hidup seorang anak. Keluarga bertanggungjawab penuh membimbing dan mengarahkan anak-anaknya. Tanggung jawab orangtua lebih dari sekadar mencari nafkah, memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan serta menyekolahkan anak. Namun orangtua seharusnya menjadi pendidik utama. Apabila orangtua kita tidak menjadi pendidik utama dan orang lain yang memegang peranan tersebut. Sekolah, televisi, teman bermain, pembantu ataupun orang dewasa lainnya yang mendidik mereka maka didikan itu bisa ke arah yang lebih baik ataupun kearah yang lebih buruk.
Stefen Thong dalam bukunya, “Arsitek Jiwa” mengatakan, waktu yang tepat untuk menentukan kesuksesan dan keberhasilan seseorang adalah pada saat masih usia dini dan 100 persen waktu anak dihabiskan bersama keluarga. Oleh karena itu, keluarga merupakan faktor penting dalam pendidikan seorang anak. Sebagian besar anak Indonesia, sampai berumur 18 tahun menghabiskan waktu 60-80 persen bersama keluarga.
Waktu yang cukup ini mestinya dimanfatatkan oleh orangtua. Justru yang seringkali terjadi, ketika memasuki usia sekolah, orangtua menyerahkan pendidikan anak seutuhnya ke pihak sekolah dan menyalahkan anak atau pihak sekolah apabila mereka memiliki karakter ataupun nilai yang kurang memuaskan. Terkadang orangtua juga ingin memberikan pesan yang tepat tetapi dengan cara yang salah. Seperti membentak dan meneriaki anak ketika salah, dengan harapan melakukan sesuatu. Orangtua tidak bisa mengharapkan anak memiliki karakter baik atau pengetahuan yang cukup jika belum memberikan waktu yang cukup dan teladan dari orangtua.
Kita tau sebagian besar waktu anak dihabiskan belajar dari lingkungan sekitar. Masa ini adalah masa dimana anak bertumbuh dan berkembang sudah semestinya ada dalam pengawasan, pendampingan dan didikan dari orangtua. Memilih dan menentukan sekolah yang tepat dengan mengenal potensi dari pada anak menjadi penting, sehingga apa yang menjadi hobi dan cita-cita dari pada anak tercapai. Hal ini terjadi apabila orangtuanya memiliki banyak waktu terhadap anak dan mendalami secara baik. Pentingnya memilih sekolah formal yang tepat supaya anak dapat mengembangkan karakter dan kecerdasan secara baik. (*)

Click to comment

Most Popular

To Top