Tiga Desa Endemis Malaria – Timor Express

Timor Express

FLORES RAYA

Tiga Desa Endemis Malaria

POSE BERSAMA. Pengurus dan anggota Patelki Matim pose bersama staf Dinas Kesehatan dan Lurah Watu Ngene bersama staf di depan kantor Kelurahan Watu Ngene, Rabu (19/4) lalu.

FANSI RUNGGAT/TIMEX

Diagnosa Patelki di Kecamatan Kota Komba

BORONG, TIMEX – Persatuan Ahli Teknologi Laboratorium Kesehatan Indonesia (Patelki) Cabang Kabupaten Manggarai Timur (Matim), Rabu (19/4) mendiagnosa penyakit malaria secara masal. Dilakukan pada tiga desa endemis di Kecamatan Kota Komba.

Diagnosa yang dilakukan dengan cara mengambil darah secara gratis pada warga di tiga desa, yakni Desa Bamo, Komban dan Kelurahan Watu Ngene.
Darah yang diambil akan dibawa dan diperiksa di laboratorium Puskesmas Wae Lengga.

Pantauan Timor Express, aksi sosial itu mendapat antusias warga. Pelayanan dilakukan di posyandu yang ada di tiga desa tersebut. Kegiatan itu juga melibatkan sejumlah petugas dari Dinas Kesehatan Kabupaten Matim. Serta didampingi seluruh aparat kelurahan/desa dan petugas Puskesmas Wae Lengga.

Ketua Paltelki Matim, Veronika Yuliani Raha kepada Timor Express menjelaskan, kegiatan sosial itu dilaksanakan selama lima hari. Melibatkan seluruh pengurus dan anggota Patelki Matim. Di mana, jumlahnya sebanyak 37 orang yang tersebar dan bertugas di 20 dari 25 puskesmas yang ada di Kabupaten Matim.

Menurutnya, kegiatan mendapat dukungan dari Dinas Kesehatan Matim dan pemerintah tiga kelurahan/desa. Tiga desa itu dipilih, karena kategori wilayah endemis. Dari data yang ada, tahun 2016 ada 27 kasus penyakit malaria di tiga wilayah tersebut. Namun secara keseluruhan di Matim, trend kasusnya sudah menurun. Hanya di Kota Komba, khusus di tiga desa masih ada.

“Ini kegiatan yang pertama, karena Petelki baru terbentuk di Matim. Kita laksanakan ini dalam rangka menyambut HUT Patelki yang ke-21. Selain itu, kegiatan ini sebagai wujud kepedulian sosial Patelki terhadap kemanusiaan. Semua logistik untuk kegiatan ini, dibantu oleh Dinas Kesehatan Matim,” tutur Veronika.

Dikatakan, setiap desa ditargetkan harus mencapai 80 persen dari jumlah warga di satu desa yang diambil dan diperiksa darahnya dalam kegiatan aksi sosial tersebut. Dalam hari pertamanya, jumlah warga di Kelurahan Watu Ngene yang telah diambil darahnya sebanyak 864 orang. Sementara di Desa Bamo sebanyak 202 orang dan Desa Komba sebanyak 255 orang.

Darah yang telah diambil kata Veronika, langsung dibawa ke laboratorium Puskesmas Wae Lengga. Hasi pemeriksaan pun, akan diserahkan kepada puskesmas setempat. Jika dalam pemeriksaan, hasil ada yang positif, maka pihaknya akan berkoordinasi dengan dinas kesehatan untuk tindakan lebih lanjut seperti pengobatan, pembagian kelambu dan yang paling penting juga dilakukan sosialisasi.

“Kami dari Patelki harapkan, hasilnya nol atau semuanya negatif. Kita tidak fokus hanya pada pemeriksaan malaria, tapi ke depan kita rencana untuk periksa golongan darah, gula darah dan juga penyakit lain yang menonjol di Matim. Kita imbau, agar pemeriksaan darah itu sangat penting untuk mengetahui kondisi kesehatan,” katanya.
Sementara, Lurah Watu Ngene, Herman Cedot yang ditemui Timor Express di sela-sela kegiatan mengatakan, sangat antusias dengan kegiatan yang dilaksanakan Patelki Cabang Matim di Kota Komba. Pasalnya, pada umumnya daerah itu endemis malaria. Dia berharap dari kegiatan itu ada feedback.

Hal itu lanjut Herman, supaya bisa tahu seperti apa perkembangannya. Dia berharap, Patelki Matim bisa melakukan pemeriksaan golongan darah bagi warga di wilayah itu. Karena masih banyak warganya yang belum mengetahui dan memiliki kartu golongan darah. Total seluruh warga di wilayah yang dipimpinnya, ada sebanyak 4.496 jiwa.
“Saya menyampaikan terima kasih kepada Patelki dengan aksi sosial pemeriksaan malaria di wilayah ini. Karena wilayah ini edemis malaria. Saya juga berharap dengan adanya kegiatan seperti ini, warga saya bebas dari penyakit,” Katanya. (krf3/ays)

Click to comment

Most Popular

To Top