Wajib Berkebaya – TIMOREXPRESS.COM

TIMOREXPRESS.COM

RAGAM

Wajib Berkebaya

Untuk Semua PNS di Provinsi NTT

KUPANG, TIMEX – Menyambut Hari Kartini, 21 April, semua aparatus sipil negara (ASN) di Provinsi NTT wajib mengenakan kebaya.
Sebelumnya sudah ada surat edaran dari pusat agar momentum hari Kartini kali ini dirayakan secara spesial. Para ASN perempuan wajib mengenakan kebaya. Ini mengingatkan roh perjuangan Kartini.

Dengan hidupnya roh Kartini, maka akan menyadarkan para perempuan agar terus berjuang lepas dari kekerasan. Perempuan harus berubah menjadi Kartini yang mampu bangkit dan membawa perubahan. Perempuan harus diberi ruang agar dapat mengembangkan potensi yang dimiliki, baik untuk perempuan di pedesaan maupun kota.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Provinsi NTT, Bernadeta Meriani Usboko, di ruang kerjanya, Kamis (20/4) mengatakan permasalah perempuan saat ini adalah masih menjadi korban kekerasan dan perdagangan orang. Ini merupakan biang dari persoalan ekonomi. Oleh karena itu, melalui peringatan Hari Kartini ini, pihaknya mendorong dan memotivasi para perempuan agar mengembangkan potensi yang dimiliki dirinya dan lingkungan.

Perempuan harus bisa menciptakan sesuatu yang bernilai ekonomis. Akan ada pendampingan. Dnegan demikian, perempuan NTT tidak lagi harus merantau atau menjadi tenaga kerja di negeri orang. “Jika di daerah mereka banyak jagung, maka akan dibimbing untuk mengolahnya menjadi makanan yang bernilai jual dan diawasi dan dibantu hingga tahap pemasarannya,” kata Usboko.

Ia menambahkan, para perempuan juga diajar bagaimana cara menenun yang baik. Dengan demikian dapat menjadi mata pencaharian dan keterampilan mereka. Semua akan dilaksanakan dalam rangka Hari Kartini. Semangatnya yaitu membawa perubahan bagi perempuan agar keluar dari konsisi ekonomi lemah dan mampu berkarya dengan potensi ynag dimiliki.

Hari Kartini yang dirayakan tahun ini mengangkat tema “Memperkuat daya cipta dan kreatifititas perempuan kekinian.”
Beberapa kegiatan yang dilaksanakan yakni dialog interaktif di salah satu stasiun televisi. Dialog ini menghadirkan semua pegawai Dinas Pemberdayaan Perempuan.
Semangat Kartini di Masa Tua//
Bagaimana makna Hari Kartini bagi para lansia yang menghuni panti jompo? Salah satu penghuni Panti Jompo Budi Agung, Since Halauwet (73) mengatakan ia sangat bahagia bisa berada di panti jompo walaupun jauh dari sanak saudara dan anak kandungnya. “Di sini saya diurus dengan baik sehingga masa tua saya dapat dihabiskan dengan tenang dan damai walaupun terkadang rasa rindu terhadap keluarga itu muncul, namun dapat terobati dengan sekedar telepon dengan anak saya,” jelas Since yang memiliki dua orang putra yang telah berumah tangga dan hidup jauh darinya, yaitu di Ambon dan Jawa Timur.

Since yang bergabung di pannti jompo sejak tahun 2008 mengaku bahagia karena diizinkan tinggal di panti jompo ini. Dengan begitu masa tuanya dapat disi dengan hal-hal yang menyenangkan dan menambah warna dalam hidupnya. Ia berkumpul dengan penghuni panti jompo yang lain dari berbagai daerah yang tentunya dengan berbagai pengalaman hidup.

Sosok Kartini bagi dirinya merupakan sang pejuang, yang memperjuangkan hak-hak perempuan dan menginspirasi banyak perempuan termasuk dirinya. Banyak perempuan hebat yang menjadi pemimpin di Indonesia karena perjuangan Kartini. Ia mengajarkan banyak hal. Tentang bagaimana cara keluar dari ikatan adat istiadat yang membelenggu. Karena selama ini perempuan ditempatkan di belakang dan tidak bisa menjadi pemimpin.

Penghuni panti jompo lainnya, Fransiska Mete (65) mengaku senang bisa mnejadi bagian dari panti jompo. Karena masa tua merupakan masa rentan dan tidak dapat berbuat banyak hal karena dibatasi dengan usia dan kemampuan. Di panti jompo ia bisa diurus dan dimengerti, baik kebutuhan fiisk maupun psikis. Masa tua adalah masa dimana fisik seseorang menjadi terbatas dan psikis yang lemah.

Ia berharap pada Hari Kartini ini, perempuan dapat lebih maju dan mampu bersaing dengan pria tentunya dalam konteks yang adil. “Jadilah perempuan yang membawa perubahan dan jangan takut untuk bersaing karena perempuan juga mampu dan bisa menjadi pemimpin yang lebih baik,” pesannya.

Penghuni lainnya, Marsita Irik (61) asal Belu yang bergabung di panti jompo sejak 2011 lalu berharap Hari Kartini menjadi momentum yang diperingtai sebagai kebangkitan bagi perempuan untuk menjadi lebih maju. Perempuan harus menunjukkan bahwa perempuan juga sama dengan pria yang mampu diuji. “Ubah asumsi dan pandangan masyarakat bahwa perempuan hanya mampu mengurus dapur dan rumah tangga, tetapi perempuan juga mempu menjadi pemimpin baik di birokrasi maupun pemerintahan lainnya. (mg25/sam)

Click to comment

Most Popular

To Top