Warga Bongkar Plang Batas Tanah TNI AU – timorexpress.fajar.co.id

timorexpress.fajar.co.id

RAGAM

Warga Bongkar Plang Batas Tanah TNI AU

NYARIS RICUH. Sejumlah warga terlibat adu mulut dan saling tunjuk dengan personel TNI AU saat pemasangan plang papan nama batas tanah di Nasipanaf, Kamis (20/4).
(INSERT) CARI SOLUSI. Warga Nasipanaf, Desa Baumata Barat sementara berdialog dengan pemerintah desa dan aparat pemerintah lainnya di kantor desa siang kemarin terkait pemasangan plang papan nama batas tanah oleh pihak TNI AU.

GATRA BANUNAEK/TIMEX

Warga-Personil TNI AU Sempat Adu Mulut dan Saling Dorong
Danlanud: Acuan Kita Sertifikat Tanah Nomor P/485/1987

KUPANG, TIMEX-Puluhan warga Nasipanaf, Desa Baumata Barat, Kecamatan Taebenu, Kabupaten Kupang membongkar plang batas tanah yang dipasang personel TNI AU dari Lanud El Tari Kupang, Kamis (20/4). Akibatnya, warga dan sejumlah personil TNI AU sempat adu mulut dan saling dorong, namun tidak sampai meluas.

Informasi yang dihimpun koran ini di lokasi kejadian, pagi kemarin menyebutkan, aksi itu merupakan buntut dari aktivitas rutin yang dilakukan personel TNI AU yakni latihan lintas medan. Personel dengan atribut lengkap termasuk menenteng senjata itu ternyata tidak hanya melakukan latihan lintas medan. Tetapi juga memasang plang papan nama kepemilikan tanah yang diklaim milik TNI AU.

Ada dua plang yang dipasang yakni di perempatan jalan arah Baumata – RSS dan Nasipanaf. Satunya lagi di kampung Nasipanaf. Tepatnya berdekatan dengan tower milik salah satu provider. Plang itu bertuliskan ‘Tanah ini milik negara CQ TNI AU, sertifikat tanah Nomor P/485/1987’. Namun, aktivitas pemasangan plang itu tanpa melibatkan pihak pertahanan.

Spontan puluhan warga warga RT 09, RT 10 yang masuk wilayah RW 05, Dusun III, Desa Baumata Barat, termasuk ibu-ibu melakukan protes. Mereka bahkan nekad mendatangi langsung lokasi dipasangnya plang tersebut. Sempat terjadi adu mulut. Bahkan saling dorong saat warga berusaha membongkar plang tersebut. Akhirnya personel TNI AU memilih untuk meninggalkan lokasi itu.

Reaksi warga setempat yakni nekad membuntuti personel TNI AU yang sementara memasang plang papan nama tanah dan berusaha membongkar plang tersebut. Buntut dari kejadian itu, puluhan KK yang merasa menjadi korban langsung mendatangi kantor Desa Baumata Barat dan melakukan pertemuan dengan Kepala Desa Baumata Barat, Ayub S. Nifu. Hadir juga pihak Satpol PP Kabupaten Kupang dan Provinsi NTT. Termasuk aparat Pospol Baumata dan pihak Koramil.

Ketua RT 09, Petrus Tlonan kepada Timor Express di Nasipanaf mengatakan, jumlah kepala keluarga (KK) yang menyatakan protes terhadap pemasangan plang papan nama tanah oleh personel TNI AU berjumlah 200-an. “Perpindahan pilar tanah yang menjadi batas antara tanah milik TNI AU dengan masyarakat Nasipanaf sudah dilakukan sebanyak lima kali. Ini terjadi sejak beberapa tahun silam. Bahkan, ketika akan bangun jalan saja ada protes dari TNI AU,” tegas Petrus.

Masih menurut dia, proses identifikasi tanah belum juga dilakukan oleh pihak TNI AU. Namun, tiba-tiba sudah dilakukan penanaman plang papan nama tanah. “Tadi (kemarin, Red) kami sudah sepakat dengan komandannya bahwa persoalan yang sudah terjadi ini akan dilaporkan ke atasan mereka untuk dipertimbangkan lagi. Tapi yang kami sesalkan yakni prosedur penetapan batas tanah itu belum jelas tetapi sudah dilakukan pemasangan plang papan nama tanah. Sudah ada surat pemberitahuan juga ke pemerintah desa untuk dilakukan pertemuan bersama antara masyarakat dengan pihak TNI AU untuk dilakukan sosialisasi tentang masalah tanah ini. Tapi belum dilakukan sosialisasi tiba-tiba sudah ada pemasangan plang,” tegas Petrus.

Kepala Desa Baumata Barat, Ayub S. Nifu pada pertemuan siang kemarin bersama seluruh warga yang menjadi korban di Kantor Desa setempat mengaku belum ada pertemuan resmi sesuai surat yang sudah diserahkan pihak TNI AU ke pemerintah desa. Tetapi secara spontan sudah ada pemasangan plang di lapangan. “Ada dua plang yang terpasang yakni di persimpangan jalan Nasipanaf dan di dekat tower. Tapi plang di dekat tower sudah dibongkar. Saya juga meminta masyarakat untuk tetap tenang sambil mengikuti proses yang terus bergulir ini,” ucap Ayub di hadapan warga disaksikan seluruh unsur pemerintah lainnya.

Sementara Komandan Lanud El Tari Kupang, Kolonel Pnb. Jorry S. Koloay di ruang kerjanya siang kemarin mengakui Kamis kemarin pihaknya melakukan dua kegiatan sekaligus. Yakni kegiatan lintas medan sekaligus kegiatan inventarisasi aset negara berupa tanah. “Jadi, kegiatan pagi tadi (pagi kemarin, Red) kami lakukan sekira pukul 08.30 hingga 09.00. Kegiatannya yakni lintas medan sekaligus inventarisasi aset negara berupa aset tanah. Kegiatan latihan lintas medan oleh personel militer TNI AU El Tari Kupang dan kompi Paskhas ini dilakukan untuk melatih kemampuan personil guna mempertahankan ketahanan udara,” terang Jorry.

Sesuai instruksi pimpinan, lanjutnya, pihaknya juga melakukan pendataan aset tanah di Lanud El Tari. “Kami data kembali aset lahan karena itu merupakan kekayaan milik negara yang harus dilaporkan ke pusat sekaligus ke Kementerian Pertahanan,” ungkap Jorry.

Diakuinya, ketika berada di lapangan pihaknya juga bertemu dengan sejumlah masyarakat yang keberatan soal pemasangan plang papan nama batas tanah itu. “Batas tanah yang dipasang plang papan nama itu dalam penguasaan negara CQ TNI AU. Kita bertemu 200-an orang warga. saya juga turun langsung untuk mengetahui seperti apa keluhan dan tanggapan mengenai tanah milik negara. Saya sudah bicara langsung dengan perangkat desa, tokoh adat, tokoh agama serta warga setempat bahwa kita tetap melakukan inventarisasi. Jika ada warga yang tidak setuju dengan langkah kita, silakan saja. Tetapi sebagai institusi negara kita harus lakukan itu. Saran masyarakat juga kita dengar dan apapun itu acuan kita jelas yakni sertifikat tanah Nomor P/485/1987 dengan luas tanah 543 hektar itu yang dijadikan patokan,” ungkapnya.

Dikatakan juga, pengecekan dan pendataan serta pemasangan plang papan nama tanah itu dilakukan di dalam lahan yang menjadi kekayaan milik negara. “Pemasangan patok itu sejak keluarnya sertifikat. Sebenarnya, pilar itu ada tetapi beberapa lokasi sudah rusak atau sengaja dirusak. Tapi sepanjang titik itu ada batas yang dibuat oleh negara. Pemasangan plang itu hanya dari TNI AU karena kita diberi tugas untuk mendata kekayaan aset milik negara,” pungkas dia.

Pantauan Timor Express kemarin, pemasangan plang papan nama batas tanah itu juga direspon oleh masyarakat setempat dengan nekad mencabut plang yang sudah terpasang. Namun demikian, kejadian itu tidak berlangsung lama karena pihak TNI AU memilih meninggalkan lokasi. (gat/ito)

Click to comment

Most Popular

To Top