Kerupuk Mengandung Boraks Beredar di NTT – Timor Express

Timor Express

KESEHATAN

Kerupuk Mengandung Boraks Beredar di NTT

 BPOM Temukan Ribuan Barang Tidak Layak Edar

KUPANG, TIMEX-Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Kupang menemukan 499 jenis dan 3.416 buah produk serta makanan tidak layak edar di Provinsi NTT. Lebih berbahaya lagi, BPOM mememukan kerupuk berbagai bentuk yang mengandung zat berbahaya telah beredar luas di Kota Kupang dan sekitarnya.
Operasi Balai POM yang dilakukan sepanjang tahun 2016 hingga triwulan pertama tahun 2017 ini menemukan bahan makanan dan obat serta kosmetik tersebut yang diperkirakan bernilai hingga Rp 140 juta.

Hal ini diungkapkan Kepala BPOM Kupang, Ruth Diana Laiskodat yang didampingi Deputi III Balai POM RI, Suratmono di Aula El Tari Kupang, Kamis (27/4). Ruth Laiskodat bersama jajarannya menggelar Kampanye Ayo Sadar Pangan Aman (ASPA) kepada ratusan siswa SD, SMP, SMA dan mahasiswa serta guru di Aula El Tari.
“Dalam operasi sejak tahun 2016 lalu sampai sekarang, kami temukan kosmetik tanpa izin edar, suplemen kesehatan tanpa izin edar dan pangan, yakni kerupuk mengandung bahan boraks. Ada yang paling baru di tahun 2017 adalah pangan campur madu paracetamol,” jelas Ruth.

Kerupuk-kerupuk dimaksud adalah kerupuk tanpa merek yang sudah digoreng dan juga belum digoreng. Beberapa jenis kerupuk, yakni kerupuk bulat, persegi panjang dan kerupuk lonjong. Dijelaskan, bahan boraks yang digunakan untuk mencampur bahan kerupuk bertujuan untuk membuat kerupuk mengembang saat digoreng. Sayang, bahan tersebut sangat berbahaya bagi kesehatan masyarakat dan dampaknya berkepanjangan, yakni bisa menyebabkan penyakit kanker yang mematikan.

Temuan BPOM tersebut merupakan yang terbesar, karena kerupuk yang disita berisi sekira 10 karung berukuran 50 kilogram yang belum digoreng. “Di Kota Kupang terdapat madu yang dicampur bahan kimia, yakni obat paracetamol dan pildinafi. Oleh karena itu mohon bantuan juga kepada masyarakat di NTT pada umumnya bahwa masih ada produk yang tidak bermutu dan berbahaya beredar di wilayah kita,” kata Ruth lagi.

Pada kesempatan itu, Deputi III Balai POM RI, Suratmono mengungkapkan, sejak tahun 2010, pihaknya menggelar kampanye dan operasi untuk menekan penggunaan zat atau bahan berbahaya pada makanan. Dan, dari hampir 50 persen, saat ini sudah turun menjadi sekira 23 persen. Meski belum benar-benar bersih dari bahan berhaya, namun pihaknya tidak henti-hentinya melakukan operasi dan kampanye untuk terus meningkatkan kesadaran masyarakat.

“Yang paling berbahaya adalah penyalahgunaan bahan-bahan berbahaya seperti boraks dan formalin. Pada tahun 2010, rata-rata pengguna bahan berbahaya ini di atas 20 persen dan saat ini mulai mengalami penurunan boraks 4 persen, formalin 8 persen,” jelas Suratmono.

Menurut dia, hasil operasi BPOM Kupang jauh di bawah temuan yang dilakukan pihaknya secara nasional, yakni mencapai Rp 220 miliar tahun 2016 lalu. “Yang paling banyak adalah kosmetik yang dijual secara ilegal dari luar negeri dan juga menggunakan bahan berbahaya,” beber Suratmono. Untuk mencegah peredaran bahan makanan berbahaya, BPOM juga memantau ke sekolah-sekolah dengan menerjunkan kader-kader terlatih.

Temuan obat dan makanan berbahaya tersebut kemudian dimusnahkan dengan cara dibakar. Saat pemusnahan secara simbolis di Kantor BPOM Kupang, pihak BPOM mengundang para pemilik barang sitaan tersebut.

Ruth kembali menambahkan, salah satu temuan yang tergolong baru adalah peredaran bahan kosmetik melalui jual beli online. Jumlah kosmetik yang disita pun cukup fantastis, yakni 1.418 buah dari 274 jenis.

Dalam kampanye pangan aman tersebut, Wakil Gubernur Benny Litelnoni mengusulkan adanya laboratorium sederhana di setiap sekolah untuk mendeteksi setiap makanan dan minuman yang beredar di sekolah. Pasalnya, peredaran makanan dan minuman berhaya sering menyasar sekolah-sekolah, terutama sekolah dasar.
“Bisa dipikirkan, bagaimana caranya supaya sekolah-sekolah juga bisa mendeteksi sendiri bahaya makanan yang dijual di sekolah,” kata Litelnoni. (cel/ito)

Click to comment

Most Popular

To Top