Laut Kolbano Mengamuk – timorexpress.fajar.co.id

timorexpress.fajar.co.id

RAGAM

Laut Kolbano Mengamuk

BERSERAKAN. Batu warna yang dibawa gelombang laut berserakan di jalan raya Kolbano, Jumat (28/4). INZERT. Pengendara sepeda motor mendorong kendaraannya ketika air laut menggenangi jalan raya.

YOPI TAPENU/TIMEX

Permukiman Terendam

SOE, TIMEX-Seperti tsunami, laut di Pantai Kolbano, Kecamatan Kolbano, Kabupaten TTS Jumat kemarin sekira pukul 10:35 mengamuk. Gelombang setinggi kurang lebih lima meter dengan cepat mengalir sepanjang kurang lebih 30 meter dari pantai. Akibatnya ratusan rumah warga terendam air laut. Demikian juga jalan raya dan sejumlah fasilitas publik lainnya.

Beberapa warga yang ditemui koran ini siang kemarin usai kejadian mengatakan, secara tiba-tiba gelombang tinggi itu datang dengan cepat dan langsung naik ke permukiman warga. Tepatnya di pantai wisata Fatu Un. Jalan trans Malaka sepanjang kurang lebih 100 meter pun terendam air laut.

Ly Sabuna, seorang pemilik rumah yang terendam air laut di RT 1/RW 1 Desa Spaha, Kecamatan Kolbano ketika dijumpai di tempat kejadian mengatakan, sebelumnya tidak ada tanda-tanda akan terjadinya air laut naik. Namun, pada pukul 10:15 gelombang laut mulai naik dan pada pukul 10:30 air laut mulai naik merendam jalan dan rumah warga sekira 30-an meter dari bibir pantai. “Barang-barang kami terendam, karena waktu naik setinggi 50 cm kami lari tinggalkan rumah dan barang-barang,” kata Ly.

Sekretaris Desa Spaha, Yupiter Sabuna mengatakan, air laut naik membawa serta material batu warna dari dalam laut ke jalan raya. Air laut naik merendam jalan dan permukiman warga kurang lebih dua jam. Arus lalulintas baik dari arah Malaka dan Kolbano tidak bisa melintas. Karena air laut cukup tinggi sehingga pengendara tak berani melintas.

Perahu milik warga yang sebelumnya ditambat di tepi pantai terbawa gelombang laut dan tertahan d pagar kayu yang dibangun Dinas Pariwisata untuk mengamankan lokasi pariwisata. “Air laut juga naik tutup dermaga yang dibangun. Lima rumah yang terendam adalah milik Simon Bako, Yusak Boimau, Marthen Taneo, Debora Lete dan Ly Sabuna,” ungkapnya.

Yupiter mengatakan, aktifitas penambangan batu warna yang dilakukan oleh masyarakat sudah diimbau dan diperingatkan agar tidak lagi dilakukan. Namun, masyarakat yang menambang tidak mengindahkan imbauan dan peringatan yang disampaikan pemerintah desa. “Bahkan Pol PP sudah pernah turun usir masyarakat yang tambang, tapi begitu Pol PP pulang masyarakat kembali dan tambang lagi,” ucap dia.

Yosina Kase yang juga rumah miliknya terendam air laut mengatakan, mereka sudah tinggal di tepi jalan raya trans selatan tepatnya di RT 1/RW 1 Desa Spaha mengaku sudah tinggal sejak puluhan tahun lalu. Kejadian air laut naik sudah yang kedua kali. Pertama terjadi tahun 2001. “Kami tidak bisa pindah, karena ini tempat usaha kami dan kami sudah tinggal di sini sudah berpuluh-puluh tahun,” kata Yosina didampingi anaknya Deci Boimau.

Anggota DPRD NTT, Jefri Unbanunaek yang turun langsung memantau kejadian itu mengatakan, kejadian itu terjadi akibat penambangan batu warna yang dilakukan secara liar oleh masyarakat. Maka dari itu, ia mengimbau masyarakat agar segera menutup tambang batu warna itu dan beralih ke usaha lain. “Saya akan berkoordinasi dengan pemerintah supaya menertibkan pertambangan batu warna di pantai Kolbano,” tegas Jefri.

Anggota DPRD TTS, Ruba Banunaek yang juga ikut turun memantau kejadian tersebut mengatakan bahwa pemerintah segera menertibkan penambang-penambang liar yang ada. Apalagi penambangan batu warna yang dilakukan pada lokasi pariwisata yang sesungguhnya dilarang. “Apalagi di sana sudah bangun dermaga. Jadi kalau ini dibiarkan, maka akan merusak dermaga yang sudah ada,” tegas Ruba. (yop/ito)

Click to comment

Most Popular

To Top