Bergandeng Tangan Berantas Human Trafficking – Timor Express

Timor Express

RAGAM

Bergandeng Tangan Berantas Human Trafficking

PENYAMPAIAN MATERI. Perwakilan Jaringan Relawan Untuk Kemanusiaan (Jeruk) Jackobus Fahik (kedua dari kiri), sedang memaparkan materi pada acara seminar sehari, bertempat di Aula Inspektorat Kelurahan Oebobo Kecamatan Oebobo, Sabtu (29/4).

IMRAN LIARIAN/TIMEX

PMKRI Gelar Seminar Sehari

OEBOBO, TIMEX – Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PMKRI) Cabang Kupang menggelar seminar sehari mengusung tema ‘Bergandeng tangan berantas Human Trafficking di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).’ Seminar ini berlangsung di Aula Inspektorat, Kelurahan Oebobo Kecamatan Oebobo, Sabtu (29/4).
Kegiatan ini menghadirkan pemateri dari Kepolisian Daerah NTT, AKP Imanuel Saba Neno, Kepala Seksi Penempatan Tenaga Kerja Dinas Naketrans Provinsi NTT, Mariana Mello, Jaringan Relawan Untuk Kemanusiaan (Jeruk), Jackobus Fahik dan perwakilan dari alumni PMKRI Agustinus B.U. G. Roma.

Pada kesempatan itu, Ketua PMKRI Cabang Kupang, Kristoforus Mbora, mengatakan PMKRI melihat human trafficking ini masih relevan untuk dibahas karena semakin marak di NTT.

Harapannya, dengan seminar ini dapat melahirkan kesepakatan bersama untuk memberantas masalah human trafficking. Karena saat ini Provinsi NTT menjadi peringkat pertama human trafficking.

pemateri dari JERUK, Jack, mengatakan human trafficking saat ini selalu berkedok TKI, wisata atau perjalanan gratis, manipulasi budaya, sehingga mudah terjebak. Ironisnya korban kebanyakan berasal dari daerah yang kurang informasinya.

Selain itu, kata Jack, Dinas Nakertrans baik provinsi maupun kabupaten dan kota juga tidak mensosialisasikan kepada warga mengenai migran yang aman.
Sementara itu, Kasi Penempatan Tenaga Kerja, yakni ibu Mariana Mello membawakan materi tentang ‘peran strategis dari pemerintah tentang permasalahan human trafficking.’ Ia mengatakan penempatan tenaga kerja, UU nomor 39 tahun 2004 sebagian besar melindungi pihak swasta. Fungsi pemerintah bekerja sama dengan pihak swasta agar menjalankan tugas sesuai dengan aturan yang ada. “Kami dari dinas tidak henti-hentinya melaksanakan pembinaan dan ada juga sampai mencabut izin,” sebut Maria.
Hal ini dapat terjadi akibat persoalan kemiskinan. Pengangguran saat ini mencapai 76.860 orang. Pihak pemerintah juga melaksanakan program nyata yakni pelatihan kewirausahaan, pelatihan teknologi tepat guna.

Selanjutnya pemateri dari kepolisian, AKP Imanuel mengatakan terkait dengan kasus human trafficking modus awal dari perekrut yakni penipuan, manipulasi dokumen dan pencurian.

Pihak kepolisian tentunya akan menjalankan tugas semaksimal mungkin dalam memberantas berbagai permasalahan human trafficking. Oleh sebab itu, dibutuhkan peran serta semua pihak.

Sementara dari Agustinus Roma mengatakan human trafficking bukan hanya pada kemanusiaan semata melainkan harus dilihat secara komprehensif. Saat ini belum ada acuan untuk mengatasi masalah penjualan orang, sehingga dibutuhkan persatuan dan juga cara pandang yang sama tentang permasalahan human trafficking. (mg22/sam)



Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!