SMT Beri Dukungan ke Ayub Titu Eki – Timor Express

Timor Express

RAKYAT TIMOR

SMT Beri Dukungan ke Ayub Titu Eki

DUKUNGAN. Ayub Titu Eki ketika menerima dukungan dari Solidaritas Masyarakat Timor di rumah jabatan bupati Kupang, Minggu (30/4).

ORANIS HERMAN/TIMEX

Untuk Maju Jadi Calon Gubernur NTT

KUPANG, TIMEX – Dukungan kepada Ayub Titu Eki untuk maju menjadi calon gubernur NTT pada pilkada tahun 2018 mendatang, terus mengalir. Kali ini, dukungan datang dari Solidaritas Masyarakat Timor (SMT).

Usai memberikan dukungan secara adat ketimoran kepada Ayub Titu Eki di rumah jabatan bupati Kupang, Minggu (30/4), sesepuh SMT, Leopold Nisnoni menjelaskan, untuk menjatuhkan pilihan mendukung Ayub Titu Eki memakan waktu yang lama. Sebab, tidak bisa mengambil keputusan secara sepihak dan terburu-buru.

“Makan waktu sedikit lama baru kita ambil sikap. Karena kita tidak bisa bicara seenaknya. Semua lapisan masyarakat saya imbau dan tanya baru pada hari ini kita ambil satu sikap. Saya mau kasih tau bahwa kita ini raja, tapi raja rakyat. Raja yang duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi dengan rakyat. Kalau raja dulu zaman Hindia Belanda, dia memerintah. Kita lain, kita mengayomi semua rakyat yang ada. Bukan hanya rakyat Timor, kita bhineka dan beragam etnis. Sehingga pada hari ini saya berani mengambil satu sikap dan meminta kepada pak Ayub Titu Eki untuk mencalonkan diri sebagai calon gubernur NTT,” katanya.

Leopold menegaskan, sudah waktunya putra Timor menjadi gubernur untuk semua suku. Tidak primordial dan bukan saja nasional tapi internasional. “Kenapa kita ambil ini, karena saya rasa sudah waktunya putra Timor jadi gubernur untuk semua suku. Tidak primordial. Bukan saja nasional, bila perlu internasional. Saya sangka pak Ayub Titu Eki internasional dan terkenal. Karena itu saya sebagai raja tapi juga sebagai sesepuh SMT saya bersama dengan pak Hengky Benu kita berani mengambil sikap ini,” tegasnya.
Ditanya Timor Express mengapa pilihanya jatuh ke Ayub Titu Eki padahal ada banyak putra Timor yang terbaik, Leopold menegaskan, dirinya tidak secara sepihak menetapkan Ayub Titu Eki, namun melalui perbandingan serta pertimbangan yang mendalam baru menjatuhkan pilihan untuk mendukung Ayub Titu Eki.

“Saya ambil pertimbangan-pertimbangan sehingga memilih bapak Ayub. Saya lihat dari hal yang tidak sepihak. Saya tanya kiri kanan semua dan kemudian saya ambil satu langkah untuk memilih pak Ayub Titu Eki. Itu pertimbangan dan penilaian saya,” tegasnya.

Sementara, Ketua SMT, Hengky Benu menegaskan, tensi politik untuk pemilihan gubernur semakin meningkat. Inilah realitas politik yang terjadi khusus di Kota Kupang. Dari beberapa figur yang sudah mencuat ke permukaan, ada sekitar empat sampai lima figur yang ia tidak bisa sebut namanya, ia merapatkan barisan bersama semua perangkat SMT. Karena SMT lintas etnis, lintas agama dan lintas profesi. Artinya, bukan semata-mata orang Timor ansih yang tergabung dalam SMT.

“Saya berusaha mengundang mereka untuk mari kita ambil sikap. Kira-kira siapa yang pantas kita jual sebagai calon pemimpin ke depan. Seluruh anggota dan pengurus bersepakat dalam satu sikap yaitu pak Dr Ayub Titu Eki yang perlu diusung sebagai calon gubernur. Itulah makanya kami datang ke beliau untuk menyampaikan aspirasi kami. Kami berharap beliau juga mau menerima aspirasi kami dan beliau juga bersedia dicalonkan sebagai calon gubernur,” ungkapnya.

Dikatakan, dalam seluruh perjuangan politik, karena ia pernah berada pada jalur itu, bukan saja berupa dukungan yang dibutuhkan seorang figur, tapi kerja. Dari segala bentuk kerja baik dari aspek sosialisasi, aspek penjaringan massa dan aspek dukungan partai politik, sudah berjanji dengan Ayub Titu Eki untuk sama-sama berusaya mencari pintu. Karena, Ayub Titu Eki belum memiliki partai. Ke depan, pihaknya harus berusaha untuk mencari pintu partai agar bisa mengusung Ayub Titu Eki.

“Kalau ada orang Timor yang lain kita tahu sama-sama, siapa itu orang Timor. Sudah cukup dalam usia yang sudah cukup uzur. 70 tahun dan 68 tahun, seperempat abad lamanya orang-orang ini yang bertarung di dunia politik. Apakah nggak ada orang pintar di Kupang? Apa nggak ada orang yang lebih mampu di provinsi ini. Kok hanya itu-itu nama saja. Itu yang kami berpikir sudah 25 tahun hanya nama itu aja. Sudah, cukup sudah kita cari orang baru. Kira-kira itu yang memotivasi SMT. Seperempat abad, dua puluh lima tahun hanya nama itu saja terus. Cukup sudah kita cari orang lain dan itu jatuh pada Dr Ayub Titu Eki. Masalah wakil nanti kita serahkan ke figur, karena nanti toh yang memimpin daerah ini adalah figur,” ungkapnya.

Sementara, Ayub Titu Eki yang diwawancara terkait dukungan yang diberikan SMT menegaskan, SMT sudah lama minta untuk bertemu dirinya guna menyampaikan dukungan mendahului raja-raja, tokoh-tokoh masyarakat dari Belu, Malaka, TTU, TTS dan Kabupaten Kupang tapi ditolak dirinya. “Kemarin dulu mereka sampaikan bahwa kok yang dari sana sudah datang jadi kami juga mau masuk, saya bilang tidak apa-apa. Sehingga malam ini mereka datang. Tadi saya terima dan saya bilang saya maju. Tadi saya bilang, kalau kita sudah bersama, tantangan berupa apapun, saya ibaratkan tembok pun kalau tidak ada jalan, ya kita tabrak saja,” katanya.

Ayub mengaku, setelah dirinya menyatakan untuk maju menjadi salah satu calon gubernur NTT pada pilkada tahun 2018 mendatang, tidak sedikit hujatan dan celaan terhadap dirinya. “Di WA grup, ada yang bilang, dia tidak buat apa-apa di Kabupaten Kupang, dia mau beking sengsara di provinsi. Bahkan ada satu yang katakan, raja disclaimer Kabupaten Kupang mau dipindahkan ke provinsi. Ada yang juga bilang, pembangunan di Kabupaten Kupang sekarang, seperti di Flores tiga puluh-empat puluh tahun yang lalu. Berarti tidak buat apa-apa kok mau maju di NTT. Ini saya anggap semacam tantangan yang kita hadapi,” katanya.
Ayub mengaku, ini bukan pilihannya dibanding yang lain yang sudah jauh-jauh menyatakan kesanggupan bahkan sudah turun dan sampai ke mana-mana. Ia tidak mencari dukungan, tapi dia didatangi. Bukan hanya didatangi tapi dengan paksaan untuk memintanya menjadi calon gubernur NTT. Karena itu, mau tidak mau, ia harus menerima dan walaupun ia dipaka, ia bisa memahami karena itu merupakan kerinduan hati masyarakat.
“Walaupun saya dipaksa, saya terima bukan karena terpaksa, tapi saya terima ini karena kepercayaan Tuhan. Karena kepercayaan Tuhan, saya dan semua Saudara yang mendukung saya nanti bersama saya bersama. Karena Tuhan berada di depan, tantangan apapun kita hadapi. Karena bersama Tuhan pasti ada jalan. Tantangan bagaimanapun pasti selesai,” ujarnya.
Kepada pendukungnya, Ayub meminta untuk saling menghargai dengan figur lainnya. Pendukungnya diminta untuk tidak meremehkan dan mencela figur lain. “Orang lain dari pihak lain banyak yang sudah mencela saya. Saya anggap itu sudah celaan walaupun tidak secara terang-terangan di media cetak, tapi di media sosial tidak sedikit yang saya terima. Lebih pribadi ditujukan ke saya, saya anggap ini sebagai suatu celaan tapi saya harus terima ini sebagai suatu motivasi. Ini sebagai dorongan bagi saya karena saya tidak sendiri,” tegasnya.
Ayub mengaku, selama dirinya belum jelas ada partai politik yang mengusungnya maupun figur pendamping, ia tidak akan lakukan sosialisasi. Ia juga tidak akan memasang poster untuk mendapat simpati.
Sementara mengenai pintu, Ayub mengaku sudah ada yang menginginkan dirinya mendaftar ke partai politik. Tapi ia belum berani, sebab nanti yang mendaftar adalah tim keluarga.
“Keluarga ini meluas dari Belu, Malaka, TTU, TTS, Kabupaten Kupang dan sekarang sudah masuk ke Kota Kupang, jadi nanti ada koordinator-koordinator itu yang menjadi tim. Tim ini yang akan mewakili saya untuk mendaftar. Tim ini bukan hanya dari Malaka sampai Kota Kupang, karena tadi ada perwakilan dari keluarga Alor, Rote, Sabu dan bahkan ada satu keluarga datang dari Adonara dan dia katakan bahwa sebelum dia datang ke sini, mereka sudah berkomunikasi dan dalam waktu dekat mereka akan bertemu saya,” kata Ayub.
Menurutnya, ketika berbicara pintu dan pendamping, ia mau keluarga besar yang telah mendukungnya berada didalam satu ikatan kelurga untuk bicara bersama melalui pintu yang mana. “Yang pasti entah koalisi partai apa dan apa yang akan membuka pintu kepada kita, kita berpegang kepada pernyataan liurai waktu itu. Nanti partai mana yang bersahabat dengan kita di pilkada gubernur tahun 2018, partai itu yang nanti bersahabat dengan kita di Pemilu 2019. Pernyataan ini yang tidak bisa membuat saya melangkah sendiri. Keputusan untuk mendaftar ada di tim,” tegas Ayub Titu Eki. (ays)



Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!