300 Juta Orang Alami Depresi – TIMOREXPRESS.COM

TIMOREXPRESS.COM

KESEHATAN

300 Juta Orang Alami Depresi

Deteksi Kejiwaan sejak Dini

KUPANG, TIMEX – Setiap tanggal 7 April merupakan Hari Kesehatan Dunia. Pada tahun 2017 ini WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) meluncurkan kampanye dengan tema “Depression: Let’s Talk“ yang oleh Kementerian Kesehatan Indonesia diterjemahkan sebagai “Depresi: Yuk Curhat”.
Tujuan dari kampanye ini adalah agar lebih banyak orang dengan gangguan jiwa dapat mencari dan mendapatkan pertolongan.
dr. Niniek Widiandriany, SpKJ yang bertugas di RS Siloam Kupang, RS S.K. Lerik Kota Kupang dan RSUD Ende, mengimbau agar masyarakat lebih memperhatikan masalah depresi yang akan mengancam kestabilan jiwa.

Ia menjelaskan, berdasarkan data dari WHO, lebih dari 300 juta orang hidup dengan depresi. Angka tersebut mengalami peningkatan lebih dari 18 persen antara 2005 sampai 2015. WHO juga menyatakan bahwa depresi merupakan penyebab utama disabilitas di seluruh dunia.

Ia menyebutkan, berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Kemenkes tahun 2013, prevalensi gangguan mental emosional yang ditunjukkan dengan gejala-gejala depresi dan kecemasan untuk usia 15 tahun ke atas mencapai sekitar 14 juta orang penduduk Indonesia. Sedangkan prevalensi gangguan jiwa berat, seperti skizofrenia mencapai sekitar 400.000 orang.

Merujuk pada data tersebut, menurutnya, masalah kesehatan jiwa seseorang tidak bisa dianggap enteng. Kesehatan jiwa masih menjadi salah satu permasalahan kesehatan yang signifikan di dunia, termasuk di Indonesia.

Ia menjelaskan, sehat jiwa adalah kondisi di mana seorang individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual, dan sosial, sehingga individu tersebut menyadari kemampuan sendiri, dapat mengatasi tekanan, dapat bekerja secara produktif, dan mampu memberikan kontribusi untuk komunitasnya.

Selain itu, ciri-ciri orang yang sehat jiwanya adalah memiliki perasaan sehat dan bahagia dan merasa nyaman terhadap dirinya, sehingga mampu mengatasi amarah, iri hati, rasa cemas, rendah diri, takut, dan kecewa, serta mampu menilai dirinya sendiri dengan sepatutnya. “Orang yang sehat jiwanya juga dapat menerima orang lain apa adanya, mempunyai sikap positif terhadap diri dan orang lain sehingga mampu menerima dan mencintai, serta menggunakan akalnya dengan sehat,” jelas dr. Niniek.

Selain itu, sehat jiwa juga dapat menyadari kemampuan diri, mampu menerima tanggung jawab, mengambil keputusan, mempunyai tujuan hidup nyata, dan merancang masa depannya. “Gangguan jiwa sangat beragam jenisnya dari yang ringan, sedang maupun berat, dapat mengenai siapa saja dan usia berapa saja,” katanya.

Penyebab gangguan kejiwaan ada banyak hal, bisa dari faktor biologis misalnya gangguan fungsi otak, kepikunan, genetik, penyalahgunaan napza. Faktor psikososial misalnya kekerasan terhadap anak dan perempuan terutama kekerasan seksual, pornografi, kecanduan media elektronik dan jejaring sosial, bencana, tekanan psikologis.
Ia menambahkan, seringkali kondisi gangguan kejiwaan ringan berkembang menjadi berat karena kurang mendapat perhatian atau terabaikan karena ketidakpahaman, dianggap biasa, dianggap sebagai akibat dari kuasa gaib, kelelahan dari anggota keluarga dalam menghadapi penderita, atau bahkan kurang peduli, rasa malu untuk berobat, maupun ketersediaan dan akses pelayanan kesehatan jiwa yang sulit dijangkau.

Gangguan kejiwaan dapat diobati. Semakin awal terdeteksi, semakin dini diobati maka peluang untuk membaik semakin besar.
Ia mengimbau agar keluarga dan masyarakat dapat berperan dengan mempelajari keterampilan pertolongan pertama kesehatan jiwa yang terdiri dari lima langkah, pertama pendekatan, deteksi dan membantu pada krisis. Kedua mendengarkan tanpa menghakimi. Ketiga memberikan dukungan dan informasi yang tepat. Keempat, mendorong penderita mendapatkan bantuan medis dan profesional yang sesuai. Kelima, memberikan dukungan lainnya.

Niniek menambahkan, tidak dapat dipungkiri juga bahwa seringkali orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) masih dipandang sebelah mata. Dianggap tidak bisa sembuh, terpinggirkan, dilecehkan, dekat kaitannya dengan kekerasan, bahkan ditakuti, diejek, dianggap meresahkan masyarakat dan tidak jarang diperlakukan tidak manusiawi.
Stigma tersebut melekat pada ODGJ. Dengan pengobatan yang tepat, support dari keluarga dan masyarakat yang baik akan mempercepat kondisi ODGJ ke arah pemulihan. Sudah banyak terbukti ODGJ dapat pulih dan berfungsi normal.

Niniek menjelaskan, angin segar untuk kesehatan jiwa di Indonesia makin terasa dengan ditetapkannya UU Kesehatan Jiwa Nomor 18 tahun 2014, yang melindungi hak hak ODGJ, termasuk hak mendapatkan perawatan dan pengobatan yang layak.

Harapan untuk dapat menikmati hidup yang baik dan berkualitas bagi ODGJ tidak lagi hanya sekedar harapan, namun dapat dijangkau dengan kerjasama antara berbagai pihak. “Bukan lagi sekadar urusan keluarga dan pemerintah, namun menjadi tanggung jawab kita semua sebagai masyarakat,” imbuhnya. (mg25/sam)

Click to comment

Most Popular

To Top