Rotok ke PAN, Koalisi Gerindra-PAN Mulus? – TIMOREXPRESS.COM

TIMOREXPRESS.COM

POLITIK

Rotok ke PAN, Koalisi Gerindra-PAN Mulus?

Pengamat: Waspadai Politik Transaksional

KUPANG, TIMEX-Langkah politik diambil Christian Rotok menjelang Pilgub NTT 2018. Kader Gerindra ini ‘ganti baju’ menjadi kader PAN. Langkah Rotok ini semakin menguatkan rencana koalisi Gerindra dan PAN di Pilgub NTT 2018.

Sementara itu, Partai Amanat Nasional (PAN) sendiri hingga kini belum menentukan arah koalisi. PAN belum intens membangun koalisi dengan partai-partai untuk mengusung bakal calon gubernur dan Wagub NTT pada Pilgub 2018 nanti.

Terkait hal itu, Ketua DPW PAN NTT, Awang Notoparawiro angkat bicara. Awang yang dikonfirmasi terkait dengan arah koalisi, Kamis (18/5) kemarin mengemukakan, hingga kini PAN belum berkoalisi secara final dengan partai manapun untuk mengusung bakal calon.

Namun, dirinya membenarkan Christian Rotok sudah bergabung dengan PAN. “Betul sudah di PAN,” jawab Awang singkat. Namun, dirinya tidak berbicara lebih jauh mengenai peluang koalisi kedua partai tersebut setelah bergabungnya mantan bupati Manggarai itu.

Awang menegaskan, yang pasti semua partai akan berkoalisi sebab tidak ada partai yang memiliki kursi cukup untuk mengusung calon sendiri. “Kita belum putuskan untuk berkoalisi dengan partai mana, tapi komunikasi sudah dijalin. Semua partai pastinya ingin berkoalisi,” ungkapnya.

Dikemukakan, dalam waktu dekat, DPW PAN NTT akan membuka pendaftaran bagi para calon. Pihaknya akan membuka pintu seluas-luasnya kepada para kandidat untuk mendaftarkan diri.

Masih menurutnya, PAN NTT kini memiliki lima kursi di DPRD NTT. Karena itu PAN harus berkoalisi. Dengan partai manapun pihaknya siap berkoalisi, asalkan figur calon gubernur dan Wagub NTT yang diajukan untuk diusung bersama, memiliki popularitas tinggi dan disenangi masyarakat. “PAN akan memprioritaskan calon pemimpin yang jujur, bersih, dan transparan,” tegas Awang.

Disebutkan, PAN tidak menginginkan yang dibicarakan koalisi hanya calon gubernur, sedang figur Wagub sengaja diulur. “Jangan malu-malu berbicara tentang calon Wagub. Jangan sengaja ulur dan dibicarakan nanti,” imbuhnya. Sikap seperti ini, kata Awang, sangat tidak disenangi PAN karena berbicara kandidat Pilkada berarti berbicara paket.
Untuk itu, tegas Awang, selama kandidat belum memiliki gandengan, yang pasti dirinya maupun pengurus belum mau berkomentar lebih banyak. Karena PAN tidak ingin kandidat gubernur masih malu-malu menyebut nama bakal calon wakilnya. “Kalau kandidat calon gubernur sudah umumkan pasangan masing-masing baru kita bicarakan,” tukasnya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, PAN disinyalir akan berkoalisi dengan Gerindra. Pasalnya, kader Gerindra akan disandingkan dengan kader PAN. Ketua DPD Gerindra NTT, Esthon Foenay dipastikan maju dengan Christian Rotok. Sedangkan Christian Rotok merupakan kader Gerindra yang belum lama ini bergabung dengan PAN.

PDIP Belum Bersikap

Sementara itu, Ketua DPD PDIP NTT, Frans Lebu Raya ketika ditanyai tentang koalisi jelang Pilgub, Rabu (17/5) menyebutkan, PDIP belum memutuskan berkoalisi dengan partai manapun. Kalaupun ada kader Golkar dan PKB yang mendaftar di PDIP, hal itu belum diputuskan secara bersama untuk membuat arah koalisi.

Lebu Raya menjelaskan, kandidat yang telah mendaftar akan diperiksa terlebih dahulu berkasnya. Selanjutnya, diajukan ke DPP PDIP. Jika disetujui, maka akan menjalani tahapan fit and proper test. Setelah itu, akan ditetapkan dan dibicarakan koalisi selanjutnya. “Kita belum pastikan akan berkoalisi dengan Golkar maupun PKB. Walau Ketua DPD Golkar NTT, Iban Medah dan Wakil Ketua DPW PKB NTT, Noviyanto Umbu Lende telah mendaftar sebagai Balon gubernur dan Wagub di PDIP,” ujar Lebu Raya.

Terkait koalisi, kata Lebu Raya, harus dilakukan karena PDIP tidak memenuhi syarat kursi DPRD NTT. PDIP hanya memiliki 10 kursi dan perlu tambahan tiga kursi.
Menyoal Wagub Benny Litelnoni yang telah resmi mendaftar di PKB, Lebu Raya mengemukakan itu merupakan hak politik dan hak berdemokrasi yang harus dihormati. Sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur, keduanya saling menginformasikan. Kalau dirinya ke Jakarta dia menginformasikan ke Wagub. Demikian juga ketika Wagub mendaftar di PKB, juga diinformasikan kepada dirinya. “Kami dua kan pimpinan daerah ini, jadi pasti saling komunikasi,” papar dia.

Menjawab koran ini, mengapa PDIP tidak sekaligus mengusung Wagub yang merupakan teman politiknya, Frans mengutarakan, pihaknya sudah membuka pendaftaran dan tidak boleh memaksakan seseorang untuk mendaftar. (lok/ito)

Waspadai Politik Transaksional

Sementara itu, pengamat politik dari Universitas Muhammadiyah Kupang, Dr. Ahmad Atang mengingatkan partai politik untuk mewaspadai politik transaksional dalam Pilgub NTT 2018. Menurutnya, koalisi yang dibangun hendaknya berdasarkan kesamaan visi, misi untuk membangun daerah ini. Bukan sekadar memenuhi syarat untuk maju dalam Pilgub atau politik transaksional.

Hal ini dikatakan Atang, Kamis (18/5) malam ketika dikonfirmasi mengenai koalisi parpol dalam Pilgub NTT 2018. Terutama koalisi Gerindra-PAN yang sedang intensif dilakukan saat ini.

Esthon Foenay-Christian Rotok hampir dipastikan sebagai paket yang akan maju dalam Pilgub 2018. Kesamaan partai yakni Gerindra membuat keduanya kesulitan dalam membangun konsensus dengan partai lain untuk berkoalisi. Namun, kondisi itu berubah setelah Christian Rotok menjadi anggota PAN.

Menurut Ahmad Atang, Esthon-Chris merupakan pasangan yang muncul sebagai balon Gubernur dan Wagub pertama dalam Pilgub NTT 2018. Akan tetapi, paket tersebut agak kesulitan dalam membangun kolisi. Pasalnya, koalisi partai tentunya harus saling mengungtungkan. “Mereka berdua datang dari Partai Gerindra. Hal ini membuat mereka kesulitan membangun koalisi karena mereka dipastikan tidak mengakomodir kepentingan partai lain,” paparnya.

Untuk meningkatkan posisi tawar, sebutnya, langkah Chris Rotok pisah jalan dari Partai Gerindra merupakan pilihan politik. Chris kemudian menjadi kader PAN, agar ada posisi tawar dari PAN yang memiliki lima kursi di DPRD NTT. “Ini hanya untuk membangun sisi tawar saja. Apalagi PAN punya lima kursi. Ketika digabungkan dengan Gerindra, pastinya pas satu pintu,” urai dia.

Baginya, langkah politik yang dimainkan Esthon-Chris lebih untuk mengurangi cost politics. Termasuk membuka ruang koalisi dengan partai lain. “Mereka dua harus bagi diri, untuk bisa mewakili partai masing-masing yakni Gerindra dan PAN. Tapi ini sangat transaksional,” kata Atang.

Dirinya mengakui, politik di ajang pilkada tanpa konsensus tidak mungkin. Karena itu, politik transaksional untuk mengurangi cost politics bisa saja diambil.
Pada bagian akhir, dia mempertanyakan DPW PAN NTT yang cepat merespon bergabungnya Chris Rotok ke PAN. “Kita tidak tahu alasan mereka menerima perpindahan dari satu partai ke partai lain. Di dunia politik memang hal ini lumrah terjadi. Namun, jangan transaksional yang bisa merugikan PAN sendiri,” pungkasnya. (lok/ito)

Click to comment

Most Popular

To Top