Pendidikan sebagai Gerakan Pencerdasan dan Penumbuhan Karakter – TIMOREXPRESS.COM

TIMOREXPRESS.COM

OPINI

Pendidikan sebagai Gerakan Pencerdasan dan Penumbuhan Karakter

Oleh: Minhajul Ngabidin, S.Pd, M.Si
(Kepala LPMP NTT, Pengurus Forum Alumni Guru Berprestasi NTT)

“Indonesia adalah sepotong surga yang Tuhan wujudkan di dunia”. Kalimat ini sering diungkapkan untuk menggambarkan betapa besarnya anugerah yang Tuhan berikan kepada negeri yang berada tepat di garis khatulistiwa ini. Sebuah negeri dengan begitu banyak keistimewaan. Bentang alam yang elok rupawan dan kekayaan alam yang melimpah. Di tanah ini, setancapan ranting bisa tumbuh menjadi pohon yang rindang. Alam subur, potensi laut melimpah, belum lagi mineral, minyak, gas, hutan, dan deretan kekayaan alam lainnya. Di sisi lain keberagaman suku, bangsa, budaya dan juga agama menambah “keasrian” warna-warni Indonesia. Pertanyaannya adalah, dengan kekayaan alam ada dan potensi keindahannya, sudahkah masyarakat Indonesia menjadi pemilik yang sesungguhnya? Dengan kebaragaman suku, bangsa, budaya dan agama yang ada, sudahkah benar-benar menjadikan keasrian Indonesia yang mampu menyejukkan hati bagi semua orang yang berada di dalamnya?

Dengan segala kekayaan alam yang ada, masyarakat Indonesia masih banyak yang hidup di bawah garis kemiskinan. Dengan segala potensi keasrian bangsa, yang disebabkan oleh adanya kebhinekaan yang berwarna-warni, negara kita masih diperhadapkan adanya realita perilaku negatif masyakarat akibat kesenjangan, masyakat kita masih mudah terprovokasi oleh pihak-pihak tertentu dengan memanfaatkan isu perbedaan. Mengapa ini terjadi? Sejatinya yang mampu menyejahterakan Indonesia bukanlah semata-mata kekayaan alam dan segala potensi keelokan alamnya, namun yang lebih panting dari itu semua adalah potensi penduduknya, yang bukan berbicara tentang kuantitas, tetapi pada kualitas sumberdaya manusianya.

Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Indonesia tahun 2016 berada pada level 69,2. Hal ini menunjukkan bahwa masih ada PR besar di bidang pendidikan, ekonomi dan kesehatan sebagai indikator utama IPM. Melihat kondisi tersebut, hal yang paling penting sekarang adalah bagaimana mengembangkan kualitas sumberdaya manusia Indonesia. Dan untuk hal tersebut, hulunya adalah pendidikan.

Pendidikan Tanggung Jawab Bersama
Wajah masa depan bangsa kita ada pada anak-anak kita yang sekarang sedang menempuh pendidikan. Masa depan mereka kini sedang diukir di ruang-ruang kelas dan di bangku-bangku kuliah. Dengan segala keadaannya, dengan segala kelebihan dan kekurangan fasilitas belajarnya, dengan segala tantangannya, mereka tengah meretas masa depan dengan dibantu oleh pendidik, baik guru maupun dosen. Guru dengan segala suka dukanya, terus membimbing dan mengajar mereka. Pertanyaannya, apakah tanggung jawab mendidik generasi muda, penerus masa depan bangsa hanya berada di pundak pendidik dan tenaga kependidikan di institusi pendidikan? Apakah keberhasilan anak-anak kita hanya menjadi tanggung jawab pemerintah melalui sekolah-sekolah dan perguruan tinggi? Secara konsitusional, mendidik (Memberikan pendidikan) adalah tanggung jawab negara, namun secara moral mendidik adalah tanggung jawab setiap orang terdidik. Upaya peningkatan kualitas manusia Indonesia melalui pendidikan tidak bisa dibebankan sepihak kepada pemerintah saja, namun diperlukan sebuah kerjasama, kepedulian, sikap bahu membahu, gotong royong, saling sokong dan saling topang dari semua komponen masyarakat. Oleh karenanya diperlukan suatu “Gerakan Bersama”.

Pendidikan sebagai sebuah gerakan, harus dipandang sebagai ikhtiar secara bersama-sama yang didasari pada kesadaran akan pentingnya pendidikan yang berkualitas bagi masa depan anak-anak kita. Pendidikan tidak dipandang sebagai sebuah program semata. Pendidikan harus didorong menjadi sebuah Gerakan Bersama, yaitu gerakan yang melibatkan seluruh elemen bangsa, masyarakat merasa berkepentingan, memiliki dan menjadi bagian, pemerintah memfasilitasi, dunia industri dan dunia usaha ikut peduli, dan organisasi masa/Lembaga Sosial Masyarakat ikut memperkuat dan mengorganisasi, serta tokoh-tokoh masyarakat memberikan motivasi. Dengan dipahaminya pendidikan sebagai sebuah gerakan, maka akan tumbuhlah rasa memiliki dan turut berkepentingan pada semua kalangan. Hal ini menjadi sangat penting, mengingat permasalahan pendidikan sangat banyak dan tantangan serta tuntutan kemajuan pendidikan semakin kompleks seiring derasnya arus globalisasi dan kemajuan iptek yang sangat pesat dan tak tebendung lagi.

Menurut Baswedan (2014), untuk dapat terjadinya sebuah gerakan pendidikan secara baik, maka diperlukan suatu ekosistem pendidikan. Ekosistem pendidikan harus tumbuh dan terjaga kondusifitasnya. Apa saja komponen dan bagaimana kondisi yang baik dari sebuah ekosistem pendidikan? Setidaknya ada 6 komponen yang harus terjaga kondusifitas perannya, yaitu : 1) Pemerintah yang berperan optimal, 2) Sekolah yang kondusif dan representatif, 3) Guru dan Kepala Sekolah yang aktif, kreatif dan inovatif yang mampu memotivasi dan menginspirasi, 4) orangtua dan masyarakat yang peduli dan terlibat aktif, 5) DUDI yang berkontribusi, dan 6) Organisasi masyarakat dan organisasi lainnya yang berperan aktif dan kosntruktif.

Penguatan Pendidikan Karakter
Generasi muda kita akan diperhadapkan pada tantangan hidup yang semakin kompleks. Kecerdasan akademik tidak cukup untuk menjadi bekal mereka menangkal gangguan, menghadapi berbagai tantangan, dan menjemput kehidupan yang semakin kompetitif. Mereka membutuhkan karakter yang kokoh dan kuat. Oleh karenanya seiring upaya perbaikan pendidikan, hal yang menjadi sangat penting untuk harus dilakukan adalah Penguatan Pendidikan Karakter.

Nilai-nilai yang tertuang dalam Pancasila harus diperkuat pada diri generasi muda. Gerakan pencerdasan dan penumbuhan generasi berkarakter Pancasila adalah sebuah ikhtiar mengembalikan kesadaran tentang pentingnya karakter Pancasila dalam pendidikan kita. Hal ini sesuai dengan tujuan pendidikan kita yaitu untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis, serta bertanggung jawab. Itulah karakter Pancasila yang menjadi tujuan Pendidikan Nasional kita.

Sekolah yang Menyenangkan
Menumbuhkembangkan potensi anak didik yang cerdas dan berkarakter memerlukan karakteristik pendidik dan suasana pendidikan yang tepat. Masih dalam suasana Hari Pendidikan Nasional ini, sosok Ki Hadjar Dewantara, sebagai Bapak Pendidikan Indonesia patut untuk diteladani. Ki Hadjar Dewantara menyebut sekolah dengan istilah “Taman”. Taman merupakan tempat belajar yang menyenangkan. Anak datang ke taman dengan senang hati, berada di taman juga dengan senang hati, dan bahkan anak akan merasa berat hati manakala harus meninggalkan taman tersebut. Pertanyaannya, sudahkah sekolah kita menjadi seperti taman? Sudahkah sekolah kita mejadi tempat belajar yang menyenangkan?

Sekolah menyenangkan memiliki berbagai karakter, di antaranya adalah sekolah yang melibatkan semua komponennya, baik guru, orang tua, siswa dalam proses belajarnya; sekolah yang pembelajarannya relevan dengan kehidupan; sekolah yang pembelajarannya memiliki ragam pilihan dan tantangan, di mana individu diberikan pilihan dan tantangan sesuai dengan tingkatannya; sekolah yang pembelajarannya memberikan makna jangka panjang bagi peserta didiknya. Sekolah harus menjadi tempat belajar yang menyenangkan., sebuah wahana yang membuat para peserta didik merasakan belajar sebagai sebuah kebahagiaan. Pendidikan sebagai sebuah kegembiraan. Pendidikan yang mampu menumbuh-kembangkan potensi peserta didik agar menjadi insan berkarakter Pancasila.

Disisi lain, bagi pendidik sendiri, sekolah harus mampu menjadi sebuah wahana pelayanan pembelajaran yang membuat mereka merasakan mendidik sebagai sebuah kebahagiaan. Untuk hal ini, tentu para pendidik sudah dan terus mengupayakan terwujudnya kondisi tersebut. Diperlukan juga dukungan dari semua pihak, terutama orangtua, alumni dan masyarakat pada umumnya. Dukungan tidak harus berupa materiil, dan justru dukungan moril dalam bentuk rasa empati, simpati dan ucapan terimakasih kepada guru, akan membuat mereka merasa dihargai, diperhatikan dan tentunya akan memberikan yang terbaik kepada anak didiknya seperti sebagai anak sendiri. Terhadap hal ini, pertanyaan yang patut untuk kita refleksikan adalah pernahkah kita mengunjungi sekolah kita dulu? Pernahkah kita menyapa, bertanya kabar dan kondisi guru-guru kita yang sudah mulai tua renta, serta berucap terima kasih kepada meraka yang telah mendidik kita dulu? Adakah pernah kita kirimkan sekuntum bunga atau bingkisan kecil kepada mereka? Pernahkah kita bertanya kondisi sekolah mereka (yang adalah almamater kita dulu), adakah yang bisa kita bantu? Terhadap guru-guru dimana anak-anak kita sekarang bersekolah, seberapa sering kita berkunjung ke sekolah, menyapa guru, menanyakan keadanaan anak kita, menyampaikan terima kasih kepada mereka, atau mungkin memberikan sekuntum bunga pada momen ulang tahun mereka, misalnya momen Hari Pendidikan Nasional yang baru saja lewat pada 2 Mei lalu, pada momen hari guru (25 Nopember) atau pada momen hari baik lainnya?

Akhirnya, pekerjaan besar untuk mewujudkan pendidikan yang berkualitas hanya akan bisa terlaksana apabila semua komponen terus bekerja keras dan bekerjasama. Perlu pemahaman perpektif secara bersama bahwa pendidikan bukan hanya urusan pemerintah, melainkan juga urusan semua komponen masyarakat dan ikhtiar memajukan pendidikan adalah juga tanggung jawab bersama. Bagi yang berkiprah di luar dunia pendidikan, mari luangkan perhatian sedikituntuk ikut terlibat memajukan pendidikan, demi anak-anak bangsa, demi kemajuan bumi Flobamora, NTT tercinta. (*)

Click to comment

Most Popular

To Top