Dispora NTT Bayar Honor Atlet yang Tertunda – Hacked by TryDee

Hacked by TryDee

SPORTIVO

Dispora NTT Bayar Honor Atlet yang Tertunda

BERI TANGGAPAN. Kadispora NTT Nahor Talan memberikan tanggapannya atas pertanyaan Komisi V dalam RDP di ruang rapat Komisi V, Rabu kemarin.

RUDY MANDALLING/TIMEX

Naikkan Biaya Konsumsi dari Rp 50 Ribu jadi Rp 75 Ribu
Komisi V Lakukan Pengawasan Khusus terhadap Dispora NTT

KUPANG,TIMEX – Persoalan honor atlet dan pelatih PPLP yang sempat tertunda selama empat bulan, akhirnya dibayarkan oleh Dispora NTT. Demikian juga dengan makan minum atlet sudah di tangani dengan lebih baik.

Hal ini diungkapkan langsung oleh Kadispora NTT, Nahor Talan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan Komisi V DPRD NTT, Rabu (14/6) lalu.

RDP tersebut di pimpin langsung Ketua Komisi V Jimmi Sianto didamping Wakil Ketua Komisi Yunus Takandewa dan anggota komisi lainnya seperti Winston Rondo, Kristofora Bantang dan lainnya. Sedangkan Kadispora NTT didampingi Sekretaris Dispora Lambert Tukan, Kabid Pembudayaan Frans Sales, Rudy Adoe dari bidang Peningkatan prestasi dan lainnya.

“Kita sudah selesaikan honor atlet yang tertunda selama empat bulan. Sedangkan untuk PPLD dan PPLM tiap bulan dibayarkan. Demikian juga persoalan makan minum juga sudah di selesaikan dengan baik,” jelas Nahor Talan.
Sedangkan menyangkut sisa honor dua bulan tahun 2016 lalu yang tertunda pembayaranya, dirinya kata Talan, telah memerintahkan agar segera dibayarkan sebelum Lebaran.

Dijelaskannya, kendala yang dihadapi di PPLP dikarenakan dana Dekon mengalami perubahan alokasi anggaran dari biasanya Januari ke bulan Mei, sehingga di daerah darah lain tidak ada yang berani melakukan pemanggilan atlet sejak bulan Februari.
“Kecuali NTT, karena ada rekanan yang siap menganggulangi makan minum atlet,” terangnya.
Terkait dengan persoalan kasur dan air yang di temukan komisi V dalam sidak beberapa hari lalu, Talan memastikan akan segera di atasi.
“Soal air, saat sidak kita katakan yang menjadi masalah adalah pompa air. Namun, ternyata pompa dalam keadaan baik dan yang jadi masalah adalah pipa distribusi dan fiber/tandon air,” urainya.

Langkah yang diambil lanjutnya, honor pengelola untuk sementara di tahan sebulan yang akan digunakan untuk pengadaan fiber. “Sedangkan kasur akan diganti sebelum lebaran,” pastinya.

Talan dalam RDP tersebut juga menjelaskan, untuk mengatasi persoalan yang terjadi, pihaknya telah mengambil kebijakan dengan mengalihkan tugas bendahara pembantu pengeluaran ke orang lain.
Selain itu, pihaknya juga telah memanggil rekanan yang mengadakan makan minum, untuk meningkatkan lagi pelayanannya bagi atlet, dengan menambah menu susu dan telur.
“Biaya konsumsi hanya Rp 50 ribu per orang per hari, dan akan kita upayakan untuk menambah Rp 25 ribu sehingga menjadi Rp 75 ribu,” bebernya.

“Terima kasi atas inisiatif komisi yang meninjau langsung asrama atlet dan saya sudah minta bidang yang menangani untuk mengawasi langsung setiap secara rutin,” ungkapnya.

Mencuatnya persoalan honor atlet PPLP ini membuat Komisi V mengambil sikap tegas terhadap Dispora NTT, salah satunya dengan melakukan pengawasan khusus terhadap Dispora NTT.

Hal ini disampaikan anggota Komisi V Winston Rondo dalam RDP tersebut.
Wisnton mengapresiasi respon cepat Dispora sehingga sebagian besar persoalan beres.
“Namun pertanyaaan kenapa baru sekarang?” katanya.
Wisnton menilai Kadispora perlu melakukan evaluasi terhadap stafnya. “Jangan tunggu disidak dulu baru bekerja, karena dampaknya kurang enak. Dispora harus proaktif,” pinta Winston.

Mekanisme komplain menurutnya juga harus jelas. “Jika atlet ada yang di rugikan, maka atlet harus tahu siapa yang dia hubungi,” paparnya.

Karena itu kata Wisnton pengawasan khusus terhadap Dispora oleh Komisi V akan dilakukan dan di perketat sehingga persoalan seperti ini tidak terjadi lagi.

Sementara itu, Ketua Komisi V Jimmi sianto mengatakan
soal air bersih, setelah di cek ternyata fiber/tandon yang bermasalah dan ini berarti Dispora tidak kerja.
“Sebagai top manajer di dispora harusnya kadis bisa tegas, jika ada masalah,” tegasnya.
Banyak masalah yang ditemukan di asrama, baru bisa di selesaikan setelah sidak.

Jimmi juga meminta agar persoalan yang terjadi di evaluasi, sehingga tidak terjadi lagi.
Dikatakannya juga, Komisi V saat ini sedang membahas Ranperda olahraga, dan masyarakat olahraga sangat antusias menyambut Ranperda ini.

“Namun, pembahasan Ranperda ini akan di pertimbangkan kembali, karena Dispora justru membuat komisi V menjadi lesu membahas Ranperda ini,” ungkap Jimmi.

Menurutnya, banyak Ranperda yang di usulkan dari SKPD lain untuk dibahas, dan ditinggalkan agar fokus pada Ranperda olahraga. “Namun, Dispora membuat kita jadi lesu,” katanya lagi

Jimmi juga meminta agar kegiatan olahraga yang berada di bawah Dispora akan ditata agar tidak tumpang tindih antara KONI dan Dispora.
“Saya harapan bantu kami Komisi v, supaya jangan hanya tiap hari urus persoalan di Dispora saja.
Kita harus berpikir kegiatan baru dan bukan hanya urus masalah saja,” pungkasnya.(rum)

Click to comment

Most Popular

To Top