Sekolah 5 Hari Harus Disiapkan dengan Baik – Hacked by TryDee

Hacked by TryDee

NASIONAL

Sekolah 5 Hari Harus Disiapkan dengan Baik

KUPANG, TIMEX-Sekolah lima hari yang sesuai rencana akan dilaksanakan mulai 1 Juli 2017 belum mendapat tanggapan serius pemerintah dan sekolah di daerah. Harus disiapkan dengan baik sebelum dilaksanakan sehingga hasilnya lebih efektif.

Menanggapi peraturan Menteri Pendidikan terkait sekolah lima hari yang dimulai Juli ini, Sekretaris Dinas Pendidikan NTT, Aloysius Min mengatakan, putusan menteri harus dikaji secara baik. Sementara itu, Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang, Damianus Talok menilai, keputusan Menteri Pendidikan tentang sekolah 5 hari kurang efektif. Menurutnya harus dilakukan persiapan terlebih dahulu.

Kepada koran ini, Selasa (13/6) di ruang kerjanya, Alo Min mengatakan, harus dipikirkan juga apa yang dilakukan di hari Sabtu, baik untuk guru maupun siswa. Dalam putusan itu juga ditegaskan bahwa guru wajib berada di sekolah selama 8 jam.

“Yang harus ditanyakan adalah selama 8 jam itu apa yang guru lakukan untuk mengefektifkan pembelajaran. Pasalnya pada jam 12 ke atas, anak sudah tidak bisa belajar secara efektif,” katanya.

Selain itu, pertanyaan lainnya adalah apa yang guru dan siswa lakukan pada hari Sabtu agar mendapat manfaat edukasi secara baik di rumah. “Dilihat pada kenyataannya, siswa di rumah lebih banyak menghabiskan waktu dengan bermain hand phone dan kegiatan tidak bermanfaat lain,” katanya.

Selain itu, lanjut Alo, apa yang dilakukan guru pada hari libur juga harus jelas dalam nuansa pendidikan. “Jadi hari Sabtu yang dijadikan hari libur itu harus diberi makna untuk mengefektifkan waktu tersebut. Misalnya pada hari Sabtu apa yang dilakukan siswa pada hari Senin diserahkan ke guru. Apa yang dilakukan guru diberikan ke kepala sekolah agar waktu yang ada itu benar-benar dimanfaatkan secara baik,” jelasnya.

Menurut Alo Min, yang perlu dibenahi adalah mutu pendidikan. Jika 5 hari sekolah maka jam pelajaran otomatis sampai sore. Sementara pada pukul 12.00 ke atas, kemampuan anak menyerap pelajaran kurang efektif. “Hal itu alamiah. Bagaimana siswa disuruh belajar dari pagi sampai sore jika kemampuan menerima pelajarannya sudah kurang baik di atas pukul 12.00,” kata Alo.

Ia berharap, sebelum keputusan itu dijalankan, harus ada uji coba dengan mengambil sampel dari sekolah di desa dan di kota. Apakah efektif atau tidak, baik model pembelajaran, pengembangan pendidikan lainnya.

Menurutnya, yang ingin dicapai adalah bagaimana meningkatkan mutu pendidikan. Sehingga yang harus dibenahi adalah guru, lingkungan sekolah dan siswa sendiri. “Yang harus diperhatikan adalah tentang bagaimana guru yang inovatif dan kreatif dalam menjalankan proses belajar-mengajar agar menjadi efektif dan dapat diterima oleh siswa. Juga bagaimana menciptakan lingkungan belajar yang nyaman dan menyenangkan agar siswa menjadi betah dan mencintai pendidikan guna mencapai output yang berintelektual dan berkarakter,” jelas Alo Min.

Sementara itu, Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Katolik Widya Mandira (Unwira) Kupang, Dr. Damianus Talok menjelaskan, keputusan Menteri Pendidikan tentang sekolah lima hari yang mulai diberlakukan bulan Juli ini kurang efektif. “Harus dilakukan persiapan terlebih dahulu,” ujar Damianus.

Yang utama menurutnya adalah persiapan guru sendiri yakni tentang apa yang dilakukan guru pada jam belajar. “Jangan hanya menjalankan proses belajar mengajar seperti biasanya karena waktu belajar hanya lima hari. Sehingga harus dicari bagaimana guru dapat memanfaatkan waktu yang ada karena otomatis waktu belajar akan berlangsung sampai sore. Jika guru sudah dipersiapkan, barulah mempersiapkan mental siswanya,” katanya.

Ia menambahkan, sekolah lima hari ini jika dipaksakan untuk diterapkan tanpa ada perencanaan atau persiapan yang baik, maka akan menambah daftar panjang buruknya mutu pendidikan itu sendiri. Karena kenyataannya, proses belajar selama enam hari yang selama ini dilakukan saja tidak pernah merubah atau meningkatnya mutu pendidikan.

“Yang perlu dibenahi adalah bagaimana meningkatkan mutu pendidikan yaitu guru, lembaga pendidikan dan siswa. Jika dipaksakan untuk sekolah lima hari, maka harus dipikirkan juga bagaimana mengefektifkan pembelajaran itu karena jika terlalu lama di sekolah, guru dan siswa cenderung bosan dan kehilangan konsentrasi belajar,” ungkapnya.

Sekolah Minta Persiapan

Menanggapi rencana pelaksanaan sekolah lima hari tersebut, Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MK2S) SMK Kota Kupang, Mathias Beeh mengungkapkan bahwa dirinya merasa sekolah lima hari perlu direncanakan secara baik. Hal itu karena harus menyesuaikan dengan program enam hari yang selama ini diterapkan.

Menurutnya, penerapan sekolah lima hari ini perlu dikoordinasikan dengan berbagai pihak. Baik sekolah, guru, siswa dan orangtua karena jika anak berada di sekolah hingga sore hari, tentunya ia membutuhkan makanan dan faktor penunjang lainnya.

“Orangtua juga harus siap untuk menerima sistem baru ini. Karena orangtua juga harus memikirkan makanan anaknya ketika harus berada di sekolah hingga sore hari,” kata Beeh yang juga Kepala Sekolah SMK Negeri 1 Kupang itu.

Kalau untuk SMKN 1 sendiri, kata Beeh, sudah dipersiapkan untuk menjalankan sekolah lima hari. Pada 17 Juni ini akan disampaikan kepada semua orangtua. Jika orangtua merespon baik dan setuju maka akan diberlakukan. “Tetapi jika sebaliknya, maka kita perlu membahas ulang atau mempersiapkan sekolah secara baik agar semua dapat mencapai efektifitas dalam proses belajar-mengajar,” kata Beeh.

Sementara, Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MK2S) SMA Kota Kupang, Bapa Muda menjelaskan, jika peraturan menteri tentang sekolah lima hari itu wajib dilakukan, maka sekolah harus siap untuk melaksanakannya. Untuk SMA di Kota Kupang, kata Bapa Muda, SMAN 1 Kupang yang dipimpinnya sudah siap untuk melaksanakannya.

Menurutnya, untuk menyukseskan program ini butuh kerja sama guru dan siswa sehingga mampu menghasilkan pembelajaran yang efektif selama lima hari tersebut.

“Guru harus inovatif dalam mensiasati KBM hingga sore hari agar siswa pun dapat menerima pelajaran dengan baik hingga sore hari. Selain itu menjadikan waktu libur di hari Sabtu sebagai waktu untuk belajar di rumah atau mengisinya dengan kegiatan bermanfaat bagi akademik dan pembentukan karakter siswa,” katanya. (mg25/ito)

Click to comment

Most Popular

To Top