Jangan Adopsi Ideologi Luar Geser Pancasila – TIMOREXPRESS.COM

TIMOREXPRESS.COM

PENDIDIKAN

Jangan Adopsi Ideologi Luar Geser Pancasila

KALUNGKAN. Pembantu Rektor Universitas PG 45 NTT mengalungkan selendang kepada Romo Gerardus Duka Pr, sebelum seminar digelar. Diabadikan Kamis (15/6) kemarin.

FERDY TALOK/TIMEX

GP Ansor dan Universitas PG 45 Gelar Seminar

KUPANG, TIMEX-Gerakan Pemuda (GP) Ansor bekerjasama dengan Universitas Pesatuan Guru (PG) 45 NTT menggelar seminar bertajuk “Merajut kerukunan antar umat menolak politisasi” di kampus universitas tersebut, Kamis (15/6) kemarin. Seminar itu diikuti dosen dan mahasiswa universitas tersebut.

Hadir sebagai pembicara antara lain, Vikjen Keuskupan Agung Kupang, Rm. Geradus Duka Pr, Wakil Ketua MUI NTT, Djamaludin Bethan, Pdt. Emil Hauteas, Rektor Universitas PG 45, David Selan. Seminar itu dimoderatori Abdul Muis yang juga Ketua GP Ansor NTT.

Rektor Universitas PG 45 NTT, David Selan dalam materinya mengemukakan, saat ini ideologi bangsa Indonesia yakni Pancasila lagi diuji. Pancasila merupakan falsafah bangsa dan perekat perbedaan. Karena itu, jangan ada upaya apapun untuk merubah ideologi negara Indonesia.

Indonesia bilangnya bukan negara agama, sebagaimana yang telah ditetapkan oleh pendiri bangsa. Karena itu, upaya untuk merubah idelogi sangat tidak diterima. Semua anak bangsa tambahnya, untuk menolak apapun ideologi yang ditawarkan.

Dia menjelaskan, sejauh ini ada upaya yang nyata untuk mengganti dasar negara, oleh kelompok maupun organisasi tertentu. Ini jelas membahayakan kondisi bangsa dan negara. Salah satu caranya dengan melakukan tindakan intoleran, bahkan radikalisme, terhadap sesama anak bangsa. Oleh karena itu, dia berharap agar setiap anak bangsa, termasuk di Universitas PGRI maupun GP Ansor, untuk tidak rasis, menjaga kejujuran hati, dan tidak saling mencederai.

Menurut dia, upaya mengganti ideologi itu, karena ada pihak-pihak tertentu mengadopsi nilai luar dan ingin menggeser ideologi bangsa. “Jelas ini tidak bisa diterima. Jangan adopsi ideologi luar, kemudian mau diterapkan di Indonesia. Masyarakat Indonesia heterogen,” tutupnya.

Sementara itu, Pdt. Emil Hauteas menjelaskan, pembentukan UUD 1945 dan Pancasila sebagai dasar negera melalui permenungan yang dalam. “semua melalui refleksi yang dalam,” bilangnya.

Karena ditolaknya Piagam Jakarta, oleh tokoh-tokoh non muslim dari Indonesia bagian Timur, maka disepakati untuk tidak menggunakan Piagam Jakarta. Dan hingga kini pacasila kokoh.

Pancasila ditetapkan sebagai dasar negara katanya, juga karena kebesaran hati umat muslim di Indonesia. Tokoh-tokoh muslim menerima kemajemukan dalam negara. Akhirnya, menjadi NKRI yang berdasarkan Pancasila. “Ini karena perjuangan tokoh Protestan dan Katolik. Tetapi lebih dari itu, ini karena tokoh-tokoh Islam menerima perbedaan dan kemajemukan,” ungkapnya.

Oleh karena itu, baginya Pancasila sudah final dan tidak bisa diutak-atik lagi. Pancasila menjadi dasar negara yang merangkul semua segmen. Pancasila merupakan perekat anak bangsa. “Sepantasnya, anak bangsa mulai melupakan perbedaan dalam berbagai sisi. Harusnya semua bersatu untuk membangun bangsa yang besar ini,” timpalnya.

Vikjen Keuskupan Agung Kupang, Rm. Gerandus Duka Pr, dalam materinya menyoroti sikap fanatisme yang berlebihan. Dia berharap anak bangsa untuk tetap mengupayakan dialog, dan tidak melihat berbagai perbedaan sebagai penghambat pembangunan bangsa.

Baginya, kedamaian hidup di Indonesia berdasarkan pancasila telah teruji. Oleh karena itu, Pancasila sebagai sadar negara tidak dipersoalkan lagi. Hendaknya semua anak Indonesia bersatu, untuk membangun bangsa, dan mengejar ketertinggalan dengan negara lain. “Idelogi sudah final dan tidak perlu dibahas lagi. Mari bersatu bangun bangsa,” ungkapnya.

Wakil Ketua MUI, Djamaludin Bethan meminta semua umat beragama di Indonesia menghargai perbedaan. Perbedaan tidak boleh dijadikan komoditas pihak tertentu untuk memecah belah bangsa. Bagi pihaknya terutama NU, NKRI dan Pancasila sudah selesai dan tidak perlu dibahas.

NU sebutnya, akan berada didepan, untuk menolak segala upaya untuk mengganti ideologi dan upaya menolak perbedaan dengan tindakan intoleran. NTT sebutnya, telah membuktikan bagaimana hidup berdampingan sebagai sesama anak negeri, tanpa melihat perbedaan-perbedaan. (lok)

Click to comment

Most Popular

To Top