Warga Ponu Tolak Rehab Saluran Irigasi – TIMOREXPRESS.COM

TIMOREXPRESS.COM

RAKYAT TIMOR

Warga Ponu Tolak Rehab Saluran Irigasi

TANAM. Sejumlah warga sedang melakukan penanaman padi di lokasi persawahan Oetepas Desa Ponu Kecamatan Biboki Anleu, Jumat (16/6)
(ft kanan) IRIGASI. Inilah bangunan irigasi persawahan Oetepas di Desa Ponu Kecamatan Biboki Anleu.

YOHANES SIKI/TIMEX

Pekerja dan Truk Dihentikan

KEFAMENANU, TIMEX – Warga Desa Ponu Kecamatan Biboki Anleu menolak pembangunan rehab saluran irigasi untuk persawahan Oetepas seluas 158 hektare. Warga mengaku, yang dibutuhkan saat ini bangunan rehab bendungan, lantaran sudah lama tidak berfungsi akibat jebol.

Penolakan warga dibuktikan melalui pemboikotan terhadap truk, saat melintas dan membawa material bangunan berupa pasir dan batu untuk pekerjaan irigasi sawah. Bahkan, sejumlah buruh bangunan yang sedang beraktivitas di lokasi irigasi juga ikut dibubarkan warga.

Ulu Besin Manehat, tokoh masyarakat setempat kepada Timor Express, Jumat (16/6) mengaku, bersama warga setempat tidak mengetahui kontraktor yang dipercaya untuk mengerjakan irigasi persawahan Ponu. Bahkan di lokasi rehab irigasi tidak terpasang papan pengumuman, sehingga diketahui masyarakat.

“Kami tidak tahu proyek siapa yang kerja, volume dan pagu anggarannya. Apalagi kerja disaat warga sedang semaikan bibit dan musim tanam, sehingga warga marah dan bubarkan semua pekerja. Termasuk truk yang kasih turun material kami larang dan usir pulang,” katanya.

Menurut Ulu Besin, setiap tahun selalu saja dialokasikan anggaran untuk rehab irigasi, tapi hasilnya sudah rusak dan mubazir karena kering tidak dialiri air. Sehingga warga tidak setuju untuk tahun ini tidak perlu dibangun lagi irigasi. Yang dibutuhkan warga perbaikan bangunan bendungan, sehingga bisa dialirkan ke persawahan warga.

Menurutnya, pemerintah mestinya tanggap terhadap kebutuhan warga petani persawahan di wilayah itu. Sebab, setiap tahun para petani sering mengeluh karena air kering, sehingga gagal panen. Padahal, sudah diusulkan bantuan bahkan setiap kunjungan pejabat, warga selalu mengusulkan untuk pembangunan bendungan tapi hingga kini tak kunjung ada realisasi untuk rehab bendungan. Sehingga, bisa dialirkan ke area persawahan warga.

“Kita tidak tolak proyek irigasi tapi mestinya proyek yang dialokasikan sesuai kebutuhan riil masyarakat. Setiap tahun selalu ada rehab irigasi tapi mubazir karena air tidak ada,” katanya.

Hal serupa disampaikan Heribertus Usboko. Ia mengaku, bendungan persawahan Oetepas sudah dibangun 22 tahun silam, tapi selama ini mubazir dan tidak lagi menampung air karena sudah jebol. Sehingga mestinya diperbaiki sehingga bisa dialirkan ke lokasi persawahan warga.

“Sebelumnya sudah ada tim yang turun survei tapi hingga kini tidak kunjung untuk rehab. Tidak bisa hanya rehab irigasi tapi airnya tidak bisa mengalir karena bendungan jebol,”kesalnya.

Heribertus mengaku selama ini masyarakat swadaya membangun tanggul tradisional untuk mengalirkan air, tapi itu pun tidak bisa bertahan lama. Sehingga warga berharap kepada pemerintah untuk bisa merehabilitasi bendungan Oetepas yang sudah lama mubazir.

“Masyarakat selama ini swadaya untuk palang sungai dengan cara manual tapi itu tidak bisa bertahan lama. Debit air juga kurang, sehingga tidak bisa dialirkan untuk semua lahan persawahan warga,” katanya.

Terpisah, Camat Biboki Anleu, Mikhael Oenunu saat dikonfirmasi membenarkan adanya pekerjaan rehab saluran irigasi di lokasi persawahan Oetepas. Proyek rehab irigasi dikerjakan Balai Wilayah Sungai Nusa Tenggara II.

“Kita sudah dapat informasi tahun ini rehab irigasi persawahan di Ponu. Saya lupa rekan yang kerja karena di lapangan saya belum tahu apakah sudah mulai kerja atau belum,” katanya.

Mikhael mengaku belum mendapat laporan adanya tindakan warganya untuk menghentikan aktivitas proyek rehab irigasi persawahan di wilayah itu. Dirinya tidak tahu alasan warga untuk menghentikan aktivitas pekerjaan. Sebab, beberapa hari terakhir dirinya berada di kabupaten.

Meski demikian Mikhael mengaku kondisi warga petani di wilayahnya sangat membutuhkan perbaikan bendungan, sehingga bisa dialirkan ke persawahan Oetepas. Sebab, setiap tahun warga kesulitan air untuk dialirkan ke sawah.

“Kita akui petani disini setiap tahun kesulitan air karena bendungan sudah lama jebol. Bendungan itu sudah lama dibangun dan selama ini tidak bisa lagi tampung air sehingga perlu diperbaiki,” katanya. (mg24/ays)

Click to comment

Most Popular

To Top