Penyelundupan Narkotika, Jalur Laut Dominan – Timor Express

Timor Express

KRIMINAL

Penyelundupan Narkotika, Jalur Laut Dominan

5 Juta Orang Diselamatkan

JAKARTA, TIMEX—Pengiriman narkotika didominasi melalui jalur laut. Polri memastikan dari tiga jalur pengiriman narkotika, udara, laut dan darat, bandar paling menyukai jalur lautan. Bahkan, bila dipresentasekan pengiriman narkotika dengan jalur laut mencapai 80 persen.

Dari data Badan Narkotika Nasional dan Polri, jalur laut untuk narkotika asal Tiongkok melewati sejumlah kota. Narkotika tidak langsung dikirim ke Indonesia, namun transit ke sejumlah tempat. Awalnya dari daerah asal seperti dari Hongkong, Taiwan dan Nanjing, narkotika dikirim melalui Laut China Selatan dan transit di Ho Chi Min, Vietnam.

Dari Vietnam ini, narkotika ditransitkan kembali ke Bangkok. Akhirnya, sampai ditujuan utama Indonesia, melalui jalur tikus di Palembang atau Medan. Selanjutnya, dikirim melalui darat atau laut ke Jakarta dan Surabaya.

Untuk rute lainnya, merupakan rute pengiriman narkotika asal Iran, Eropa dan Afrika. Dari Hormuz di Iran, kapal melewati laut Arab menuju ke Kochi, India. Lalu, berlayar melewati Teluk Bengal menuju ke Chittagong di Bangladesh dan akhirnya melewati Samudera Hindia masuk ke Belawan Medan atau malah langsung ke Jakarta dan Surabaya.

Juru Bicara Divhumas Polri Kombespol Slamet Pribadi mengungkapkan, 80 persen pengiriman narkotika masuk ke Indonesia itu menggunakan jalur laut. Jalur laut paling disukai bandar narkotika karena potensi keberhasilannya tinggi. ”Ada banyak variable mengapa jalur laut disukai,” jelasnya.

Alasan pertama, banyak pelabuhan tikus itu tersebar sekitar Belawan, Medan, Palembang dan Kepulauan Riau. Pelabuhan tikus ini yang paling mengetahui tentunya nelayan-nelayan Indonesia. ”Karena itu, pengawasan pelabuhan tikus penting,” paparnya.

Selanjutnya, masih banyak nelayan yang tidak terdidik mau dikelabui untuk membawa narkotika. dia mengatakan, biasanya kapal-kapal besar yang membawa narkotika itu tidak sandar ke pulau-pulau di Indonesia. ”Mereka berhenti di tengah lautan di Indonesia,” jelasnya.

Berhentinya kapal tersebut merupakan strategi agar mudah dan cepat meloloskan diri bila ada petugas yang mendeteksi. Untuk bisa memasukkan narkotika itu, kapal-kapal nelayan kecil digunakan untuk membawa narkotika. ”Artinya, ada yang menjemput barang tersebut,” ungkap mantan Kepala Humas BNN tersebut.

Karena itu, menjadi begitu penting untuk bisa menggandeng masyarakat nelayan dan di sekitar pantai. Sebab, mereka menjadi orang yang pertama kali mengetahui bila ada penyelundupan narkotika. ”Mereka harus dididik untuk mengenali penyelundupan narkotika,” ujarnya.

Selanjutnya, ada trik mudah untuk bisa melapor ke kepolisian. Yakni, mencatat nomor kontak polres terdekat. Dia mengatakan, nelayan bila berada di tengah laut tentu sulit untuk melapor. ”Kadang mereka tidak memiliki telepon satelit, namun untuk yang punya bisa melapor dengan mencatat nomor telepon polres dan polsek terdekat,” ujarnya.

Sementara terkait jumlah narkotika yang diamankan mencapai 1 ton atau 1.000 kg, Slamet Pribadi menghitung bahwa bila satu gram sabu itu digunakan lima orang atau lima kali pemakaian, maka untuk 1 ton itu berarti ada 5 juta pengguna yang telah diselamatkan. ”Jumlah ini cukup fantastis,” tuturnya.

 

Pasalnya, jumlah pengguna narkotika di Indonesia ini juga mencapai sekitar 5 juta orang. Dengan begitu, semua pengguna tidak akan bisa menggunakan narkotika tersebut. ”Jumlah yang diselamatkan hampir sama dengan jumlah pengguna narkotika di Indonesia,” ungkapnya.

Dia mengatakan, dengan begitu sebenarnya tangkapan kali ini memang berdampak besar terhadap dunia narkotika di Indonesia. Kemungkinan besar narkotika sebanyak itu memang untuk stok semua bandar. ”Dengan begini mereka akan lebih terguncang,” tuturnya. (idr/jpg/ito)



Populer Minggu ini

Copyright © 2018 Timor Espress

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!