Lima Tersangka, Dua Ditahan – Timor Express

Timor Express

HUKUM

Lima Tersangka, Dua Ditahan

 Kasus Pengadaan Lisensi MS Bank NTT
Bank NTT Belum Bersikap

KUPANG, TIMEX-Penyidik tindak pidana khusus Kejaksaan Tinggi (Tipidsus Kejati) NTT bekerja cepat dalam upaya mengungkap kasus dugaan tindak pidana korupsi dalam pengadaan lisensi microsoft society (MS) pada Bank NTT Tahun Anggaran (TA) 2015. Dalam kurun waktu tiga bulan, sudah diketahui siapa-siapa saja tersangkanya.

Bagaimana tidak, pada 9 Mei lalu, kasus pengadaan lisensi MS pada Bank NTT dinaikkan statusnya dari penyelidikan ke penyidikan. Kemarin, Senin (7/8) sekira pukul 09.30 Wita hingga pukul 12.00 Wita, setelah dilakukan ekspose kasus bersama yang melibatkan Kepala Kejati NTT Sunarta, para asisten, para Kasi dan penyidik di Kantor Kejati NTT, akhirnya disepakati untuk menetapkan lima orang sebagai tersangka untuk proyek dengan pagu anggaran senilai Rp 4,3 miliar itu.

Kelima orang yang namanya sudah ditetapkan sebagai tersangka yakni, Adrianus Ceme selaku Direktur Umum (Dirum) Bank NTT, Salmun Teru (Kadiv IT Bank NTT), Aldi Rano (Ketua Panitia Pengadaan Lisensi MS pada Bank NTT), Erwin Pasaribu (Pihak Microsoft), dan Juraida Zein dari Compares.

Kepada Timor Express di ruang kerjanya, siang kemarin (7/8), Kepala Kejati NTT Sunarta didampingi sejumlah stafnya menegaskan, Senin kemarin adalah waktu yang tepat untuk melakukan penetapan tersangka. Hal ini dilakukan berdasarkan surat dari penyidik dan dibuatkan surat pengantar oleh Aspidsus yang meminta agar dilakukan ekspose terhadap hasil penyidikan selama ini untuk kasus pengadaan lisensi MS pada Bank NTT. “Dari pertemuan tadi (kemarin, red) disepakati bersama oleh semua yang hadir dalam ekspose kasus itu agar ada penetapan tersangka. Selain itu, pada 1 Agustus lalu, sudah dilakukan ekspose ke BPKP. Dan tim BPKP juga setuju bahwa proyek pengadaan lisensi MS Bank NTT itu ada perbuatan melawan hukum dan merugikan keuangan negara,” tegas Sunarta. Namun, sebut dia, saat ini tim BPKP NTT sementara fokus untuk menghitung kerugian keuangan negara yang sudah ditimbulkan dalam kasus tersebut. “Dalam ekspose dengan tim BPKP waktu itu, semua yang hadir setuju bahwa ada penyimpangan dalam pengadaan lisensi MS pada Bank NTT tahun 2015. Akibatnya jelas, yakni menimbulkan kerugian keuangan negara. Kerugian keuangan negaranya berapa? Masih sementara dihitung oleh tim BPKP,” urai mantan Wakajati Sulsel ini.

Masih menurut dia, dalam ekspose kasus itu, semua sepakat untuk diumumkan tersangka. “Yang kita tetapkan sebagai tersangka itu punya peran penting selama pelaksanaan proyek,” tambah Sunarta.

Disinggung mengenai tersangka berikutnya dalam kasus tersebut, Sunarta menegaskan, untuk tahap pertama baru lima orang yang jadi tersangka. “Baru ada lima orang yang kita tetapkan sebagai tersangka. Kita di Kejati NTT selalu bekerja atas dasar yuridis saja dan tidak ada kepentingan apa-apa,” kata dia.

Mengenai proses hukum selanjutnya, dirinya menjelaskan, harus segera dilakukan pemberkasan sebagai tersangka untuk kelima orang tersebut. “Yah, harus segera ditetapkan sebagai tersangka. Secepatnya harus diperiksa sebagai tersangka. Kalau ada yang datang hari ini (kemarin, red), yah harus hari ini diperiksa,” ungkap Sunarta.

Terkait rencana penahanan para tersangka, dirinya menegaskan itu tergantung penyidik yang menangani perkara itu. “Jadi, kalau hari ini ada tersangka yang diperiksa maka ditahan atau tidaknya itu tergantung penyidik. Penyidik yang mengajukan nota dinas yang isinya ditahan atau tidak. Kalau Aspidsusnya setuju maka diteruskan ke saya dan saya tinggal mengetahui saja jika ada penahanan,” sebut sosok nomor satu di Kejati NTT ini.

Tentunya, sebut Sunarta, penahanan seseorang selalu mengacu pada dua alasan yakni subjektif dan objektif. “Kalau undang-undang mengatur soal penahanan. Sementara alasan subjektifnya, khawatir tersangka melarikan diri, menghilangkan barang bukti dan mengulangi lagi perbuatannya,” tutup Sunarta.

Seperti terpantau Timor Express sejak pagi kemarin, dua orang tersangka langsung memenuhi panggilan penyidik Tipidsus Kejati NTT. Kedua tersangka itu yakni Salmun Teru selaku Kadiv IT Bank NTT dan Aldi Rano selaku ketua panitia pengadaan lisensi MS pada Bank NTT. Usai dilakukan ekspose penetapan tersangka, keduanya langsung diperiksa penyidik dengan status sebagai tersangka. Tersangka Salmun Teru diperiksa jaksa penyidik Tipidsus, Jhon Purba. Selanjutnya, pada pukul 15.00, kedua tersangka lalu digiring ke ruang Datun untuk memeriksakan kesehatannya.

Usai pemeriksaan kesehatan, kedua tersangka langsung dibawa ke rumah tahanan (Rutan) Klas IIB Kupang. Tampak juga, istri dari tersangka Salmun Teru hadir di Kejati NTT. Istri tersangka Salmun Teru menangis tersedu-sedu. Beberapa saat kemudian, sejumlah rombongan kendaraan memberikan dukungan moril bagi istri tersangka Salmun Teru.

Bank NTT Belum Bersikap

Sementara itu, untuk memastikan apa sikap atau respon manajemen Bank NTT terkait proses hukum ini, sejumlah pimpinan Bank NTT berusaha dihubungi koran ini. Sayangnya belum ada sikap atau pernyataan resmi dari internal Bank NTT.

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Utama Bank NTT, Eduard Bria Seran yang dikonfirmasi sejak siang hingga malam kemarin belum berhasil. Timor Express yang berusaha menemui Eduard Bria Seran di kantornya sekira pukul 15:20-17:15 Wita tidak berhasil ditemui. “Pak Plt. Dirut sudah pulang sebelum jam 12:00. Tidak tahu ada tugas ke mana,” kata salah satu staf di kantornya kemarin.

Informasi lain menyebutkan, Eduard Bria Seran sedang kurang enak badan sehingga pulang lebih awal untuk istirahat. Sayang, saat dihubungi melalui ponselnya, nomor yang dituju selalu sibuk.

Komisaris Utama Bank NTT, Fransiskus Salem yang dihubungi pun mengaku belum mengetahui kabar tentang hasil ekspose kasus tersebut. Hal senada juga disampaikan Direktur Kepatuhan Bank NTT, Tommy Ndolu yang sempat dihibungi oleh Frans Salem. “Nanti saya coba hubungi Pak Plt (Plt. Dirut, Red) dulu. Tadi saya hubungi Pak Tomy, tetapi belum tahu juga,” kata Frans Salem

Direktur Umum, Adrianus Ceme yang juga dihubungi melalui nomor ponselnya pun belum merespon. Informasi yang dihimpun koran ini menyebutkan, Adrianus Ceme sedang melakukan kunjungan ke Larantuka, Flores Timur pada Senin (7/8) siang. (gat/cel/ito)

Most Popular

Jaringan Berita Terbesar

© 2016 TIMOREXPRESS.COM by FAJAR.co.id

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!