Tim Kejati Klarifikasi ke Penyidik – Timor Express

Timor Express

HUKUM

Tim Kejati Klarifikasi ke Penyidik

BUKTI LAPORAN. Pengurus Pospera, Mardon Nenohai dan Fredik Kase sementara menunjukan bukti laporan usai memolisikan penyidik Kejari TTS, Nelson Tahik ke Mapolda NTT, Selasa (1/8) lalu.

IST

Diduga Penggelapan Dokumen Perkara ‘Mami’ TTS

KUPANG, TIMEX- Selasa siang (1/8), dua orang pengurus Posko Perjuangan Rakyat (Pospera) Kabupaten TTS mendatangi Mapolda NTT. Kedatangan kedua pengurus Pospera itu ke Mapolda NTT guna melaporkan salah satu penyidik di Kejari Kabupaten TTS sekaligus Kasi Intel, Nelson Tahik yang diduga telah menghilangkan barang bukti berupa kuitansi perkara makam minum (Mami) pelantikan bupati dan wakil bupati TTS dengan terdakwa Salmun Tabun.

Kedua pengurus Pospera itu yakni Mardon Nenohai dan Fredik Kase selaku ketua dan sekretaris. “Kita laporkan Nelson Tahik selaku penyidik di Kejari TTS karena telah melakukan kejahatan jabatan yakni menghilangkan barang bukti dalam perkara makan minum pelantikan bupati dan wakil bupati TTS. Ada barang bukti berupa kuitansi yang sudah disita. Tapi kuitansi itu justru tidak diserahkan ke BPK untuk dilakukan audit,” sebut kedua pengurus Pospera itu.

Oleh karena perbuatan jaksa penyidik Kejari TTS itu, kata mereka, maka menyebabkan adanya kerugian negara sehingga Salmun Tabun harus disidangkan di Pengadilan Tipikor Kupang. Dijelaskan juga, kasus ‘mami’ dengan terdakwa Salmun Tabun itu sudah dilidik sejak November 2015. “Penyitaan dokumen sudah dilakukan di Bagian Umum Setda Kabupaten TTS pada 1 Februari 2016. Selanjutnya, penyidik kemudian mengirim surat permintaan audit ke BPK pada April 2016,” ujar kedua pengurus Pospera itu.

Pada 30 Mei 2016, Nelson Tahik selaku terlapor meminta bendahara pengeluaran Setda TTS, Robert Selan memberikan satu buah kuitansi snack ‘mami’. Namun, lanjut keduanya, pada Januari 2017, Kejaksaan Negeri TTS menerima hasil audit dari BPK dimana kerugian negara akibat kasus ‘mami’ itu sebebsar Rp 37.527.272.73. “Pada sidang dengan agenda pemeriksaan ahli dari BPK, Hermawan Saputro menyatakan, kerugian keuangan negara itu ditemukan sesuai dengan bukti-bukti yang diajukan oleh Kejari TTS. Sementara saksi bendahara pengeluaran Setda TTS, Robert Selan yang dalam kesaksiannya menyatakan, ada pengadaan snack pada kegiatan pelantikan bupati dan wakil bupati TTS yang dibuktikan dengan kuitansi yang sudah diserahkan kepada terlapor sebagai jaksa penyidik pada tanggal 30 Mei 2016,” kata mereka.

Oleh karena perbuatan penyidik Nelson Tahik itulah maka mereka mengaku bahwa ada upaya penggelapan atau menghilangkan barang bukti berupa kuitansi agar BPK dalam proses auditnya tidak menemukan pertanggungjawaban anggaran snack tersebut. “Selain lapor di Polda NTT, kita juga akan lapor ke Kejagung,” ucap keduanya singkat.

Terpisah, Budi Handaka selaku ketua tim yang menangani kasus yang dialami Nelson Tahik tegaskan, saat ini pihaknya sementara melakukan klarifikasi ke yang bersangkutan (Nelson Tahik). “Kita minta dia untuk merincikan apa saja yang sudah disita waktu itu ketika menangani kasus makam minum pelantikan bupati dan wakil bupati. Klarifikasi ini penting untuk mengetahui sebab para pelapor mengadu ke Mapolda NTT,” ucap Budi Handaka singkat di ruang kerjanya, Senin (7/8).

Sementara Kabid Humas Polda NTT Kombes Pol. Jules A. Abast kepada Timor Express membenarkan adanya laporan polisi yang dilakukan dua orang pelapor ke Mapolda NTT beberapa waktu lalu. Dirinya katakan, saat ini pihaknya masih melakukan pendalaman untuk kasus tersebut. “Kita masih sementara dalami kasus itu. Kedua pelapor sudah kita periksa. Tapi kita masih harus periksa lagi saksi-saksi untuk memastikan kasus yang dilaporkan itu,” tegas perwira dengan tiga melati dipundak ini. (gat)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!