Massa Menyemut Sambut Simpai Nabas – timorexpress.fajar.co.id

timorexpress.fajar.co.id

RAGAM

Massa Menyemut Sambut Simpai Nabas

IRINGI JENAZAH. Ribuan kendaraan mengiringi jenazah almarhum Simpai Nabas saat melintas di Jalan Frans Seda, Kamis kemarin.

FENTI ANIN/TIMEX

Hari Ini Diberangkatkan ke Sumba

KUPANG, TIMEX–Jenazah almarhum Barnabas nDjurumana tiba di Kupang, Kamis (10/8) siang. Ribuan warga Kota Kupang memadati gedung VIP Bandara El Tari Kupang untuk menyambut tokoh/pendiri Kempo NTT itu.

Tampak hadir dari unsur pemerintah yakni Wakil Gubernur NTT, Benny Litelnoni bersama sejumlah kepala dinas, Ketua DPRD NTT Anwar Pua Geno dan Wakil Ketua DPRD NTT, Nelson Matara, Sekretaris Daerah Kabupaten Kupang Hendrik Paut serta pejabat lainnya. Tak ketinggalan para petinggi Perkemi NTT bersama para atlet Kempo NTT. Di ruang VIP juga tampak istri almarhum Simpai Nabas, Rambu Modjo dan anak-anaknya serta keluarga lainnya.

Jenazah baru tiba sekira pukul 12.35 Wita dengan pesawat Garuda. Turut mendampingi adalah Ketua Umum Pengprov Perkemi NTT, Esthon Foenay bersama Sensei Geroge Hadjoh dan Sensei Alfons Theodorus. Selain itu, dari Pengurus Besar Perkemi turut hadir Sensei Benny Sukowanto, Sensei Gofi Handikawati, Sensei Fery Martorejo, Sensei Suci Setiawan, Sensei Anton Darmawan dan Sensei Acha.

Setelah jenazah diturunkan dari pesawat langsung diarak menuju rumah duka di Jalan RW Monginsidi Nomor 2, Kelurahan Nefonaek, Kecamatan Kota Lama. Sebelumnya, ribuan kendaraan yang mengawal almarhum Simpai Nabas berkonvoi ke Jalan El Tari, kemudian memutar arah di patung HKSN lalu mengarah ke rumah duka. Selanjutnya, Perkemi secara resmi menyerahkan jenazah kepada pihak keluarga.

Wakil Gubernur NTT, Benny Litelnoni mengatakan NTT kehilangan tokoh panutan. Menurutnya, almarhum adalah salah satu birokrat senior yang berhasil mencapai puncak karir yakni sebagai Sekretaris Daerah di Kabupaten Kupang. Selain sukses di birokrasi, ia juga merupakan tokoh panutan dalam olahraga. Bahkan, di akhir hayatnya, ia berhasil mengantarkan kontingen Indonesia yang diwakili NTT meraih medali emas di kejuaraan dunia. “Kita kehilangan salah satu putra terbaik NTT. Kepada generasi penerus agar dapat mengikuti jejak beliau yang pekerja keras, disiplin dan bersemangat dalam membangun daerah ini,” kata Benny.

Sementara itu, utusan PB Perkemi, Benny Sukowanto mengatakan dedikasi almarhum Simpai Nabas tidak perlu diragukan lagi. Walaupun sudah tidak menjadi atlet, tapi tetap berdedikasi untuk bangsa dan negara hingga akhir hayatnya. Dikatakan, khusus di Indonesia, Simpai Nabas menjadi role model yang harus ditiru oleh para senior dan penerus olahraga Shorinji Kempo di seluruh Indonesia.

Bahkan nama Simpai Nabas ini tidak hanya eksis di Indonesia, tapi juga di World Shorinji Kempo Organization. Nama almarhum sangat diapresiasi. “Beberapa tahun lalu, ada utusan khusus dari World Shorinji Kempo Organization datang ke NTT untuk membuktikan karya-karya dari Simpai Barnabas,” kata Benny.

Ditambahkan, kepergian almarhum merupakan kehilangan besar buat insan olahraga khususnya Shorinji Kempo. Pasalnya, almarhum merupakan salah satu putra terbaik di bidang olahraga. Benny berharap apa yang sudah didedikasikan almarhum akan diteruskan oleh generasi selanjutnya. “Kami yakini ini bisa dilakukan karena beliau sudah melakukan regenerasi secara berlapis sehingga prestasi olahraga terus meningkat. Seperti di NTT sudah banyak yang punya prestasi nasional maupun dunia,” ujarnya.

Ia juga yakin Kempo di NTT akan terus maju dan berprestasi. Pasalnya, kemampuan teknis kempo, manajerial dan leadership sudah diajarkan oleh almarhum Simpai Nabas. “Kami yakin spirit Simpai Nabas bisa menambah gairah para kenshi di NTT. Kami yakin almarhum pergi, tapi semangatnya tidak akan pergi dari NTT,” ujar Benny.

Terpisah, anggota DPD RI, Ibrahim A. Medah mengatakan NTT kehilangan salah satu tokoh panutan. Pasalnya, almarhum adalah tipe pemimpin yang disiplin, jujur dan konsisten dalam melaksanakan tanggung jawab.

Medah terkesan akan kinerja almarhum saat masih sama-sama bertugas di Pemkab Kupang. Saat itu, Medah selaku Bupati Kupang dan almarhum menjabat Sekretaris Daerah (Sekda). Bahkan, selama dua periode Medah menjadi bupati, almarhum tetap menjadi sekda.

Oleh karena itu, menurut Medah, ia selaku bupati lebih banyak roadshow ke pelosok-pelosok. Sementara urusan lainnya di kantor di-handle oleh almarhum. “Beliau sangat disiplin dan bertanggungjawab, sehingga urusan kantor menjadi urusan beliau. Saya sangat terbantu ketika itu,” kata Iban Medah saat melayat ke rumah duka malam tadi.

Tak hanya di pemerintahan, almarhum juga adalah sosok teman yang baik. Ia selalu memiliki hubungan yang positif dengan banyak orang. Oleh karena itu, ketika pensiun dari PNS, mereka tetap saling berkomunikasi.

Lebih lanjut, kata Medah, sebagai sesama alumni Sospol, almarhum sangat paham politik. Oleh karena itu, tak heran, ketika pensiun almarhum bergabung dengan Partai Demokrat. “Walaupun berbeda partai tapi kita selalu berkomunikasi dan membina hubungan yang baik,” kata Medah.

Sementara itu, dijadwalkan siang ini, sekira pukul 11.00, jenazah Simpai Nabas akan diberangkatkan ke Sumba Timur. Almarhum akan dikebumikan di kampung halamannya di Lewa, Sumba Timur. “Pak Gubernur carter pesawat sehingga besok (hari ini) terbang ke Sumba. Pesan beliau (almarhum, Red) kalau meninggal harus kembali ke Lewa,” kata drh. Umbu Nggiku yang mewakili keluarga almarhum. (sam/ito)

Disiplin dan Motivator Ulung

SIMPAI Barnabas nDjurumana bukan hanya dikenal sebagai pendiri dan guru besar Kempo di NTT. Bagi para kenshi yang pernah dibinannya, Simpai Nabas juga dianggap sebagai teman, orang tua, bahkan sebagai opa bagi mereka.

Didikannya melalui sikap tegas, disiplin serta motivasinya selalu menjadi dorongan tersendiri bagi kenshi-kenshinya untuk meraih hasil terbaik.

“Terus terang dengan Pak Nabas (Simpai Barnabas nDjurumana) ini sebagai senior atau orang tua juga dan pertama kali ikut kempo bersama beliau,” ungkap Wali Kota Kupang terpilih, Jefry Riwu Kore ketika ditemui di rumah duka, Kamis (10/8).

Menurut Jefry, yang paling utama diajarkan Simpai Nabas itu adalah disiplin dan berani. “Kalau benar, berani gitu. Apa pun itu. Jadi kita dibentuk oleh keberanian yang diajarkan oleh persaudaraan Kempo. Kedua itu disiplin. Disiplin luar biasa,” terangnya.

Jefry mengisahkan, dirinya pertama kali masuk Kempo bersama teman-temanya saat masih duduk di bangku SMA. “Kita ada sekitar 400 orang, waktu itu saya masih duduk di bangku SMA. Dan sampai tamat SMA itu kita tinggal sekitar 29 orang atau 28 orang karena memang disiplinnya sangat kuat,” ceritanya. “400 orang itu angkatan pertamanya,” lanjut Jefry.

Setelah menamatkan SMA, menurut Jefry, dirinya kemudian melanjutkan berlatih Kempo di Bali. Jefry yang juga menjabat sebagai Ketua DPD Partai Demokrat NTT ini menyebut bahwa Simpai Nabas merupakan salah satu Ketua DPD Partai Demokrat NTT. “Dia (Simpai Nabas) juga merupakan salah satu orang yang bisa memberikan dampak positif kepada partai. Kedisiplinan, ketegasan dan keteguhan hati yang luar biasa,” bebernya. “Kalau sudah benar, apa pun maju terus. Dan itu pelajaran dari Simpai Nabas,” lanjut Jefry. Karena itu menurutnya, NTT kehilangan tokoh panutan yang luar biasa dan sangat membantu anak-anak.

Sementara itu, bagi para kenshi yang tampil di World Shorinji Kempo, mereka memiliki kebanggaan tersendiri bisa mengenal dekat Simpai Nabas. “Buat kami, Simpai Nabas adalah orang tua kami, simpai kami, opa kami. Kami bangga mengenalnya, karena dengan penderitaan sakit dia, namun dia tidak pernah menunjukkan kepada kami bahwa dia sakit. Dia selalu tegas di hadapan kami dan kami cukup bangga dia bisa membawa kami sehingga kami terkenal di Indonesia. Kami bangga dengan simpai kami, Simpai Barnabas nDjurumana,” ungkap atlet Kempo Aldiani Deni kepada koran ini kemarin.

Sebelum bertanding di Kejuaraan dunia lalu, menurut Aldiani, Simpai Nabas saat itu hanya memberikan semangat dan motivasi. “Bahwa kami bisa dan tidak mungkin kalah. Dia menunjukkan dengan tegas bahwa kami bisa dan kami pasti juara,” bebernya.

Hal yang sama juga diungkapkan Bryan Lomi yang menilai Simpai Nabas sebagai orang yang paling kuat. “Beliau bisa menyembunyikan sakitnya di hadapan anak-anak. Walau sakit dia sonde mau kasi tunjuk dan tak ingin terlihat lemah di hadapan anak-anaknya,” kata Bryan dalam dialek Kupang.

Bagi Bryan, yang paling berkesan dari Simpai Nabas adalah sifat pantang menyerah dan tidak mau kalah. “Apa pun itu harus jadi nomor satu. Dan kalau punya cita-cita harus diwujudkan, baru ada rasa kepuasan,” ungkapnya.

Sesaat sebelum dirinya turun bertanding di AS, kata Bryan, pesan yang disampaikan Simpai Nabas saat itu adalah ‘Ada tanda-tanda kehidupan’. “Artinya beliau melihat bahwa kami siap meneruskan cita-citanya agar NTT semakin dikenal di dunia,” tutupnya. (rum/ito)

Click to comment

Most Popular

To Top