Kita dan Ruang Publik – TIMOREXPRESS.COM

TIMOREXPRESS.COM

OPINI

Kita dan Ruang Publik

Oleh: Yoseph Liem
(Program Magister Arsitektur UKDW, Jogjakarta)

BEBERAPA waktu belakangan ini kita disajikan berita di media lokal yang menyoroti  keberadaan ruang publik bagi masyarakat Kota Kupang (TimEx 08 Agustus 2017). Hal ini bermula dari adanya ketidakpuasan warga akan pemanfaatan kawasan pantai Pasir Panjang dan Kelapa Lima yang merupakan area pantai berpasir dimana sejak dahulu telah dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar dan warga Kota Kupang umumnya sebagai ruang publik tempat bermain dan menikmati panorama alam pantai yang memadai dan menarik minat masyarakat luas.Beberapa waktu belakangan ini kita disajikan berita di media lokal yang menyoroti  keberadaan ruang publik bagi masyarakat Kota Kupang (TimEx 08 Agustus 2017)

Hal ini bermula dari adanya ketidakpuasan warga akan pemanfaatan kawasan pantai Pasir Panjang dan Kelapa Lima yang merupakan area pantai berpasir dimana sejak dahulu telah dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar dan warga Kota Kupang umumnya sebagai ruang publik tempat bermain dan menikmati panorama alam pantai yang memadai dan menarik minat masyarakat luas.Kehadiran pemerintah daerah sebagai regulator kehidupan bermasyarakat ikut menentukan arah pemanfaatan ruang-ruang publik yang ada di wilayah Kota Kupang terutama untuk kawasan pesisir pantai yang kemudian diklaim sebagai wilayah privat oleh sebagian investor baik lokal maupun investor skala nasional yang berminat dan banyak berinvestasi di Kota Kupang dan sekitarnya.Pasal 33 UUD 1945 berbunyi, “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung dalam bumi adalah pokok-pokok kemakmuran rakyat.

Sebab itu harus dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”. Bagaimana dengan masyarakat Kota Kupang sendiri?
Ruang Publik (Public Space)

Gagasan Forum Suara Masyarakat Kota Kupang yang sudah mengingatkan wakil rakyat kota akan keberadaan ruang pantai sebagai ruang publik patut diapresiasi. Pasalnya disisi yang lain teman-teman forum juga sekaligus mengingatkan kita sebagai warga kota akan Kota Kupang yang terus berkembang dengan pesat dari waktu ke waktu agar menyadari bahwa sebagai warga masyarakat kita memiliki akses akan ruang-ruang yang bukan hanya ruang privat yang kita miliki selama ini tetapi terhadap ruang publik yang keberadaannya seringkali tidak kita sadari.Fenomena investor yang juga seringkali menawarkan kenyamanan lebih akan ruang publik seperti keberadaan mall dan plaza yang selain memberi fasilitas ruang publik tertutup juga menawarkan kenyamanan dan daya tarik lebih sebagai ruang publik. Apakah itu yang kita butuhkan? Ruang publik sebagai identitas suatu kota harus dapat memfasilitasi warganya untuk beraktivitas, beraspirasi, dan pada akhirnya memberikan rasa memiliki terhadap ruang publik tersebut. Pada dasarnya baik tertutup maupun terbuka, ruang publik itu akan bermakna di tempatnya berada.Henri Lefebvre menyatakan bahwa ruang sebagai produk sosial dibentuk oleh peran orang-orang (agen) yang memiliki kontrol atasnya (1991).

Hal ini juga berlaku bagi kondisi kota-kota di Indonesia yang karena perkembangan dan pertumbuhannya selalu melahirkan tokoh atau agen-agen yang berperan aktif mengatur dan membentuk kotanya. Ruang public (public space) sebetulnya tidak hanya terbatas pada ruang fisik semata akan tetapi juga pada ruang-ruang abstrak yang kasat mata yang selama ini hanya dikelola oleh orang-orang atau agen yang memiliki control. Sedangkan masyarakat luas sebagai bagian dari pemilik ruang tersebut seakan diabaikan.Ruang merupakan kenyataan dari produk sosialyang menjadi representasi kehadiran berbagai peran dalam hierarki kekuasaan hampir seluruh kota merasakan hal yang sama sebagai contoh ruang visual atau ruang pandang kita yang akhir-akhir ini pemanfaatan ruang publik ini sudah makin marak dengan hadirnya papan iklan, baliho atau bilboard terutama menjelang hajatan pemilu yang bertebaran di seluruh penjuru kota tanpa memikirkan kepentingan masyarakat luas yang juga memiliki hak untuk menikmati ruang abstrak ini.

uang publik secara esensial harus memiliki 3 kriteria yaitu, dapat memberikan makna bagi masyarakat setempat secara individu maupun kelompok, tanggap akan semua keinginan pengguna dan dapat menerima kegiatan yang ada pada ruang publik tersebut. Tidak diskriminatif dan dapat menerima kehadiran berbagai lapisan masyarakat dengan bebas tanpa diskriminasi peran pemerintah diharapkan hadir dan memberikan batasan yang jelas sesuai dengan kewenangan penegakan peraturan yang telah ada dan ditetapkan bersama sehingga masyarakat akan merasa bahwa kehadiran ruang-ruang publik adalah benar-benar untuk kesejahteraan masyarakat.Pernyataan Wakil Wali Kota Kupang terpilih, Hermanus Man memberikan angin segar bahwa pemanfaatan ruang publik dengan tujuan mengembalikan ruang terbuka hijau kota adalah pilihan yang bijaksana dimana okupasi besar-besaran terhadap ruang terbuka hijau Kota Kupang saat ini cukup memprihatinkan, bukan tidak mungkin suatu saat nanti Kota Kupang juga bias menerima limpasan banjir akibat dari berkurangnya ruang terbuka hijau dan resapan air tanah dalam wilayah Kota Kupang.
Pemanfaatan Ruang Terbuka serta Ruang Terbuka Hijau

Mumpung masih dalam suasana perayaan HUT Kemerdekaan RI sebagaimana yang diutarakan oleh salah satu tokoh pembaruan Theodorus Widodo, mari kita maknai perayaan ini dengan mewarnai ruang publik kita dengan aktivitas dan kegiatan-kegiatan bersama yang bisa menumbuhkan semangat kebangsaan serta semangat nasionalisme. Memanfaatkan ruang publik secara positif akan lebih memberi makna ketimbang hanya sebagai sarana rekreasi semata.Pemerintah Daerah dalam hal ini bisa berperan dengan menyediakan dan mengaktifkan kembali ruang-ruang publik yang masih ada dan tersisa dari sebagian pesisir pantai yang telah beralih fungsi sembari terus menegakkan aturan agar ketersediaan ruang terbuka hijau dapat dipulihkan lagi sebagai bekal paru-paru kota. Ruang publik bagi masyarakat Kota Kupang tidak melulu harus terbangun dengan lantai dan beton. Ruang beraktifitas dengan tanaman dan rumput akan lebih menyejukkan sekaligus mendapatkan kembali fungsi ruang terbuka hijau yang adalah amanat undang-undang.

Pembuatan ruang publik kalau tidak memiliki jiwa akan menjadi hampa dan tidak berarti karena tidak banyak orang yang terpanggil untuk datang dan beraktivitas di dalamnya.Inisiatif pemerintah daerah dalam memanfaatkan dan memaksimalkan ruang terbuka atau ruang publik yang ada di Kota Kupang sangat diharapkan sembari menata bagaimana pemanfaatan ruang-ruang publik yang sudah ada sekarang ini secara positif dengan tidak memberi ruang bagi tumbuh dan berkembangnya pemanfaatan ruang secara liar sebagaimana beberapa ruang publik yang ada yang juga mulai penuh dan dijejali dengan berbagai promo iklan produk yang kadang tidak sesuai jiwa dari ruang publik yang disediakan pada area bersantai dan berolah raga yang kemudian dipajang iklan rokok dimana lokasi tersebut juga di datangi oleh anak-anak atau arena bebas kendaraan bermotor yang kemudian juga mulai di penuhi oleh kendaraan bermotor baik itu untuk berpromosi maupun untuk berfungsi sebagai food truck yang menjajakan aneka makanan  pada saat warga masyarakat sedang memanfaatkan bagi kegiatan berolah raga maupun berkumpul bersama.Kerinduan akan kehadiran ruang terbuka publik yang bisa memfasilitasi berbagai aktivitas bersama warga Kota Kupang akan semakin menguatkan kebersamaan dan rasa saling peduli diantara masyarakat kota yang heterogen tanpa membaginya dalam sekat-sekat primordial maupun sekat golongan yang akan semakin mejauhkan satu sama lain. Mari wujudkan ruang public kita secara bersama. (*)

Click to comment

Most Popular

To Top