Nepal Hapus Pengasingan Perempuan Menstruasi – TIMOREXPRESS.COM

TIMOREXPRESS.COM

INTERNASIONAL

Nepal Hapus Pengasingan Perempuan Menstruasi

TEGA. Seorang perempuan menjalani tradisi chhaupadi di Nepal.

JPG

KATHMANDU, TIMEX-Dalam waktu dekat, tak ada lagi cerita remaja perempuan yang harus kedinginan dan tidur di gubuk kecil serta jauh dari keluarga. Sebab, Rabu (9/8) parlemen satu suara mendukung undang-undang (UU) yang melarang chhaupadi, budaya Hindu kuno untuk mengasingkan perempuan yang tengah haid maupun nifas. Praktik tersebut masih dilangsungkan di wilayah-wilayah pedalaman Nepal.

Sebenarnya, Mahkamah Agung (MA) melarang chhaupadi sejak 2005. Tapi, karena tidak ada hukuman yang jelas, budaya yang berjalan selama puluhan tahun itu tetap berlangsung. ’’Perempuan yang sedang menstruasi atau setelah melahirkan seharusnya tidak menjalani chhaupadi atau didiskriminasi, tidak disentuh dan diperlakukan dengan cara tidak manusiawi lainnya,’’ bunyi penggalan isi UU tersebut.

Mereka yang melanggar bakal dipenjara tiga bulan atau didenda 3 ribu rupee (Rp 390 ribu). Bisa juga hukumannya penjara plus denda. Peraturan perundang-undangan itu berlaku secepatnya.

Tradisi chhaupadi sungguh tak manusiawi. Penduduk Nepal yang masih menjalani ritual itu beranggapan bahwa perempuan yang sedang haid dan nifas dianggap najis serta membawa sial. Karena itu, para perempuan yang hanya menjalankan kodratnya tersebut wajib diasingkan jauh dari permukiman penduduk. Selama masih mengeluarkan darah, mereka harus tinggal di gubuk seadanya yang minim ventilasi atau sering disebut chhau goth.

Tak cukup sampai di situ, mereka juga dilarang menyentuh laki-laki, ternak, serta makan makanan yang bernutrisi seperti susu, mentega, dan daging. Alasannya, laki-laki yang disentuh bisa sakit, ternak-ternak bakal mati, dan pohon tak akan lagi berbuah. Mereka makan seadanya. Kadang kala hanya nasi dan garam.

Musim dingin adalah siksaan tersendiri. Sebab, mereka dilarang membawa selimut tebal. Yang diperbolehkan hanya membawa selembar kain tipis. Mereka juga tak bisa menjalani aktivitas sehari-hari seperti sekolah dan mandi. Chhaupadi menjadi sorotan tajam setelah akhir tahun lalu dua perempuan tewas. Salah satunya meninggal karena menghirup asap secara berlebihan. Dia menyalakan api untuk menghangatkan diri. Penyebab kematian perempuan satunya tidak diketahui.

Aktivis hak asasi perempuan Nepal Pema Lhaki menganggap UU itu tidak akan terlalu berguna karena chhaupadi terkait dengan sistem keyakinan yang sudah mendarah daging dan sulit diubah. Chhaupadi bukan hanya kesalahan pria, melainkan juga para perempuan karena mau menjalani ritual itu. Dibutuhkan waktu untuk mengedukasi penduduk agar praktik tersebut tak terjadi lagi. (jpg/lok)

Click to comment

Most Popular

To Top