Program Pansimas Desa Amol Mubazir – Timor Express

Timor Express

RAKYAT TIMOR

Program Pansimas Desa Amol Mubazir

PIPA MUBAZIR. Pipa medium A pengadaan program Pamsimas sudah empat tahun parkir di Desa Amol Kecamatan Miomaffo Timur.

YOHANES SIKI/TIMEX

Ratusan Pipa Disimpan di Rumah Penduduk

KEFAMENANU, TIMEX – Program Penyediaan Air Minum Berbasis Masyarakat (Pamsimas) di Desa Amol Kecamatan Miomaffo Timur mubazir. Realisasi program pipanisasi tahun 2013 hingga kini tak kunjung tuntas.

Terbukti, sebanyak 300 batangan pipa medium A, ukuran 3 dim dan 1,5 dim sudah empat tahun dibiarkan tersimpan di salah satu rumah warga.

Bahkan, bak reservoir di lokasi Oekui hanya dibangun pondasi dan empat tiangnya. Tak tahu mengapa sehingga program pipanisasi setelah direncanakan pekerjaannya bahkan sudah dibentuk tim pengelola sarana air bersih, namun program tak kunjung rampung.

Kepala Desa Amol, Egidius Nenat saat dikonfirmasi Timor Express, Kamis (10/8) mengaku, program Pamsimas merupakan peninggalan kepala desa sebelumnya. Dokumen RAB dan persentase kemajuan fisik tidak diketahui. Sebab, hingga sekarang belum menerima laporan terkait pekerjaan instalasi air bersih.

“Program instalasi itu belum ada serah terima, sehingga saya tidak tahu pagu anggarannya dan realisasi item-item apa saja yang mau dikerjakan,” katanya.

Menurut Egidius, rencananya program pipanisasi untuk menyalurkan air bersih dari sumber air Desa Taekas menuju Desa Amol. Volume jarak instalasi diperkirakan mencapai 5 km dari lokasi sumber air menuju permukiman warga Desa Amol. Sehingga, bila dikalkulasi untuk kebutuhan instalasi tentunya jumlah pipa yang tersedia tidak mencukupi, sehingga pihaknya tentu kesulitan anggaran.

Meski demikian, Egidius mengaku, petugas dari Bappeda dan Pansimas sebelumnya sempat meminta untuk menindaklanjuti program tersebut, sehingga bersama aparatur desa setempat sempat beberapa kali berkoordinasi dengan pemerintah Desa Taekas sebagai pemilik sumber air yang difasilitasi Camat Miomaffo Timur, namun tidak ada kesepakatan.

Alasannya, volume debit air berkurang saat musim panas, sehingga tidak bisa dialirkan ke luar desa. Pipa yang tersedia juga ukurannya besar sehingga tentunya menyedot volume air dalam jumlah banyak.

“Desa tetangga tidak setuju pakai pipa besar karena mereka juga butuh air. Sehingga kami tidak bisa memaksa untuk lanjutkan itu program,” tandasnya.

Sementara, Gregorius Talan, anggota BPD Amol mengaku, program pipanisasi awalnya sudah dibentuk kelompok pengelola sarana sanitasi dan air minum. Tapi setelah terbentuk tidak ada aktivitas karena program instalasi pipanisasi tidak jalan.

Gregorius mengaku heran sebab anggaran yang sudah direncanakan untuk menjawab kebutuhan sarana air bersih masyarakat tapi tidak dikelola maksimal. Terbukti, hingga sekarang program mubazir.

“Desa kita sangat krisis air, herannya program sudah ada tapi gagal dikelola. Anggaran pemerintah dibiarkan begitu saja mubazir. Ini juga kesalahan dari perencanaan dan pendamping lapangan,” katanya.

Sementara Desi Mesah selaku koordinator Pansimas Kabupaten TTU, mengaku baru dipercaya awal Januari lalu sehingga tentunya tidak mengetahui persis pagu anggaran dan volume untuk semua program sebelumnya.

Desi menambahkan, untuk program pipanisasi di Desa Amol tahun anggaran 2013 saat itu sudah selesai pelelangan dan sudah selesai pengadaan. Sementara fisiknya belum dikerjakan karena alasan kesalahan teknis lapangan, sehingga belum ada action lapangan.

“Tidak salah itu program tahun 2013 yang saya tahu itu pelelangan sudah selesai tapi fisik belum dikerjakan karena ada masalah teknis,” katanya. (mg24/ays)

Most Popular

To Top
Do NOT follow this link or you will be banned from the site!