Polisi Dalami Dugaan Keterlibatan Pemberi Pinjaman – Timor Express

Timor Express

HUKUM

Polisi Dalami Dugaan Keterlibatan Pemberi Pinjaman

Bank tidak ada sindikat dengan siapa pun. Bank hanya memberi kredit ke masyarakat.”

Chris Liyanto
Komisaris Utama BPR Christa Jaya

KRISTO EMBU /TIMEX

 

 BPR CJ Tegaskan Tak Ada Sindikat
 Tiga Korban Lapor ke Polda

KUPANG, TIMEX-Kasus dugaan penipuan dan penggelapan dengan terlapor Rahmat alias Rafi, 33, hingga kini masih terus berproses. Penyidik Polsek Kelapa Lima, Polres Kupang Kota dan Polda NTT terus fokus melakukan pemeriksaan terhadap para korban dan saksi-saksi.

Hanya saja, terlapor Rahmat alias Rafi sudah menghilang dari Kota Kupang. Dari hasil monitoring penyidik, yang bersangkutan saat ini ada di Sulawesi. Penyidik Polres Kupang Kota juga bakal mendalami modus pemberian pinjaman oleh pihak BPR ke terlapor. Pasalnya, hanya bermodalkan BPKB mobil pihak pemberi pinjaman sudah memberikan sejumlah uang yang dibutuhkan terlapor tanpa melihat bukti kendaraan bermotor serta pemiliknya.

Kepada Timor Express di ruang kerjanya, Kamis (7/9), Kasat Reskrim Polres Kupang Kota, AKP Alnofriwan Zaputra menegaskan, pihaknya akan segera mendalami cara pemberian uang oleh pemberi kredit dengan jaminan BPKP mobil dari terlapor. Padahal, mobil-mobil tersebut umumnya sudah dibeli oleh para konsumen yang saat ini menjadi korban. “Iya, kita akan dalami juga cara pemberian pinjaman uang oleh pihak BPR. Sementara terlapor hanya memberikan jaminan berupa BPKB mobil. Apakah syarat-syarat pemberian pinjaman sudah dilakukan oleh pihak BPR ataukah tidak. Jika tidak maka jelas sudah menyalahi aturan yang berlaku,” ujar Alnof -sapaan Kasat Reskrim Polres Kupang Kota ini.

Sementara itu, korban yang sudah membuat laporan polisi semakin bertambah. Di Polda NTT, sudah ada tiga korban yang membuat laporan. Mereka adalah Ambo Gau, 47, warga Jalan Kosambi Raya, RT 11/RW 03, Kelurahan Kefamenanu Selatan, Kecamatan Kota Kefamenanu, Kabupaten TTU. Korban lain yang melapor adalah Mikael Samuel Zacharias, 67, warga Jalan Amabi, Nomor 14, RT 13/RW 05, Kelurahan Oepura, Kecamatan Maulafa, Kota Kupang dan Rony Alexander Naramesakh, 45, warga Jalan Ranamese V, Nomor 58, RT 18/RW 05, Kelurahan Nefonaek, Kecamatan Kota Lama, Kota Kupang. Ketiga korban ini melapor ke SPKT Polda NTT karena merasa ditipu oleh terlapor Rahmat alias Rafi.

Korban Ambo Gau melapor ke Mapolda NTT pada 4 September 2017 dengan nomor laporan polisi: LP/B/304/IX/2017/SPKT, Mikael Samuel Zacharias melapor pada 5 September dengan nomor laporan polisi: LP/B/305/IX/2017/SPKT dan korban Rony Alexander Naramesakh melapor ke Mapolda NTT pada 2 September dengan nomor laporan polisi: LP/B/303/IX/2017/SPKT.

Korban lainnya adalah Lurah Kuanino, Resben Mitabae. Kepada koran ini Jumat kemarin, Resben mengakui dirinya menjadi salah satu korban modus penipuan yang dilakukan Rahmat. Bahkan jumlah kerugian yang dialami mencapai Rp 125 juta dan uang muka sebesar Rp 26 juta.
Resben mengatakan, satu unit mobil Innova dengan nomor polisi DH 1538 TA saat ini tidak dalam penguasaan dirinya. Mobil itu ada di BPR Christa Jaya sebagai jaminan atas pinjaman yang dilakukan Rahmat.

Resben mengaku sudah mencari tahu keberadaan pelaku untuk meminta pertanggung jawaban, namun tidak berhasil. “Kami sudah berusaha untuk menemui pelaku namun tidak bisa,” ungkapnya.

Kabid Humas Polda NTT, Kombes Pol Jules A. Abast yang diwawancarai Timor Express, di ruang kerjanya, Jumat (8/9), menjelaskan, kasus penipuan dan penggelapan dengan pelapor ketiga korban dan terlapor Rahmat alias Rafi terjadi di Kota Kupang. Ada korban yang melapor karena mobil miliknya sudah dijual namun uang penjualan mobil yang dititipkan di showroom Ayra Sejahtera Motor yang terletak di Jalan Pulo Indah, Kelurahan Oesapa Barat, Kecamatan Kelapa Lima tak kunjung ditransfer oleh terlapor Rahmat alias Rafi ke rekeningnya.

“Jadi, mobil milik Rony Alexander Naramesakh merk Toyota Avanza dengan nomor polisi D 1705 ADJ warna hitam metalik dijual dengan harga Rp 150 juta oleh terlapor Rahmat. Pada Juli lalu, pelapor mengecek mobilnya dan ternyata sudah terjual namun uang tidak juga ditransfer ke rekening miliknya oleh terlapor,” kata Jules.

Sementara korban lainnya yakni Ambo Gau dan Mikael Samuel Zacharias melapor karena BPKB dan STNK mobil yang sudah dibeli tak diberikan oleh terlapor. “Kedua korban sudah berusaha mengecek terlapor ke alamat showroom-nya termasuk menghubungi lewat telepon genggam tetapi tidak ada dan tidak direspon. Padahal sudah ada perjanjian bahwa setelah membayar angsuran selama tiga bulan maka BPKB serta STNK mobil yang dipegang terlapor dengan alasan balik nama serta urus mutasi tak juga selesai,” ungkap Kombes Julius Abast.

Tak Ada Sindikat

Komisaris Utama BPR Christa Jaya (CJ), Chris Liyanto yang dikonfirmasi mengenai dugaan permainan yang dilakukan Rahmat dengan pemberi kredit menegaskan pihaknya tidak terlibat dalam permainan yang dilakukan Rahmat. “Bank tidak ada sindikat dengan siapa pun. Bank hanya memberi kredit ke masyarakat,” tegas Chris kepada koran ini.

Menurut Chris, pelaku Rahmat yang menipu dan para korban begitu saja mau percaya beli mobil tanpa melihat dan memegang BPKB. Padahal BPKB adalah bukti pemilik kendaraan bermotor.

Chris lebih jauh mengatakan, bank harus profesional dan memikirkan jangka panjang agar nasabah percaya. “Bisnis perbankan itu bisnis kepercayaan, jadi bank juga perlu keperyaan dari nasabah-nasabahnya agar mau jadi nasabah dan bermitra untuk kemajuan bersama jangka panjang.
“Kalau Rahmat kan gayanya jangka pendek aja, dia ambil untung dengan menipu banyak org terus kabur kan. Masak bank mau bersindikat dengan Rahmat?” tegas Chris. (gat/mg22/ito)

Click to comment

Most Popular

To Top