NTT Butuh Pemimpin Perubahan – timorexpress.fajar.co.id

timorexpress.fajar.co.id

POLITIK

NTT Butuh Pemimpin Perubahan

BERSAMA. Para bakal calon gubernur NTT dan panelis pose bersama usai diskusi publik bertajuk NTT Mencari Pemimpin di Aula Restoran Boplo, Jl. Gereja Sta. Theresia, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (9/9).

OBED GERIMU/TIMEX

Diskusi Publik NTT Mencari Pemimpin

JAKARTA, TIMEX-Adu strategi dan gagasan membangun NTT tampak mewarnai diskusi publik bertajuk NTT Mencari Pemimpin di Aula Restoran Boplo, Jl. Gereja Sta. Theresia, Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (9/9).

Hadir para bakal calon Gubernur NTT yakni Ibrahim Agustinus Medah, Melki Laka Lena, Daniel Tagu Dedo, Honing Sanny, Iryanto Djo dan Adrianus Garu.

Diskusi yang dipandu Wapemred Indonesiakoran Yon Lesek itu menghadirkan tiga panelis, yakni, Dr. Avanti Fontana (Pakar Inovasi Universitas Indonesia), Robert Endi Jaweng (Pakar Otonomi Daerah) dan Dr. Frederikus Fios (Pakar Filsafat Politik).

Diawali dengan paparan tentang ‘NTT Dalam Angka’, dimana dari data tersebut diketahui bahwa NTT masih jauh tertinggal dalam bidang pendidikan, kesehatan, infrastruktur dan sejumlah bidang pembangunan lainnya.

Para bakal calon pun kemudian diminta menanggapi data riset tersebut. Honing Sanny yang mendapat kesempatan pertama, mengatakan, agar bisa keluar dari kemiskinan yang membelenggu NTT, dibutuhkan pemimpin yang benar-benar mengetahui kondisi masyarakatnya.

Ia menyebutkan, sesuai data lembaga riset, NTT saat ini secara nasional berada di posisi keempat sebagai daerah terkorup. Itu sebabnya, dia mempertanyakan apakah karena korupsi NTT miskin, atau karena miskin membuat pemimpin menjadi rakus.

“Orang miskin harus dipimpin oleh orang yang mengerti orang miskin. Dan hanya orang miskin yang membantu orang miskin. Orang kaya hanya mengeksploitir orang miskin, salah satu contohnya adalah tingginya human trafficking di NTT,” ungkap politisi muda PDIP itu.

Berbekal pengalaman selama tujuh tahun di DPR RI, Honing mengaku telah mengetahui kondisi riil NTT. Dan hal itu menjadi dasar baginya untuk memberanikan diri menjadi calon gubernur.

“Ketika menjadi cagub, maka saya harus memberikan solusi bagi semua persoalan mendasar di NTT. NTT butuh pemimpin bersih dan membawa perubahan. Saya selalu mengampanyekan politik murah dan pemerintahan bersih. Kalau mendapat dukungan maka saya akan bekerja bersama orang-orang yang punya skil spesifik, karena saya tidak sendiri,” jelas Honing.

Bakal calon gubernur Daniel Tagu Dedo mengatakan, pemimpin NTT harus lebih hebat dari sosok mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), karena memimpin NTT memiliki tantangan yang luar biasa.

“Kalau DKI punya PAD Rp 69 triliun, NTT hanya Rp 800 miliar. Begitu juga kalau di DKI, gubernur yang angkat wali kota, sementara di NTT bupati/wali kota diangkat oleh rakyat. Sehingga tidak heran kalau saya berkali-kali lihat Pak Frans Lebu Raya (Gubernur NTT, Red) undang para bupati, yang datang cuma asisten,” ungkap bekas Dirut Bank NTT itu.

Daniel juga membagi pengalamannya membangun Bank NTT yang awalnya penuh dengan keterbatasan baik produk, SDM dan infrastruktur, hingga kini telah berkembang pesat.

“Saya harus memilih strategi marketing dimana kita tidak bisa unggul di semua lini. Itu sebabnya setiap tahun saya buka tiga kantor baru. Dulunya hanya 54 kantor. Kini menjadi 200 kantor. Aset yang semula hanya Rp 2 triliun, saat saya pimpin naik menjadi Rp 12,6 triliun. Begitu pula karyawan dari 487 menjadi 2000 lebih orang, termasuk peningkatan laba yang signifikan,” papar dia.

Menurutnya, menjadi Gubernur NTT, membutuhkan kesiapan yang matang, karena memimpin NTT memiliki keunikan dan tantangan tersendiri dan berbeda dengan wilayah lain.

“Saya juga sebenarnya ketakutan untuk maju mencalonkan diri. Saya baru jadi Dirut Bank NTT saja sudah 137 surat laporan ke KPK, Kejaksaan dan Kepolisian bahwa saya korupsi. Wilayah ini ngeri banget. Jadi harus siap dalam segala hal. Jangan coba-coba jadi gubernur kalau tidak siap untuk di-buly. Mudah-mudahan kalau Tuhan berkenan saya siap mengabdikan diri saya untuk NTT,” tandas dia.

Daniel menambahkan, pemimpin NTT harus mampu membangun ekonomi berbasis ekonomi kerakyatan dana betul-betul berpihak kepada rakyat.

Dirinya menegaskan bahwa NTT sesungguhnya tidak miskin, tapi hanya memiliki perencanaan yang buruk. “Kenapa ada daerah yang maju dan ada yang tertinggal. Persoalan pertama adalah perencanaan. Tidak berani membuat terobosan. Karena itu kalau Tuhan berkenan, saya akan membuka banyak industri baru. Kita akan menjadi provinsi garam. Saya akan menyetop pengiriman tenaga kerja ke luar negeri karena tanggung jawab pemerintah adalah mempersiapkan lapangan kerja,” sebut dia.

Agar dapat bekerja dengan nyaman, Daniel juga mengaku jika terpilih maka ia akan bekerja sama dengan KPK dari awal perencanaan sampai eksekusi setiap proyek besar yang akan dilakukan.

“Saya juga akan membangun pusat riset untuk ekonomi maritim dan pariwisata untuk SDM yang cerdas dan anti korupsi,” imbuhnya.
Sedangkan, Ibrahim Medah pada kesempatan itu, mengatakan, NTT telah masuk dalam tahap krisis, untuk itu pemimpin NTT harus mampu menyelesaikan persoalan kemiskinan tersebut.

“Kemiskinan di NTT itu disebabkan karena pertanian kita belum maksimal, karena 80 persen pendudukan kita hidup dari sektor pertanian. Mayoritas masyarakat hidup dari pertanian dan kalau hal itu tidak diselesaikan lalu peredaran uang juga makin menurun, maka masyarakat itu makin sengsara dan sangat memrihatinkan,” ungkap senator asal NTT itu.

Selanjutnya, Melki Laka Lena selaku Cagub dari Partai Golkar, mengatakan, dari realita NTT saat ini, salah satu persoalan yang paling sulit diatasi adalah terjadinya konflik antar pemimpin, daerah dan sektoral.

Sehingga pemimpin NTT ke depan, jelas Melki, harus memiliki kemampuan konsolidasi dan rekonsiliasi yang kuat dan dibangun di atas berbagai konflik yang terjadi baik itu konflik antar pemimpin dan daerah atau sektor, sehingga mampu mengonsolidasikan NTT dengan maksimal.

“Problem kita banyak, tetapi kalau diselesaikan secara sendiri-sendiri oleh masing-masing orang dan sektor, saya kira NTT sulit bangkit. Untuk itu harus melibatkan banyak orang,” kata politisi muda Partai Golkar itu.

Wakasekjen DPP Partai Golkar itu menambahkan, untuk membangkitkan NTT dari ketertinggalan pembangunan, maka harus ada kolaborasi yang dilakukan seorang pemimpin dengan semua potensi sumber daya manusia yang dimiliki.

“Yang menjadi pertanyaan adalah apakah semua itu bisa disinergikan menjadi sebuah kerja bersama. Ke depan setiap desa/kelurahan harus memiliki minimal satu potensi unggulan, begitu juga setiap kecamatan minimal dua dan kabupaten minimal tiga potensi unggulan, sehingga semua itu akan menjadi kekuatan NTT,” jelas dia.

Bakal calon gubernur NTT Iriyanto Djo pada kesempatan itu juga mengatakan, pemimpin NTT ke depan adalah orang yang memiliki keberanian, integritas tinggi dan passion.

“Jadi seorang pemimpin itu, antara perkataan dan perbuatan harus sama, dan harus melihat jabatan itu sebagai sebuah panggilan hidup dan melakukan kolaborasi dalam memimpin untuk bergerak bersama-sama,” kata dia.

Sementara Adrianus Garu mengatakan seorang pemimpin NTT harus mampu mengubah paradigma disesuaikan karakter wilayah dan kondisi riil masyarakat.

“Pemimpin harus tidak duduk diam dan tidak banyak bicara. Selama ini ada iri dan dengki antara pemimpin sehingga kita tidak mampu membangun. Untuk itu jangan mau disuruh dan dibohongi orang, tapi betul-betul kesadaran dari masyarakat memilih pemimpin,” kata senator asal NTT itu.

Adrianus yang juga Ketua DPP Partai Hanura menambahkan, dirinya juga telah menggalang gerakan “Seribu Rupiah Bersama Masyarakat”.

“Masa mau dukung Jokowi kita kumpul-kumpul duit, mau jadi orang NTT lebih baik koq nggak mau,” tandas dia.
Politisi muda yang akrab disapa Andre itu menambahkan, sebagai balon gubernur, ia mengusung moto, bekerja bersama masyarakat dan belajar bersama masyarakat. “Karena guru yang paling mulia ada di masyarakat,” tegas dia.

Panelis Avanti Fontana dalam tanggapannya, mengatakan dari paparan para balon diketahui NTT mengalami kemiskinan paradigma dan materi, dimana kondisi itu akan bisa teratasi apabila seorang pemimpin NTT kaya akan pola pikir.

“Jadi apabila kita mengatakan kemiskinan itu adalah persoalan, maka menurut saya itu adalah akibat. Ini juga menjadi hal yang harus kita sepakati, bahwa kita melihat kemiskinan dari sisi mana, apakah hal ini adalah persoalan atau akibat. Kalau sebagai akibat maka kita akan lebih mudah menyepakati cara untuk menyelesaikan masalah,” kata Avanti.

Menurutnya, semua yang disampaikan para Balon gubernur terkait syarat pemimpin NTT, adalah merupakan karakter pemimpin yang seharusnya ada.

“Jadi bagi saya dari yang disampaikan tidak ada yang baru. Bisa saja masing-masing calon hanya punya satu trik yang menonjol. Sehingga harus mampu bekerja sama dengan pihak-pihak lain yang tidak hanya dalam jabatan struktural tersebut untuk mengolaborasikan integritas, kemampuan mengamati setiap masalah secara kontekstual dan memformulasikan pemecahan masalah yang tepat, kreatifitas dan mengeksekusi ide-ide. Pemimpin juga harus mampu berinovasi dengan mau belajar, menjadi kolaborator dan moderator rekonsiliator dan change maker,” jelas doktor perempuan berdarah Sikka itu.

Ia menambahkan, integritas seorang pemimpin harus diikuti dengan ide-ide yang brilian sesuai dengan konteks masyarakat yang dihadapi termasuk inisiatif perubahan.

Sementara itu, Frederikus Fios mengatakan, seorang pemimpin NTT harus mampu memberikan kepastian kepada masyarakat ketika ketidakpastian itu dihadapi masyarakat. “Dalam situasi yang aneh, seorang pemimpin harus mampu memberikan kepastian akan sesuatu yang tidak pasti,” kata Frederikus.

Ia mengatakan, pemimpin NTT harus membawa masyarakat menjadi kebaikan bersama dan berkeadilan. “Pemimpin harus membawa NTT menjadi surga yang baru, sehingga kemiskinan itu menjadi neraka bagi orang NTT. Jadi pemimpin itu juga harus mendedikasikan potensi dirinya untuk kebaikan bersama,” imbuhnya.

Pemimpin NTT, lanjut dia, juga harus menjadi orang pertama yang memahami prinsip dasar hal yang baik dan memiliki hati nurani serta mampu memberikan konsep yang baik pula pada pembangunan masyarakat sehingga menciptakan kebaikan bersama.

Sementara itu, Robert Endi Jaweng menambahkan, pemimpin NTT harus mampu membawa perubahan di segala bidang bagi daerahnya.
Seorang pemimpin kata dia, harus memiliki kesadaran akan geografis wilayah, administrasi dan ekonomi. “Kan kita membangun manusia dalam konsteks geografis dimana NTT adalah wilayah kepulauan,” kata dia.

Turut hadir dalam diskusi publik tersebut para tokoh diaspora NTT di Jakarta seperti Mayjen TNI (Purn) Jan Pieter Ate, Petrus Salestinus, Gabriel Goa dan sejumlah tokoh muda asal NTT. (joo/fmc/ito)

Click to comment

Most Popular

To Top