Pangan Tidak Sehat Timbulkan 200 Penyakit – timorexpress.fajar.co.id

timorexpress.fajar.co.id

EKONOMI BISNIS

Pangan Tidak Sehat Timbulkan 200 Penyakit

PANGAN LOKAL.Wakil Gubernur NTT, Benny Litelnoni didampingi sejumlah pimpnan instansi tingkat Provinsi NTT saat meninjau stan pameran 2017 di NTT Fair Lasiana yang memajang sejumlah produk pangan dari industri lokal.

CARLENS BISING/TIMEX

BPOM: Pengawasan Kita Rutin

KUPANG, TIMEX-Setiap jenis pangan yang dikonsumsi memiliki potensi tercemar virus atau mengandung bakteri yang bisa menimbulkan penyakit yang menyerang manusia.

Hasil penelitian Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan, pangan yang tidak higienis bisa menularkan lebih dari 200 jenis penyakit. Dan, diare paling banyak disebabkan oleh pangan yang tidak sehat,” kata Kasubdit Promosi Keamanan Pangan Ditjen Survailan dan Penyuluhan Keamanan Pangan BPOM RI, AA.Nyoman Merta Negara dalam Rakor Lintas Sektor Jejaring Keamanan Pangan Daerah NTT yang berlangsung di Hotel Aston Kupang, Senin (11/9).

Dalam acara yang dihadiri Kepala BPOM Kupang, I Made Bagus Gerametta itu, Nyoman memaparkan berbagai kebijakan pemerintah yang dilakukan untuk menjaga agar pangan yang dikonsumsi masyarakat terhindar dari bahaya virus atau penyakit. “Untuk menjaga agar pangan kita sehat, perlu dijaga sejak dari produksi sampai pada distribusi. Harus dipastikan supaya konsumen membeli pangan yang sehat,” papar Nyoman di hadapan puluhan peserta itu.

Sementara Kepala BPOM Kupang, I Made Bagus Gerametta yang diwawancarai Timor Express di sela-sela kegiatan tersebut mengatakan, pihaknya secara rutin melakukan pengawasan terhadap peredaran bahan makanan hingga obat-obatan. Meski dengan sumber daya manusia terbatas, I Made mengaku tetap memaksimalkan pengawasan, terutama terhadap satuan tugas (Satgas) keamanan pangan dan juga tim gerak cepat untuk menangani kejadian-kejadian seperti keracunan agar lebih terstruktur.

“Kita hanya bertugas untuk memastikan, penyebab terjadinya keracunan misalnya. Sementara yang menentukan apakah itu kejadian luar biasa (KLB) itu dari dinas kesehatan,”tambah dia.

Untuk mengetahui kejadian-kejadian tersebut, I Made jelaskan, pihaknya mendapatkan informasi dari rumah sakit-rumah sakit di daerah. Khusus kasus keracunan, dia sebutkan, beberapa informasi yang dibutuhkan BPOM, misalnya jenis makanan atau minuman yang dikonsumsi korban, masa inkubasi serta gejala, baik dari luar dan di dalam tubuh korban.

“Kalau kejadian luar biasa itu kita tidak bisa prediksi. Setiap daerah itu pasti ada kejadian. Misalnya sering terjadi kalau ada pesta-pesta atau di sekolah-sekolah, jajan,” papar dia.

Ditanya terkait operasi yang hanya dilakukan saat hari raya, dia katakan tidak semikian. Menurut dia, BPOM secara rutin melakukan pengawasan. Tidak hanya menjelang hari raya. “Kalau menjelang hari raya itu kita libatkan pihak-pihak terkait seperti dinas kesehatan juga. Sementara untuk pengawasan rutin sudah kita lakukan meski dengan personel terbatas,” keluhnya.(cel)

Click to comment

Most Popular

To Top