Pemimpin: Pemaknaan yang Keliru Menghilangkan Figur Panutan – Timor Express

Timor Express

OPINI

Pemimpin: Pemaknaan yang Keliru Menghilangkan Figur Panutan

Oleh:  Mus. G. Mabilehi

(Warga Kota Kupang)

Dalam konteks politik, kita baru saja memilih pemimpin daerah untuk beberapa daerah  di negeri kita termasuk Kota Kupang di  Nusa Tenggara Timur. Saat ini kita berada lagi dalam suhu politik yang semakin memanas sehubungan dengan persiapan pemilihan gubernur, dan akan disusul dengan persiapan pemilihan legislatif serta pimpinan nasional.Dalam konteks seperti ini di mana orang sedang sibuk memilih pemimpin, mungkin ada baiknya kita berrefleksi dan  merenungkan  sejenak tentang bagaimana sebenarnya pemimpin yang diharapkan oleh masa yang dipimpinnya.Beberapa catatan penting dibayangi oleh kondisi kepemimpinan saat ini dapat diangkat di sini. Untuk menuju dan menunjuk  pada catatan itu pertanyaan penuntun bagi kita adalah: Mengapa rumusan moral kepemimpinan yang sangat baik tidak tumbuh dengan subur dalam pelaksanaan di tengah-tengah masyarakat kita? Mengapa keluhan tentang hilangnya figur negarawan dan guru bangsa terdengar di sekitar kita serentak dengan semakin menjamurnya para politisi di mana-mana?

Beberapa Catatan:Paling kurang ada empat persoalan dari substansi pertanyaan tersebut di atas yang mesti direnungkan dan dicermati secara baik .Pertama: Pendekatan kita sangat elitis dalam melihat gejala pemimpin dan kepemimpinan. Masyarakat terjebak dalam teori-teori Great man yang mengandaikan sejarah dibuat oleh individu pemimpin. Rekonstruksi yang dibuat setelah kenyataan sejarah berlalu pun berfokus pada pemimpin.Perubahan-perubahan sosial besar yang berlangsung dalam suatu masyarakat dipahami sebagai karya agung dari pemimpin tertentu dengan menihilkan peran dari massa yang dipimpinnya. Sejarah pada akhirnya menjadi sejarah para pemimpin. Pemahaman semacam ini kadang sengaja diabadikan untuk membentuk relasi ketergantungan pada si pemimpin. Suatu kecendrungan yang dapat menjadi kebanggaan si pemimpin tetapi kurang menolong komunitas karna tidak menghidupkan daya yang lebih besar bagi kepentingan kemajuan dan kebaikan komunitas.Daya besar di kalangan massa cendrung dinina-bobokan. Selain itu, dominasi sejarah seperti ini tidak memenuhi unsur-unsur keadilan. Kebenaran riil adalah bahwa masing-masing orang mempunyai sejarah (ruang dan waktu) yang dijalaninya. Intervensi pengaruh dari sipemimpin ke dalam sejarah dari yang dipimpin bukan satu-satunya faktor yang membuat seseorang yang dipimpin berkarya dengan baik, menemukan jalan keluar atas persoalan riil yang dialami bahkan berhasil untuk membangun diri. Ada saja kemampuan penyesuaian diri dari rakyat atau mereka yang dipimpin dalam menjalani sejarahnya yang nampak pada geliatnya dalam situasi tertekan dan penuh tantangan. Massa atau rakyat yang dipimpin juga terus  belajar dari pengalaman hari kemarin untuk membangun strategi hari esoknya. Suatu kondisi kemanusiaan rakyat yang membuat mereka bertahan dan bukan semata-mata hasil kinerja si pemimpin.Kemampuan rakyat seperti ini juga mesti diperhitungkan dan dicatat dalam rekonstruksi sejarah. Tanpa itu, yang terjadi adalah pencaplokan dan dominasi sejarah untuk pembenaran diri dan pengokohan kepemimpinan belaka. Laporan-laporan dari si pemimpin dalam bidang apa saja banyak kali mempunyai sisi lemah seperti ini, justru karna pendekatan kita yang sangat elitis dalam melihat gejala kepemimpinan. Kalaupun dalam kenyataannya pengaruh si pemimpin begitu efektif dan dominan, kontribusi dari unsur yang dipimpin tidak dapat dinegasikan begitu saja. Kenyataan ini kadang diabaikan. Dengan demikian ketidak-jujuran mengungkap sejarah dan ketidak-mampuan menegakkan kebenaran sejarah sudah saatnya mendapat koreksi. Apalagi dalam era dimana pemberdayaan rakyat menjadi salah satu tema pergumulan kita. Sinergitas untuk menemukan daya yang lebih besar dapat terjadi bila kita jujur dalam pola kepemimpinan yang kita bangun. Kedua: Pemaknaan yang keliru mengenai kepemimpinan begitu terasa bila dimerosotkan semata-mata sebagai power holder atau penguasa. Dalam konsep penguasa, seorang pemimpin senantiasa berada di atas dan mengatur segala sesuatu yang berada di bawah kekuasaannya. Untuk itu ia berusaha setiap saat dengan segala cara agar tetap berada di atas sebab ,baginya, hanya dengan demikian kepenguasaannya tetap berlaku. Upaya penguatan posisi dengan membangun kubu pendukung, akan membuat penguasa lebih banyak melihat kepentingan golongan pendukung dan membabat kekuatan kelompok lain lebih khusus kelompok yang dianggap lawan.Kepentingan nasional atau kepentingan yang lebih luas, baru menjadi pertimbangan paling kemudian setelah terjadi kegoncangan tertentu. Berdasarkan konsep dan pemahaman kepemimpinan yang benar, seorang pemimpin harus mampu menjadi pemimpin dan pada gilirannya harus siap untuk bertukar tempat menjadi yang dipimpin. Bila proses ini berjalan baik dalam ketulusan, ia bahkan menempati posisi sebagai sumber moralitas (moral force). Skenario dari pemahaman seperti ini yang telah berupaya dimainkan secara relatif baik oleh Cory Aquino dalam sejarah Pilipina atau Nelson Mandela dalam sejarah Afrika Selatan. Mereka lengser bukan karna sistim dan aturan atau menjadi korban percaturan politik tetapi karna kemauan sendiri dengan terlebih dahulu menciptakan sistim dan aturan untuk pemimpin-pemimpin berikutnya.  Di sini yang berlaku adalah prinsip bahwa pemimpin yang baik adalah pemimpin yang dapat melahirkan dan memberi kesempatan pemimpin yang lain. Tuntutan kepemimpinan yang baik seperti itu sangat mustahil diwujudkan ketika konsep kepemimpinan dimerosotkan maknanya menjadi sebatas penguasa.Ketiga: Kita melihat dan memberlakukan Leadership dalam maknanya sebagai  things. Kita kurang melihatnya sebagai relation ship yang menghubungkan pemimpin dan yang dipimpin.  Kepemimpinan yang lebih cendrung dimerosotkan sebagai penguasa itu juga dilihat sebagai properti. Dalam pengertian seperti itulah setiap orang berusaha menggenggamnya seerat mungkin dan setiap pemimpin takut kehilangan dan karna itu akan mempertahankannya dengan berbagai cara untuk tetap memilikinya. Upaya membangun dinasti kekuasaan boleh jadi hanyalah upaya mengelak dari sistim untuk tetap berada dalam semangat ini.Dalam konteks seperti inilah kita menyaksikan betapa sulitnya seorang pemimpin di negeri ini hidup tanpa menduduki posisi sebagai pemimpin formal. Akibatnya kita melihat seseorang yang tergantikan dari jabatan atau kedudukan dari sebuah organisasi lantas berusaha membangun organisasi baru agar tetap dapat mengukuhkan dirinya sebagai pemimpin. Dalam kaitan dengan inilah hadir juga  apa yang disebut Post Power Syndrome. Dari logika ini jelas kebutuhan mendasar bagi seorang  pemimpin adalah belajar kembali untuk menjadi pengikut atau yang dipimpin. Sekalipun ini terbalik, meminjam kalimat Emha Ainun Najib beberapa tahun lalu, mestinya mereka yang menjadi pemimpin adalah mrreka yang telah berhasil atau lulus menjadi rakyat yang baik.  Kesulitan untuk hidup sebagai pengikut semata-mata disebabkan karna kepemimpinan telah dimengerti dan dipraktekan sebagai properti dan dimerosotkan artinya menjadi penguasa.Keempat: Fenomena kepemimpinan dilihat dari sudut pandang tendensi sosio-politik akhir-akhir ini, terutama di negara tercinta ini adalah bahwa rakyat atau mereka yang dipimpin merindukan sahabat dan teman, suatu relasi yang lebih egaliter sesuai dengan spirit demokrasi dalam perjuangan mengatasi persoalan kehidupan. Bukan penguasa yang terkesan feodalistis. Kebesaran pemimpin, dengan demikian, tidak dilekatkan pada jabatan yang disandang dan fasilitas yang diperoleh yang malah membuat jarak antara pemimpin dan yang dipimpin melainkan pada jiwa sipemimpin untuk mampu memposisikan diri dimana saja dalam memberikan sentuhan (touch) kemanusiaan tanpa canggung karna kekerdilan jiwa. Upaya melekatkan kebesaran pada jabatan dan fasilitas hanya akan menimbun kesan otoriter dan korup. Bila esensi dari kekuasaan  yang dikelolah secara baik adalah pelayanan maka yang besar adalah mereka yang mempunyai spirit pelayan, mereka yang mempunyai kebesaran jiwa untuk melayan tanpa diskriminasi. Seseorang tidak dapat bersentuhan dalam pelayanan terhadap orang yang dianggapnya kecil bila ia tidak mempunyai kebesaran jiwa untuk sedikit menanggalkan kekuasaan demi kemanusiaan. Sebaliknya, seseorang tidak dapat menjangkau orang yang dianggapnya sangat besar, bila ia tidak mempunyai kebesaran jiwa untuk memandangnya sebagai manusia yang setara. Berdasarkan faktor keberanian mendengarkan nurani diri seperti yang diungkapkan Herry Tjahjono (Kompas, Selasa 28 April 2015), tentang kepemimpinan konsensus dan kepemimpinan kontributif,  kepemimpinan saat ini sedang bergerak dari kepemimpinan konsensus menuju kepemimpinan kontributif.

Beberapa Jalan Keluar:Berhadapan dengan kondisi pemimpin seperti ini, sudah saatnya masyarakat semakin kritis dengan daya koreksi besar terhadap penyelewengan atau penyimpangan oleh pemimpinnya. Untuk menumbuhkan masyarakat seperti itu diperlukan beberapa hal. Pertama  Adanya kesadaran berpolitik dan berorganisasi yang baik dan sehat. Kedua: Tingkat intelektual masyarakat bawah mesti didongkrak melalui berbagai cara untuk menjadi tinggi agar dapat kritis terhadap berbagai aturan. Ketiga: Tingkat kemandirian sosial ekonomis dari yang dipimpin mesti cukup independen terhadap kelas atasan yang memimpin. Keempat: Penyadaran tentang hakekat kekuasaan mesti terus diberikan atau didalami.Tanpa keempat hal ini tidak dapat diharapkan adanya daya kritis dan daya koreksi terhadap penyelewengan dan penyimpangan pemimpin. Sebaliknya juga, dalam meningkatkan kualitas kepemimpinan di negeri kita, keiklasan pemimpin untuk melepaskan arogansi dan siap menerima koreksi dengan lapang dada demi suatu format kepemimpinan yang lebih baik dan lebih beradab mungkin adalah juga jawabannya.Keengganan untuk melepaskan arogansi apalagi bila organisasi itu menyimpan dengan rapi pemahaman yang keliru tentang pemimpin dan kepemimpinan bagaimanapun akan menghilangkan figur panutan si pemimpin. Lebih celaka lagi bila ditambah dengan sifat, sikap dan kecendrungan membangun mekanisme bela diri yang pada dasarnya lebih menutupi persoalan  daripada menyelesaikannya plus main lempar tanggungjawab dan kesalahan kepada orang lain. Inovasi model kepemimpinan yang efektif dan efisien bagi kemanusiaan yang disentuh melalui praktek kepemimpinan sangat penting diberi perhatian. (*)

Click to comment

Most Popular

To Top