Penjelajah Dunia Kritisi Infrastruktur Pariwisata SBD – timorexpress.fajar.co.id

timorexpress.fajar.co.id

SUROSA

Penjelajah Dunia Kritisi Infrastruktur Pariwisata SBD

PENJELAJAH. Budi Chontrador Chandra (tengah) pose bersama beberapa warga Tambolaka di Waitabula, Senin (11/9)

FEKY BOELAN/TIMEX

TAMBOLAKA, TIMEX – Budi Chontrador Chandra, 32, pemuda asal Jakarta yang menghabiskan waktunya untuk menjelajahi dunia menggunakan sepeda, sangat terkesan dengan alam pulau Sumba, khususnya Sumba Barat Daya.

‎”Alam Sumba khususnya Sumba Barat Daya sangat indah, budayanya luar biasa. Namun yang menjadi kesan dan kenangan yang tidak bisa saya lupa adalah infrastrukturnya perlu diperbaiki,” kata Budi kepada Timor Express di Tambolaka, Senin (11/9).

Dikatakan, dia sudah berada di pulau Sumba selama 15 hari dan sudah mengelilingi empat kabupaten di pulau Sumba. Dia termotivasi ke Sumba karena budaya yang masih sangat kental dan padang savana yang sangat indah‎. Selain itu, dia selalu mendengar sebuah objek wisata danau Weekuri, yang membuat dia tertarik untuk datang ke pulau Sumba.

“Saya sudah ke danau Weekuri dan sejumlah tempat wisata lainnya dan saya sangat menikmati keindahan alam disitu, indah dan luar biasa. Tapi sayangnya infrastruktur masih belum bagus. Pemkab perlu untuk membenahi, supaya menambah daya tarik wisatawan dan bloger-bloger untuk datang,” ungkapnya.

Diakui, dirinya telah mengunjungi delapan negara yang ada di dunia, diantaranya Cina, Thailand, Laos, Vietnam, Kamboja, Malaysia, Singapura dan Indonesia. Hobinya telah dilakukan sejak tahun 1990.

‎Dijelaskan, alasan bersepeda mengelilingi dunia karena dengan bersepeda mempermudah interaksi dengan seksama dan tentu sehat. “Dengan bersepeda kita akan mudah berjumpa dan berinteraksi dengan semua orang, tidak kalah penting kita akan sehat selalu. Kalau menggunakan motor dan mobil, menurut saya itu agak sulit untuk berinteraksi dengan sesama,” ujarnya.

‎Ditanya berapa biaya yang dibutuhkan selama perjalanannya, Budi mengaku selama ini biaya perjalanannya ditangung sendiri, walau pernah ditawari anggaran saat berkunjung ke luar negeri oleh pemerintah, namun dia menolak.

“Selama ini saya pakai dana pribadi. Pernah saya ditawari saat berkunjung di luar negeri banyak bantuan dari pemerintah, namun saya tolak. Kalau bicara makan minum saya di perjalanan pernah makan tokek, makan jangkrik dan pungut singkong di jalan untuk makan malam. Ya, itu karena saya kekurangan dana. Saya lebih memilih tidur di hutan, makan di hutan, pokoknya semua aktivitas di hutan dan itu sangat menyenangkan,” urainya.‎

Ditambahkan, barang bawaan selama mengelilingi dunia menggunakan sepeda seberat 50 kilogram dengan rincian, peralatan masak, beras, air, selimut dan alat-alat sepeda‎. (r1/ays)

Click to comment

Most Popular

To Top